Waspadai Hati Yang Berkarat ( Tafsir Q.S. Al Muthaffifin ayat 14 -28) bag. 1

kokoh kuat

Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. Al Muthaffifin: 14)

Para pendurhaka akan diadzab dikarenakan mendustakan hari penghisaban di hari kiamat. Mengapa mereka mendustakannya? Karena mereka tidak meyakini kebenaran ayat-ayat Allah. Mereka menganggap ayat-ayat Allah hanyalah dongeng yang tidak bermakna.  Pada ayat ini Allah menjelaskan sesungguhnya penolakan mereka terhadap ayat-ayat Allah disebabkan karena hati mereka berkarat. Hati mereka tertutup dengan berbagai dosa dan maksiat yang pernah mereka perbuat. Sekali-kali tidak, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

iklan donasi pustaka2

Perbuatan maksiat diumpamakan karat yang menempel pada besi. Apabila karat itu tidak dibersihkan, maka dipastikan akan menyebar dan pada akhirnya merusak besi tersebut. Demikian pula perbuatan maksiat, apabila dibiarkan akan menjadi karat hati, yang pada akhirnya hati akan tertutup dari cahaya kebenaran. Inilah yang dimaksud dengan kalimat, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

Rasulullah saw. bersabda, ”Bila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan timbul dalam hatinya karat hitam. Bila dia bertaubat, maka karat tersebut akan hilang. Sedang bila bertambah dosanya (tidak bertaubat), maka karat hitam itu akan bertambah dan menyebar hingga menutupi hatinya dan itulah ”Raan” (penutup) yang dijelaskan dalam ayat ini.” (H.R. Tirmidzi, Ahmad, dan Ibn Majah).

Pada hadis ini Rasulullah saw. memberi penjelasan bahwa yang dimaksud dengan ayat ”sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” adalah kemaksiatan atau dosa yang dilakukan hamba, sehingga dosa tersebut menutupi hatinya dan akhirnya cahaya Ilahi tidak pernah sampai pada hatinya.

Ayat ini bisa kita proyeksikan dalam kehidupan keseharian. Misalnya, Anda terbiasa shalat di awal waktu, namun suatu saat Anda tidak bisa melaksanakannya. Apa yang Anda rasakan? Anda akan merasa bersalah, bukan? Anda merasa telah melalaikan shalat. Nah, coba kalau shalat tidak pada awal waktu itu Anda ulang-ulangi, apa yang akan terjadi? Anda menjadi terbiasa alias Anda tidak akan merasa bersalah.

Contoh lain, apa yang Anda rasakan pertama kali nyontek saat ujian? Anda merasa takut, khawatir, deg-degan, pokoknya seabreg perasaan cemas akan Anda rasakan. Namun, apabila nyontek itu sering Anda lakukan, apa yang Anda rasakan? Biasa-biasa saja, bukan? Anda tidak akan deg-degan apalagi meresa bersalah. Mengapa? Karena hati Anda menjadi berkarat. Inilah contoh konkret dari firman Allah, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.

Bisa ditegaskan, semua perbuatan dosa atau maksiat pada awalnya akan dirasakan sebagai dosa. Namun kalau diulang-ulangi, maka akan menjadi terbiasa dan pada akhirnya kita tidak akan merasa bersalah lagi. Ini isyarat bahwa karat maksiat itu sudah menyebar dan menutupi hati. Maka satu-satunya cara agar terhindar dari penyakit ini adalah selalu bertaubat dan memperbaiki diri.

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang serius). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai...” (Q.S. At-Tahrim 66:8)

Kalau bertaubat, jangan putus asa dari ampunan Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni seluruh dosa hamba-Nya asalkan si hamba tersebut sungguh-sungguh dalam taubatnya, ”Katakanlah, ’Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri (berbuat dosa), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Az-Zumar 39:53)

Apabila kesempatan bertaubat tidak kita ambil atau kesempatan taubat kita sia-siakan, maka Allah swt. memperingatkan pada ayat berikutnya.

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka”. (QS. Al Muthaffifin: 15)

Apabila perbuatan maksiat terus-menerus dilakukan, terus diulang-ulangi,  akibatnya para pendurhaka itu akan tertutup dari Allah pada hari akhirat, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka. Ustadz Muhammad Abduh berpendapat bahwa makna tertutup dari Tuhan mereka adalah mereka akan mengalami kehidupan yang hina dan sedikit pun tidak  mendapatkan rahmat Allah.

Sedangkan ahli tafsir lainnya menjelaskan bahwa maksud tertutup dari Tuhan mereka adalah mereka tidak akan pernah bisa melihat Allah pada hari akhirat. Sesunguhnya nikmat tertinggi pada hari akhirat bukan sekadar masuk surga namun bisa melihat Allah swt. Para pendurhaka, jangankan melihat Allah, surga pun mereka tidak akan pernah mendapatkannya. Bahkan neraka akan menjadi tempat tinggalnya.

Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian dikatakan, “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan.” (QS.Al Muthaffifin: 16 – 17)

Ini penegasan tentang akibat pendustaan terhadap ayat-ayat Allah, akibat dari pelecehan terhadap kehidupan akhirat. Pada ayat ini Allah swt. menggunakan dua kata penegasan sekaligus, yaitu kata sesungguhnya dan benar-benar, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka kemudian dikuatkan dengan satu kalimat penegasan, Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan. Na’udzubillah.

Selanjutnya Allah swt. menjelaskan imbalan yang akan dinikmati oleh orang-orang yang berbakti, yakni orang-orang yang yakin akan adanya hari pembalasan yang abadi dan berikhtiar membekali diri untuk menyongsong kehidupan akhirat.

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment