Menerima Pemberian Makanan Dari Non Muslim

 

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, saya mempunyai saudara non muslim yang sangat baik dan kita sering jalan-jalan bersamanya serta makan bersama. Dia juga sering ke luar negeri dimana saat pulang saya sering dibelikan baju ataupun barang-barang lainnya tanpa saya pesan. Bolehkah saya menerima barang-barang tersebut dan bagaimana status hukumnya?. Mohon penjelasannya dan terima kasih. ( Icha by email)

 

 

Wa’alaykumsalam Wr Wb. Iya teh Icha dan sahabat sekalian, sebagai makhluk sosial kita bukan hanya bergaul atau berteman dengan sesama muslim namun juga dengan yang non muslim. Dalam Islam kita tidak dilarang berteman dengan non muslim selama tidak terlibat dalam masalah akidah maupun urusan ibadat lainnya.

Menurut hemat saya dalam hal ini Anda boleh menerima pemberian kawan atau saudara Anda yang non muslim tersebut selama masih berhubungan dengan urusan duniawi dan tidak dikaitkan dengan ritual peribadatan agama mereka. Misalnya, bibi Anda yang non muslim menghadiahi Anda sebuah baju, Anda boleh memakainya. Atau, Anda boleh makan bareng kawan Anda yang non muslim selama makanan itu tidak mengandung zat yang diharamkan dalam ajaran Islam. Intinya, selama yang dia berikan itu halal menurut ajaran agama kita, hal itu boleh diterima.

Namun, jika dihubungkan dengan ritual agama mereka, barang-barang yang tadinya halal menjadi haram. Misalnya, kawan Anda sedang merayakan Natal, lalu ia menghadiahi Anda banyak makanan, maka makanan-makanan ini menjadi haram jika dikaitkan atau bagian dari ibadat mereka. Bisa juga makanan tersebut masih diragukan kehalalannya maka Anda tidak boleh menerima atau memakannya.

 

banner almuasir

 

Islam memberikan aturan main dalam bergaul dengan non muslim, khususnya dalam masalah akidah. Kita dilarang mencampurkan antara ibadah dan pergaulan. Misalnya, dengan dalih toleransi, kita datang ke acara Natalan seorang kawan. Itu haram hukumnya. Karena berarti kita telah mencampurkan ajaran Islam dengan Nashrani. Ini haram, karena ada ayat yang mengatakan,

Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (Q.S. Al Kafirun 109: 6)

Inilah yang disebut toleransi dalam agama kita, jadi bukannya mencampuradukkan ibadah. Dan apabila kita bergaul bersama mereka, kita tetap harus tetap bersikap adil, sama halnya bersikap adil terhadap sesama muslim. Al Quran mengatakan,

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Maidah 5: 8).

 

Jadi sekali lagi selama pemberian tersebut sifatnya kasih sayang sesama manusia dan tidak disertai dengan niat atau tujuan bagian dari peribatannya maka boleh Anda menerimanya. Terkait dengan pemberian makanan termasuk oleh-oleh jika ia dari luar negeri,misalnya maka Anda harus pastikan bahwa itu adalah halal. Sebab bisa jadi dalam keyakinan atau agama mereka makanan atau benda-benda tersebut biasanya namun dalam Islam bisa jadi haram, misalnya Anda diberi oleh-oleh jam tangan . Ini bisa jadi halal namun bisa jadi haram jika tali jam tangan tersebut terbuat dari kulit Babi, misalnya. Demikian juga untuk jenis makanan yang lainnya. Untuk itu bersikaplah proposional, karena sikap ini lebih dekat kepada ketakwaan. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam. [ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

REKOMENDASI

Leave a Comment