Shalatlah Agar Batinmu Bersih (Tafsir Surat Al A’la Ayat 15)

Shalat

Dalam tafsir surat Al A’la ayat ke 14 dijelaskan bahwa membersihkan diri dapat mengandung dua makna yaitu;  membersihkan kotoran lahiriah ataupun noda batiniah. Allah swt. menyukai orang-orang yang selalu berusaha membersihkan jasad dan rohaninya,

Inna Llaha yuhibbu at-tawwabiina wa yuhibbu al-mutathahhiriin ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang suka menyucikan rohani dan orang-orang yang menyucikan badan”. Jadi, antara kesucian batin dan kebersihan lahir itu harus berimbang, alias dua-duanya harus bersih. Itulah orang-orang yang akan mendapat keberuntungan.

Bagaimana cara membersihkan batin atau rohani? Dijelaskan pada ayat ke 15 ini

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

dan dia ingat nama Tuhannya, lalu menegakkan shalat.

Makna ingat nama Tuhannya, bukan sekadar menyebut asmaul husna (nama-nama Allah Yang Mulia) seperti Rohman (Yang Maha Pemurah), Rohiim (Yang Maha Penyayang), Hakiim (Yang Maha Bijaksana), ’Aliim (Yang Maha Tahu), dll. Tapi yang dimaksud adalah konsisten alias istiqamah (teguh pendirian) dalam melaksanakan ajaran-ajaran-Nya, selalu menaati segala perintah-Nya dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dimurkai-Nya. Siap menerima risiko apa pun saat menjalankan aturan-aturan Allah swt. Sikap seperti ini merupakan bentuk konkret orang yang membersihkan diri.

kalender percikan iman 2018

Lalu menegakkan shalat. Shalat bisa menjadi sarana untuk menyucikan diri, karena seluruh isi shalat merupakan doa. Para ulama menerjemahkan Ash-shalaat ma’naaha ad-du’a ”Shalat artinya doa” mengandung makna bahwa seluruh isi shalat merupakan doa.

Doa merupakan bentuk komunikasi hamba dengan Tuhannya. Dan kedekatan seseorang bisa diukur dari kualitas dan kuantitas komunikasi.

Bagaimana cara mengukur hubungan kita dengan anak-anak? Gampang, lihat saja bagaimana kulitas dan kuantitas komunikasi kita dengan mereka. Kalau komunikasi kita dengan mereka itu lancar, tanpa hambatan, dan sangat akrab. Ini gambaran bahwa hubungan kita dengan anak-anak kita cukup dekat dan harmonis. Tapi, kalau komunikasi dengan mereka terasa kaku dan penuh formalitas, ini mengindikasikan hubungan kita dengan mereka kurang harmonis.

Nah, apabila kita menjadikan shalat itu sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban, kita akan merasa rindu untuk melakukan shalat, kita menikmatinya, bahkan merasa ketagihan melakukannya. Ini gambaran hubungan kita dengan Allah swt. sangat dekat dan harmonis. Shalat yang dilakukan dengan khusyu dan penuh penghayatan akan menjadi energi bagi kita untuk menginggalkan perbuatan keji dan munkar.    ”… dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari  perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah  lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al Ankabut  29: 45)

Shalat yang benar dan penuh penghayatan, juga akan membersihkan diri kita dari sifat-sifat yang buruk, seperti putus asa, gelisah, keluh kesah, dan kikir. ”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah, apabila ditimpa kesulitan putus asa, dan apabila mendapat kebaikan dia amat kikir, kecuali orang-orang yang mendirikan shalat.” (Q.S. Al Ma’arij: 19-22)

Walaupun Allah swt. telah menjelaskan cara untuk menyucikan jiwa, namun tak sedikit manusia yang berpaling dari ajaran-ajaran-Nya. Mengapa? Karena ada di antara manusia yang lebih mengutamakan kehidupan duniawi, sebagaimana dijelaskan pada ayat berikutnya.

Bersambung..

(Visited 30 times, 1 visits today)

REKOMENDASI