Itaewon: Sisi Pluralitas Penduduk Seoul

masjid itaewon

Hai, manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Allah ialah orang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. Al-Ĥujurāt [49]: 13)

Pesan ayat tersebut pastinya tidak sederhana. Untuk memperoleh pemahaman yang pasti, sesuai latar belakang ayat itu diturunkan, bagaimana tafsir gramatikal dan tafsir filosofis dari ayat tersebut hanya dapat diperoleh dari sumber yang berkapasitas tidak sembarangan.

Sekedar menyiratkan setetes makna, apa yang diinspirasikan ayat tersebut dapat saja tersebar di setiap orang. Hal itulah yang sempat terpotret dari suatu perjalanan di Itaewon. Kiranya di salah satu distrik dari Seoul, Korea Selatan ini dapat ditemukan butran-butiran makna dari tujuan munculnya ayat tersebut.

Itaewon merupakan salah satu distrik di sebelah Utara sungai Hangang yang membelah Ibu Kota Korea Selatan. Di Distrik ini terdapat masjid terbesar yang ada di Korea Selatan. Dikatakan terbesar, karena masjid yang dalam katalog wisata Pemerintah Korea disebut Grand Mosque ini memang terbesar di antara beberapa masjid dan Islamic Center yang terdapat di Korea Selatan, termasuk yang terdapat di Suwon. Tentunya kurang tepat kalau membayangkan ukuran masjid ini sebesar masjid raya Bandung, terlebih lagi Istiqlal.

Sekedar spekulasi, mungkin akar sejarah kebudayaan Islam di tempat ini tidak sepopuler dan sepanjang yang ditemukan di negeri-negeri minoritas muslim lainnya, seperti di Rusia, China, Spanyol, maupun Inggris. Penulis belum menelusuri sejak kapan komunitas Muslim di Korea Selatan datang dan menyebar, hanya saja tempat ini telah tampak ditawarkan oleh beberapa penyelenggara agen perjalanan wisata. Termasuk di beberapa situs, seperti islamic finder, terdapat tulisan yang menyarankan setiap Muslim yang datang ke Korea Selatan untuk melaksanakan sholat, sedikitnya sekali di Mesjid ini.

Awalnya motivasi itulah yang mendorong penulis untuk mengunjungi Grand Mosque, dengan memilih hostel yang berdekatan dengan lokasinya. Ekspektasi itu ternyata terpenuhi. Banyak kemudahan ketika berkunjung hanya beberapa hari, terutama ketika mencari halal food. Sebutlah Turkish Kebab, Little Indian, Turkish Icecream, Muree Moslem Korean Food, Halal Bakery, bahkan masakan Indonesia di kedai yang bernama Siti Sarah. Selain kepuasan ketika menemukan mesjid di tempat minoritas Muslim, terdapat pula Islamic Center dan Islamic Bookstore, yang juga menjual alat-alat sholat.

Tidak kalah mengesankan adalah di selasar Grand Mosque terdapat rak untuk memasang flyer dan buku-buku keislaman berbahasa Korea, yang dapat diperoleh secara cuma-cuma. Alasan yang disebutkan oleh brother yang menjaga toko tersebut memiliki arti yang sangat dalam: “because the sky is high, Sist.”. Penulis masih belum mengerti, “What a deep meaning?”, sampai dia katakan bahwa kadang untuk membeli buku yang belum tentu orang menaruh ketertarikan terhadapnya, terlalu mahal untuk dibeli. Ini upaya untuk mempermudah, sebagian yang menjadi koleksi Kami, disimpan untuk dapat dibaca secara gratis.

Budaya menebar pengetahuan melalui selebaran-selebaran mungkin memang sudah dilakukan di banyak tempat. Di sini pun, buletin Jumat atau buletin bulanan yang diterbitkan oleh mesjid-mesjid sudah sering dilakukan. Begitu pula katalog-katalog yang relevan dengan tujuan kunjungan tertentu, seperti museum, banyak pula ditemukan. Bedanya, mungkin dengan tingkat kemampuan keuangan yang lebih, bentuk-bentuk sosialisasi tersebut bukan lagi berbentuk selebaran, melainkan buku-buku, baik yang tipis, maupun yang tebal. Kebiasaan itu pula yang dapat ditemukan misalnya di Seoul Metropolitan Library, di mana terdapat selain buku panduan bagi pengunjung, juga terdapat komik dan pedoman pelayanan publik. Kembali ke eksistensi Muslim di Itaewon, interaksi dengan penduduk lokal pun dikabarkan tidak terdapat masalah. Bahkan kumandang Adzan pun dapat terdengar dari luar bangunan Mesjid. Itulah salah satu yang mereka syukuri. Penyediaan pengajaran Bahasa Arab pun tidak mengalami kendala. Dengan demikian Islamic Center dikatakan cukup aktif.

Menyebut bahwa di Itaewon merupakan tempat komunitas muslim kemudian rasanya tidak cukup. Karena dalam suatu panduan wisata di Seoul, area ini dikenal bukan karena komunitas muslimnya, melainkan karena multikulturalnya. Apa yang dibutuhkan muslim secara individu, secara minimal sudah ditemukan. Selain itu, mengapa dikenal sebagai area multikultural, ditemukan pula komunitas-komunitas lainnya. Hostel bagi para backpackers yang saya tempati, contohnya, dikelola oleh beberapa pemuda asal Serbia. Para pengunjung hostel yang sempat saya temui pun, ada yang berasal dari Mesir, Afro America, teman-teman dari Malaysia, Cina, dan bule-bule lainnya. Yang menandai bahwa tempat ini berwarna dengan berbagai kebiasaan, di satu tempat ada halal food, di sebelahnya ada klub malam. Seringkali orang asing menginap di salah satu hostel hanya setiap akhir pekan, supaya dapat lebih mudah mengunjungi pub sampai Minggu pagi. Orang boleh keluar pagi dari pub dengan mabuk-mabuk dan ngoceh di jalan, asal tidak mengendarai.

Apa yang diungkapkan di atas, bukan dimaksudkan untuk dengan mudah mengenal kebiasaan-kebiasaan yang rentan itu, tapi yang menarik adalah bagaimana pluralitas itu diberi tempat. Beberapa pihak mengisi keadaan itu dengan membuka Foreigner Market, banyak tempat-tempat penukaran uang, bank khusus untuk foreigners yang buka setiap hari sepanjang tahun, dekat dengan fasilitas pendidikan, dekat dengan kantor polisi, maupun halte bis tempat shuttle bus ke Incheon Airport. Tempat penginapan yang variatif, sudah jelas. Yang hendak penulis katakan di sini adalah bahwa ekspresi mengenal keadaan yang plural tersebut diwujudkan dengan pemenuhan berbagai fasilitas, bahkan tanpa dirasakan oleh penduduk lokal sendiri sebagai sebuah ancaman eksistensi.

Apa yang dapat dipelajari secara individu dengan pemetaan seperti itu? Pilihan untuk membentuk diri sangat jelas, apakah seseorang hendak mendekatkan dirinya dengan kebiasaan spiritual, berdagang, melancong, hura-hura, relatif tidak terhalang. Yang menjadi modal adalah pastikan diri cukup dewasa untuk mengendalikan diri dan ikatlah diri dalam suatu komunitas. Jika tidak, hal itu cukup berisiko.

Penulis : Inna Junaenah

REKOMENDASI

Leave a Comment