Zakir Naik, Kisah Deni Saputra, dan Pertanyaan tak Terjawab

cermah zakir naik di bandung

PERCIKANIMAN.ID – TERLAHIR sebagai seorang Muslim tak menjamin seseorang terus berpegang teguh kepada agama Allah swt. Kegalauan demi kegalauan bukan mustahil menggerus iman. Pertanyaan demi pertanyaan yang tak terjawab membuat manusia akhirnya frustrasi dan berbalik mempertanyakan keagungan Allah swt.

”Mengapa Allah menciptakan manusia jika Dia sudah tahu awal akhirnya? Mengapa manusia diciptakan jika hanya menjadi mainan, seperti boneka?”

iklan donasi pustaka2

Bertahun-tahun, Deni Saputra memendam pertanyaan itu. Bertahun-tahun itu pula dia memilih tak lagi akrab dengan Allah swt karena pertanyaan-pertanyaan itu membuat dia ragu. ”Saya menjadi sosialis, komunis, bahkan setanis sewaktu kuliah. Sejak keluarga broken home, saya menjadi goyah,” ujar pria 23 tahun itu di Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Minggu 2 April 2017.

Kemantapan Deni menjauhi Allah swt, pada kenyataannya, juga tidak berdampak apa pun. Kehidupannya tetap berjalan baik. Tidak ada bedanya ketika dulu dia salat dengan sekarang dia tidak salat.

Hati pria asli Medan yang berdomisili di Jakarta itu kembali gundah pada 2015. Kalakian, dia membuka video Youtube yang mengulas tentang Zakir Naik. Hobinya membuka video membuat Deni tertaut kepada video Zakir Naik saat berdialog dengan seorang ateis.

”Di situ, banyak yang masuk Islam. Saya berpikir, mereka saja masuk Islam, kenapa saya yang sejak lahir Islam tidak bisa (diyakinkan) Islam kembali?” katanya.

Dua warsa memendam pertanyaan-pertanyaan tadi, akhirnya Deni melontarkannya secara langsung kepada Zakir Naik, kemarin, saat rangkaian ”dr. Zakir Naik Indonesia Visit 2017”. Zakir menyampaikan ceramah itu berjudul ”Da’wah or Destruction”.

Dokter asal India yang kini menjadi dai kondang dunia tersebut menyedot animo hampir 10.000 warga Kota Bandung ataupun luar Bandung. Kalangan non-Muslim sengaja diajak serta. Dalam sesi pertanyaan, pria bernama lengkap Zakir Abdul Karim Naik memprioritaskan para non-Muslim untuk bersama-sama mencari tahu benang merah iman yang sesungguhnya.

Deni hanya satu dari antrean orang yang penasaran terhadap jawaban Zakir Naik. Sebagai seorang Muslim yang menguasai kitab suci agama lain, Zakir Naik dianggap mampu memberikan jawaban logis dalam kalimat-kalimat nan bersahaja. ”Tapi, saya masih belum puas. Pertanyaan saya belum terjawab,” tuturnya.

Oleh karena itu, Deni berencana mengikuti safari dakwah Zakir Naik selanjutnya di Makassar, Sulawesi Selatan, sampai beroleh jawaban yang ia cari. Deni hakkulyakin, Zakir bakal menangkap maksudnya dan memberi jawaban memuaskan. Keyakinannya akan Zakir bahkan membuat dia ingin menjadi sosok seperti Zakir Naik.

Sementara itu, seperti dalam kebanyakan video dakwah Zakir Naik, di Kota Bandung pun kemarin beberapa orang mengucap dua kalimah syahadat, dibimbing Zakir Naik ataupun sang putra, Fakir Zakir Naik. Danalia Permatasari tampak begitu bahagia setelah mengucap rukun Islam pertama tersebut. Dana menjadi satu dari lima mualaf.

”Saya ingin dimantapkan lagi. Saya mualaf sudah sekitar setahun. Ibu saya Muslim, ayah Budha dan saya Budha,” katanya. Video dakwah Zakir Naik membantu Dana memahami Islam setahun terakhir. Keinginannya memeluk Islam dia yakini benar-benar petunjuk Allah swt. Selama ini, setiap mendengar azan, hatinya tergetar. Sampai pada titik tertentu, dia yakin dengan agama Islam.

Kedatangan Zakir ke 5 daerah (Bandung, Bekasi, Makassar, Ponorogo, Yogyakarta) adalah yang pertama di Indonesia. Kota Bandung menjadi kota pertama yang dikunjungi. Pada awal-awal ceramahnya, Zakir mengkritik Indonesia yang belum sepenuhnya Islam meski merupakan negara dengan jumlah Muslim terbanyak.

”Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim paling banyak di dunia, saya bahagia. Sayangnya, Muslim di Indonesia tidak terlalu berkomitmen terhadap Alquran dan Sunah. Seharusnya, sebagai negara Muslim terbesar, setiap Muslim bertanggung jawab berdakwah kepada non-Muslim,” katanya. Pentingnya setiap Muslim menjadi agen agama Allah swt, dijelaskan Zakir, tak lain agar Islam tetap menjadi agama kuat.

”Saya dari Turki, minggu lalu. Kita tahu, khilafah terakhir dihapuskan oleh musuh Islam. Kalau kita bersatu, tak ada yang berani menantang kita. Kita terpecah beberapa tahun terakhir ini. Tidak boleh azan, tidak boleh pakai hijab. Indonesia harus menjadi Muslim terbaik,” kata pendiri dan presiden Islamic Research Foundation tersebut.

Perubahan Islam bisa terjadi jika para Muslim dekat dengan Alquran. Para Muslim harus mencerminkan nilai-nilai islami sehingga bisa membuat orang lain paham dan memeluk Islam.

Tak sebatas itu, Zakir Naik juga berkomentar tentang kriteria pemimpin. Hal itu merujuk kepada pemilihan gubernur DKI Jakarta saat ini. ”Saya katakan sekali lagi, Muslim tidak boleh memilih non-Muslim walaupun pemimpin itu melakukan pembangunan. Dia membangun masjid, tapi apa artinya kalau pemimpin itu tidak salat?” ucapnya.

Zakir menegaskan, kesuksesan bukanlah dilihat dari gedung, jalan, atau infrastruktur yang sudah dibangun. ”Sukses sebenarnya adalah iman. Ya, iman, percaya kepada Allah swt,” tuturnya.

Sumber : Pikiran Rakyat

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment