Kartini dan Makna Emansipasi

Muslimah Eropa 2a

 

Oleh: Riska Nursyafitri*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia khususnya kaum wanita atau perempuan selalu memperingati Hari Kartini. Sosok RA Kartini bagi  bangsa Indonesia direpresentasikan sebagai tokoh emansipasi bagi perjuangan wanita. Membicarakan masalah emansipasi yang dikaitkan dengan peran aktif wanita diranah publik selalu menarik untuk didiskusikan. Pro dan kontra adalah sebuah kewajaran atas argumentasi dari masing-masing pihak.

iklan donasi pustaka2

Sebagian orang berpendapat bahwa gelombang emansipasi  di mulai sekira abad 17 dimana dua wanita Amerika, Mercy Otis Warren dan Abigail Smith Adams yang merupakan isteri petinggi Amerika,menuntut hak pekerjaan dan hak pemilihan bagi wanita. Abigail Smith Adams yang merupakan isteri dari presiden kedua Amerika, dengan lantang menulis surat untuk suaminya pada waktu kongres seluruh Amerika guna menyusun Undang-Undang Dasar Negara Amerika. Surat tersebut berisi tuntutan, bukan hanya hak suara dan hak perwakilan, ia juga menuntut terbukanya gerbang sekolah bagi kaum wanita.

“Satu negara, yang mau menjelmakan pahlawan-pahlawan, ahli-ahli Negara dan ahli-ahli falsafah, haruslah mempunyai ibu-ibu cerdas di tempat-tempat yang terkemuka”, demikian sebagian tuntutannya.

Aksi keduanya tidak seratus persen berhasil.Namun cukup ampuh membuka jalan bagi kaum wanita mengenyam bangku sekolahan.Walaupun hak suara belum diberikan sepenuhnya di seluruh wilayah negara bagian Amerika.

Semangat perjuangan wanita-wanita Amerika ini sampai ke telinga wanita Perancis.Para wanita hartawan Perancis pun berontak, akhirnya dibuka jugalah sekolah-sekolah untuk wanita disana.Pendidikan sudah didapat, namun perihal politik masih menjadi hal tabu dikalangan wanita.Tidak hanya diam, wanita-wanita hartawan itu kembali mengadakan aksi dengan menyebarkan brosur-brosur, surat-surat tuntutan agar wanita diberi hak menjadi anggota Majelis Perwakilan.

Namun ternyata, gerakan wanita tersebut tidak benar-benar diperuntukkan bagi keseluruh kaum wanita. Wanita hartawan menuntut bagi kalangannya. Sedangkan wanita proletar tetap harus berjuang membela kepentingannya sendiri.

Emansipasi di Indonesia

Gelombang emansipasi juga melanda Indonesia dengan RA Kartini yang dianggap sebagai pelopornya. Namun, pergerakan emansipasi wanita di Indonesia mungkin belum sederas dan kebablasan seperti di negara-negara barat apalagi negara pengusungnya, Amerika. Lihat saja dunia barat saat ini, penyamarataan peran membuat tidak adanya pemisah antara pria dan wanita yang seharusnya sangat dijaga. Apabila pria dapat pulang larut malam, wanita pun bisa pulang larut malam. Mirisnya lagi bila yang biasa terdengar adalah istilah pria hidung belang, saat ini wanita bisa dengan bangganya menyebutkan berapa “mantan” yang ia punya. Wanita seakan bangga dengan gaji beasar yang didapat dan rela begitu saja menitipkan anaknya pada orang lain. Bukan tidak mungkin wanita Indonesia akan terjerumus kedalam emansipasi kebablasan seperti yang ditawarkan barat.

Emansipasi wanita menegaskan bahwa wanita berhak menentukan kehidupannya sendiri.Namun anehnya, masih saja ada pekerjaan yang tidak membolehkan karyawannya memakai kerudung. Padahal hal tersebut adalah kewajiban wanita muslim dan merupakan hak seorang wanita melaksanakan keyakinannya. Yang semakin menyayat hati, masalah seperti itu tidak banyak mendapat tanggapan dari para aktivis emansipasi.

Tidak ada yang salah dengan wanita yang memilih berkarir diluar rumah (working mom) .Yang kurang tepat, apabila wanita menempatkan karir sebagai suatu pencapaian utamanya. Zaman yang sudah maju dengan beragam pemikiran sekarang ini nyatanya masih ada saja yang menganggap, seorang wanita yang memutuskan untuk tidak bekerja (full time mom) adalah wanita yang bodoh, tidak bisa apa-apa, bahkan disebut pemalas. Padahal urusan rumah tangga yang dilakukan wanita bukanlah hal yang mudah.Peran wanita dalam keluarga adalah peran yang paling krusial. Perlu kita pahami bahwa lahirnya keluarga yang berkualitas ada tangan dan kasih sayang dari wanita (ibu) yang hebat. Polemik antara working mom atau full time mom tidak perlu diperdebatkan jika masing-masing pihak dapat memahami kelebihan dan kekurangannya. Kemuliaan seorang wanita bukan diukur hanya dari dua sisi (working mom atau full time mom).

