Waspadai Hati Yang Berkarat ( Tafsir Q.S. Al Muthaffifin ayat 14 -28) bag. 2

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, catat­an orang-orang berbakti benar-benar tersimpan dalam ’Illiyyīn.     Tahukah kamu apakah ’Illiyyīn itu? Itulah Kitab berisi catatan amal, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan kepada Allah “ (QS. Al Muthaffifin: 18 -21)

Allah swt. menjelaskan bahwa catatan amal kebaikan orang-orang yang berbakti berada di ’Iliyyin. Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? Kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan.

’Iliyyin artinya tempat yang tinggi. Kata ’Iliyyin adalah kata jamak. Ini menunjukkan bahwa tempat tinggi tersebut bertingkat-tingkat, sesuai kadar bakti setiap orang yang juga bertingkat-tingkat. Catatan orang-orang yang banyak berbuat kebajikan akan ditempatkan di tempat tertinggi, alias ’Iliyyin. Ini merupakan penghargaan bagi orang-orang yang menggunakan umur dan kesehatannya untuk mengabdikan diri pada Allah sehingga catatan amalnya tersimpan di tempat yang terhormat.

Catatan amal orang yang berbakti akan dipamerkan kepada para malaikat sebagai penghargaan atas segala pengorbanannya waktu di dunia. Inilah yang terkandung dalam kalimat, Kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan. Subhanallah, sebuah penghargaan yang begitu tinggi bagi orang-orang yang berbakti pada Allah swt.

 

Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar, mereka di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. (QS.Al Muthaffifin: 22 – 24)

Sesudah Allah swt. menggambarkan posisi catatan amal al-abrar (orang-orang yang berbakti), selanjutnya digambarkan apa yang akan dirasakan oleh mereka; Al-Abrar akan berada dalam kenikmatan, mereka bertelekan di tempat yang penuh kenikmatan. Kenikmatan tersebut terpancar dari wajah mereka. Subhanallah, inilah tempat peristirahatan yang sesungguhnya.

Kita kadang sering terlena dengan kenikmatan duniawi yang sesaat, kadang kita halalkan segala cara untuk mencicipi kenikmatan dunia yang semu. Padahal sesungguhnya kenikmatan yang hakiki dan abadi adalah kenikmatan di akhirat sebagaimana yang tergambar dalam ayat ini, Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.

Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak, laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamr murni itu adalah dari tasnim, mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS.Al Muthaffifin: 25 – 28)

Apa yang diharamkan di dunia akan dinikmati oleh orang-orng yang berbakti di akhirat. Khamr itu haram, namun di akhirat menjadi halal, bisa dinikmati oleh para penghuni surga. Bahkan bukan khamr biasa, melainkan khamr yang berkualitas sangat tinggi, kulitas premium yang tiada tara. Mereka diberi minum dari khamr murni yang dilak, laknya adalah kestur.i

Kita harus berlomba-lomba mengisi detik-detik umur yang masih tersisa dengan berbagai amal saleh agar kenikmatan yang abadi itu bisa kita nikmati, dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamr murni itu adalah dari tasnim, mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kekuatan pada kita untuk mengisi sisa umur dengan amalan-amalan yang bisa mendekatkan kita pada cinta dan rahmat-Nya. Sehingga kita menjadi hamba-hamba yang didekatkan kepada-Nya. Amin .Wallahu’alam.

 

(Visited 66 times, 1 visits today)

REKOMENDASI