MUI Sesalkan Sembilan Seruan Menag Terkait Ceramah di Rumah Ibadah

ulama-mui

PERCIKANIMAN.ID — Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejatinya sangat mendukung seruan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin soal ceramah di rumah ibadah yang harus disampaikan oleh ahli agama, sehingga tidak ada ujaran kebencian. Namun, MUI menyayangkan dengan dikeluarkannya sembilan seruan menag karena di dalamnya tidak ada tekanan tentang pentingnya keimanan.

“Namun sayang dalam sembilan seruan itu tidak menekankan tentang pentingnya keimanan dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa,”  kata Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis seperti dilansir republika.co.id, Selasa (1/5).

Padahal, menurut dia, jika ceramah ditujukan untuk meningkatkan keimanan dan kesalehan, maka rumah ibadah akan berfungsi sebagai agen perubahan dan peradaban Islam. Karena itu, ia meminta agar Kemenag tidak berhenti pada sebatas seruan itu saja.

“Selayaknya pemerintah tidak berhenti sampai pada seruan saja tetapi harusnya ada regulasi dan sanksi bagi yang tidak patuh pada peraturan berbangsa dan bernegara,” kata Ketua Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Seperti diketahui, sebelumnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan seruan terkait ceramah di rumah ibadah. Seruan ini disampaikan Menag di Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin nomor 6, Jakarta, Jumat (28/04) lalu.

promooktober1

Seruan tersebut disampaikan dalam rangka menjaga persatuan dan meningkatkan produktivitas bangsa, merawat kerukunan umat beragama, dan memelihara kesucian tempat ibadah. Seruan yang ditandatangani Menag itu juga diharapkan agar diperhatikan, dimengerti, dan diindahkan oleh para penceramah agama, pengelola rumah ibadah, dan segenap masyarakat umat beragama di Indonesia.

Berikut sembilan poin disampaikan Menag terkait seruan ceramah di rumah ibadah:

  1. Disampaikan penceramah yang memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama, yakni melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia.
  1. Disampaikan berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai dan bersumber dari ajaran pokok agama.
  1. Disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun dalam ukuran kepatutan dan kepantasan, terbebas dari umpatan, makian, maupun ujaran kebencian yang dilarang oleh agama mana pun.
  1. Bernuansa mendidik dan berisi materi pencerahan yang meliputi pencerahan spiritual, intelektual, emosional, dan multikultural. Materi diutamakan berupa nasihat, motivasi, dan pengetahuan yang mengarah kepada kebaikan, peningkatan kapasitas diri, pemberdayaan umat, penyempurnaan akhlak, peningkatan kualitas ibadah, pelestarian lingkungan, persatuan bangsa, serta kesejahteraan dan keadilan sosial.
  1. Materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan empat konsensus bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
  1. Materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.
  1. Materi yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan, penodaan, dan/atau pelecehan terhadap pandangan, keyakinan dan praktek ibadah antar/dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis, dan destruktif.
  1. Materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan/atau promosi bisnis.
  1. Tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku terkait dengan penyiaran keagamaan dan penggunaan rumah ibadah.

Seruan ini diharapakan dapat diperhatikan, dimengerti, dan diindahkan oleh para penceramah agama, pengelola rumah ibadah, dan masyarakat. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: mui.org

REKOMENDASI

Leave a Comment