Islam dan Emansipasi 

Dalam Islam, pria dan wanita kedudukannya setara. Pria dan wanita berhak mendapat pendidikan, bekerja, bahkan berperang. Walaupun bekerja banting tulang dan berperang bukan menjadi kewajiban. Banyak contoh wanita hebat dalam Islam.Mungkin yang paling bersahabat ditelinga kita adalah Siti Khadijah dan Siti Aisyah Radhiallahu anhuna.Khadijah merupakan seorang pebisnis ulung yang memiliki kedudukan di Mekkah.Aisyah, seorang wanita cerdas yang banyak menghafal hadist, pandai berpolitik dan berwawasan luas.Ada pula Fatimah, puteri Rasul yang ahli di bidang pengobatan.Lalu ada Nusayba binti Ka’b al-Ansariyya yang berperang bersama Rasul dalam perang Uhud. Masih banyak lagi para muslimah cendekia, negarawan, bahkan seorang sufi.

Islam menanamkan pemahaman bahwa pria dan wanita itu sama kedudukannya di sisi Allah. Namun peran masing-masing memang diciptakan berbeda. Tidak ada persaingan, pria dan wanita ada untuk saling melengkapi satu sama lain. Bahkan Allah SWT meninggikan kedudukan wanita dari pria.Islam sangat memuliakan peran wanita sebagai seorang ibu yang mendidik anak-anaknya (madrasatul ‘ula). Kebanggaan seorang wanita terletak pada seberapa pandai ia menciptakan keharmonisan rumah tangganya dan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya.

Ingatkah dengan ungkapan Rasulullah Saw ini: “Wanita adalah tiang Negara, apabila wanita itu baik maka Negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak, maka Negara akan rusak pula”. Meski sebagian kalangan menganggap hadis ini dhaif namun ungkapan tersebut mengandung makna yang dalam. Setidaknya ungkapan tersebut sudah menggema sebelum adanya emansipasi yang digaungkan Abigail Smith Adam. Pesan tersebut juga tersebut jauh lebih dalam maknya ketimbang emansipasi sekedar diartikan tampil dan berperannya wanita dihadapan publik.

Sebegitu penting peran wanita, sampai dapat menjadi penentu baik buruknya suatu negeri. Kenapa? Karena memang dari seorang wanitalah lahir sosok-sosok hebat, para pemimpin, dan penerus generasi.Bangsa sejahtera, bangsa yang didalamnya terdapat manusia-manusia berilmu dan berakhlakul karimah.Yang tidak bisa terlahir dan dididik selain dari tangan seorang wanita hebat pula.

Sebuah negara yang sejahtera akan tercipta bila pria dan wanita memahami perannya masing-masing. Tidak hanya wanita yang sekarang harus lebih paham akan kodrat dan peranannya, pria pun sama. Sudah semestinya memahami peranannya sebagai pria dan tahu bagaimana bersikap pada wanita dan tidak merendahkan martabat makhluk Tuhan paling indah itu.

Antara pria dan wanita memiliki peranan, ada peran yang memang seharusnya dilakukan oleh pria karena keadaan fisiknya yang lebih mendukung dari wanita.Ada juga peran yang hanya dapat dilakukan wanita, seperti mendidik anak dan memberikan kasih sayang juga memberi suasana nyaman pada keluarga.Pria dan wanita tidak seharusnya menciptakan persaingan menentukan siapa yang lebih baik.Pria dan wanita hidup beriringan, saling membutuhkan guna menciptakan keseimbangan.

Sejatinya tidak ada yang sia-sia bagi seorang wanita. Setinggi apapun pendidikan yang ia raih, tidak akan percuma bila pada akhirnya ia hanya diam di rumah. Karena pekerjaan tertinggi dan paling mulia baginya adalah menciptakan keluarga yang sakinah dan menjadikan anak-anaknya insan yang berguna bagi nusa, bangsa, terutama agama. Dalam sabdanya Rasulullah Saw berpesan:

Tidak ada pemberian orangtua kepada anak yang lebih utama daripada pendidikan yang baik” (HR.At-Tirmidzy).

Peran seorang wanita khususnya setelah menjadi seorang ibu sangatlah penting dalam pendidikan keluarga. Sudah menjadi rahasi umum jika anak-anak lebih lama bersama ibu ketimbang ayahnya. Melahirkan dan mendidik anak yang shalih dan shalihah adalah tanggung jawab bersama suami. Namun porsi ibu dalam rumah tangga khususnya mendidik dan mengasuh anak lebih besar. Pentingnya memiliki anak-anak yang shalih ini bukan sekedar “asset” di dunia saja melainkan hingga akhirat kelak. Coba kita perhatikan pesan Rasulullah Saw ini:

Jika seorang manusia meninggal dunia, putuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang shalih” (HR.Ahmad dan Muslim).

Kiranya inilah makna dari emansipasi yang hakiki bagi seorang wanita untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal shalih. Alangkah bijaknya jika peringatan Hari Kartini yang dilakukan dari anak-anak TK hingga pejabat Negara tidak sekedar dimaknai dari sisi fisiknya saja (busana dan segala aksesorisnya) melainkan dari semangat RA Kartini yang sebenarnya. Derajat kemuliaan dan kemajuan harkat martabat wanita bukan hanya dinilai dari lahirnya saja melainkan dari mental dan spiritualnya. Semoga kita kaum wanita dapat meneladani dan memaknai emansipasi yang hakiki. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah mahasiswa Fikom Unisba.

riska-nursyafitri-1

Editor: iman

Ilustrasi foto: anadalou

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected] atau: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment