Cara Menjadi Makmum Masbuk Bagi Wanita

Muslimah Shalat

 

Assalamu’alaykum, Pak Aam, bagaimana cara wanita bermakmum masbuk kepada imam laki-laki, apakah harus sama menepuk punggung imamnya ? Mohon penjelasannya dan terima kasih. ( Anne by email)   

 

 

Wa’alaykumsalam wr wb. Iya ibu Anne dan pembaca sekalian, sebenarnya untuk masbuk itu tidak dianjurkan menepuk pundak imam untuk memberitahu bahwa kita bermakmum kepadanya. Untuk memberitahu bahwa kita masbuk menjadi makmumnya, kita bisa berdiri di sebelah imam kemudian takbir agar diketahui imam.

iklan donasi pustaka2

Demikian juga bagi wanita yang akan bermakmum kepada imam laki-laki, juga tidak perlu menepuk pundak imam, cukup takbir saja yang keras supaya imam mengetahui anda menjadi makmumnya. Namun, harus tetap lihat kondisi terlebih dahulu, jikalau memungkinkan situasinya maka diperbolehkan, karena biasanya tempat shalat perempuan dan laki-laki itu dipisahkan yakni imam laki-laki di depan sementara makmum perempuan di belakang.

Selain itu biasanya tempat shalat laki-laki dan perempuan ada hijab atau penghalang. Menurut hebat saya kalau tempatnya memungkinkan maka diperbolehkan bermakmum kepada laki-laki. Namun  jika tidak memungkinkan maka dianjurkan shalat masing-masing saja. Apalagi jika laki-laki tersebut bukan muhrimnya maka sebaiknya shalat sendiri-sendiri saja.

Terkait dengan jumlah atau batas rakaat kita dianggap tertinggal (masbuk) maka setidaknya ada dua pendapat yang bisa dijadikan pegangan

Pendapat pertama, menyatakan bahwa jika yang masbuk itu sempat mendapati ruku (sempat melaksanakan ruku), dia dinilai mendapat satu rakaat. Dasar dari pendapat ini merujuk pada hadis Rasulullah Saw. bersabda,

Apabila kamu hendak salat dan kami sedang sujud, sujudlah dan jangan kamu hitung satu rakaat, dan barang siapa yang mendapati ruku, berarti dia mendapat satu rakaat dalam salat.” (H.R. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a.).

Pendapat kedua, menyatakan bahwa satu rakaat itu dihitung bukan mendapatkan ruku, tetapi bisa menamatkan Surah Al-Fatihah. Kalau tertinggal Al-Fatihah, dia dianggap telah tertinggal satu rakaat. Hal ini berdasar pada dalil tentang wajibnya membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat, seperti dijelaskan dalam riwayat berikut.

Rasulullah Saw. bersabda kepada Abbas, “Wahai pamanku, salatlah empat rakaat dengan membaca Al-Fatihah di setiap rakaatnya” (H.R. Tirmidzi dari Abu Rafi’ r.a.).

Berdasarkan hal itu maka kedua pendapat tersebut memiliki alasan atau dalil yang kuat masing-masing. Untuk itu, silakan Anda pilih di antara dua pendapat itu yang paling meyakinkan dengan saling menghargai dan tidak saling menyalahkan satu sama lainnya.

Untuk lebih detail atau jelasnya Anda bisa membaca buku saya yang berjudul SUDAH BENARKAH SHALATKU” . Dalamnya insya Allah saya bahas lebih rinci dan disertai dengan penjelasan dalilnya. Jika kesulitan mendapatkan di toko buku Anda bisa menghubungi costumer service di 0811-2202-496 . Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab. [ ]

Buku Sudah Benarkah Shalatku

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

(Visited 9 times, 6 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment