Menikah Hanya Karena Nafsu

Pengantin

 

Assalamu’alaykum. Banyak penceramah atau mengatakan bahwa kita menikah harus karena Allah. Bagaimana hukumnya kalau  kita menikah dengan niat  memenuhi kebutuhan biologis (nafsu) semata ? Apakah pernikahan tersebut sah? Mohon penjelasan  pak Ustadz dan terima kasih. (Wahyu by email)

 

 

Wa’alaykumsalam wr wb. Iya kang Wahyu dan pembaca sekalian, kita harus pahami bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan  dengan fitrah manusia. Manusia selain di anugerahi rasa cinta dan kasih sayang juga diberi nafsu. Dorongan seks atau libido adalah bagian dari nafsu yang ada pada diri manusia. Untuk menyalurkan libido tersebut, Islam membuka gerbang yang disebut pernikahan. Dalam Islam, hubungan seks yang dilakukan oleh suami istri dipandang sebagai ibadah.

Dengan pernikahan kita belajar mendewasakan diri. Bila sebelumnya seseorang hanya belajar mengatur diri sendiri, setelah menikah ia mesti belajar mengatur suatu kerja tim yang sederhana, yaitu keluarga.

Dalam keluarga, seseorang belajar hal baru yang disebut tenggang rasa, berbagi, dan memberi. Mempertahankan suatu pernikahan sama maknanya dengan berpuasa, yaitu menahan diri dari nafsu-nafsu yang buruk seperti egois dan mementingkan diri sendiri. Ditinjau dari sisi Agama, setidaknya ada tiga arti penting pernikahan.

Pertama, pernikahan punya arti berkomitmen untuk berubah.

kalender percikan iman 2018

Artinya berubah untuk menjadi lebih dewasa.   Kalau pada periode  anak-anak dan remaja, kita lebih mengedepankan unsur hak, saat usia makin bertambah unsur kewajiban ditingkatkan sedikit demi sedikit. Remaja tentunya memiliki kewajiban lebih besar daripada anak-anak. Demikian pula seorang dewasa. Ia memiliki kewajiban yang lebih besar daripada remaja. Pernikahan merupakan titik di mana unsur kewajiban akan berubah dominan. Pada pernikahan diharapkan tercipta komitmen untuk menjadi dewasa, di mana unsur kewajiban akan menjadi lebih menonjol dibandingkan dengan tuntutan akan hak.

Kedua, sebagai penyempurnaan agama.

Menilai bahwa menikah adalah bagian dari agama. Di dalam Al Quran kita temukan banyak aturan mengenai pernikahan. Hal ini menunjukkan betapa Islam begitu mementingkan arti pernikahan. Alangkah baiknya bila pernikahan digunakan sebagai sarana untuk mematangkan derajat keagamaan kita. Karenanya, aturan-aturan agama mesti disosialisasikan dan dibahas terlebih dahulu  pada pasangan yang akan menikah.

Ketiga, mencari ridho Allah Swt.

Harus diingat bahwa saat mencari rido Allah, di samping kebahagiaan yang didapat, akan banyak juga cobaan dan godaan. Pernikahan yang mulus, indah, menyenangkan, merupakan sarana menuju surga. Bahkan  pernikahan yang sangat buruk (misalnya pasangan suka berjudi, mabuk-mabukan, dan melakukan hal-hal buruk lainnya), adalah juga jalan menuju surga bila hal itu disikapi dengan benar, sabar dan lapang dada.

Bertolak dari analisis di atas jelaslah bahwa kalau Anda menikah   hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, maka pernikahannya sah. Tetapi sangat disayangkan karena ada sisi-sisi pernikahan yang begitu agung dan mulia menjadi terbaikan. Apabila sisi-sisi yang agung ini terabaikan, dikhawatirkan pernikahan tersebut menjadi hampa tanpa makna. Inilah barangkali yang bisa kita pahami makna pernikahan bagi seorang yang beriman dengan orang-orang non-muslim.

Untuk pembahasan lebih luas Anda dapat membaca buku saya bersama dr.Untung Santosa yang berjudul ”  CINTA & SEKS RUMAH TANGGA MUSLIM. Didalamnya kami bahas lebih mendatail baik dari sisi fisik, psikis maupun spiritual sehingga unsur-unsur keharmonisan rumah tangga terpenuhi. Anda juga bisa menghubungi hotline 0811-2202-496 untuk mendapatkannya. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam. [ ]

Buku-cinta-seks-rumah-tangga-muslim

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 276 times, 7 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment