Waspada, Jangan Sampai Hati Anda Dikuasai Jin!

lampujin

Manusia dan jin sama-sama merupakan makhluk ciptaan Allah Swt. yang memiliki perbedaan wujud dan kejadian. Manusia yang diciptakan oleh Allah Swt. dari tanah  merupakan makhluk yang nyata. Adapun jin yang diciptakan dari api merupakan makhluk yang gaib. Dengan demikian, manusia tidak bisa melihat jin sedangkan jin bisa melihat manusia. Ayat Al Quran menegaskan bahwa jin melihat manusia dari suatu tempat yang tidak bisa dilihat oleh manusia.

Dengan keadaan seperti itu, maka secara logika adalah wajar bahwa intervensi jin terhadap manusia jauh lebih besar daripada intervensi manusia terhadap jin, bahkan bisa dikatakan intervensi manusia terhadap jin sama sekali tidak ada. Terlebih, golongan jin yang kafir–iblis dan setan–telah bersumpah untuk selalu mengganggu, menggoda, dan menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan dosa dan kemusyrikan. Konsekuensinya,  mau tidak mau dan suka tidak suka, seluruh manusia memang akan selalu diganggu dan digoda oleh iblis dan setan dengan berbagai macam tipu muslihatnya.

Bagaimana sebenarnya interaksi manusia dengan mahluk ghaib bernama jin ini? Apakah manusia perlu menjalin hubungan dengan jin? Bagaimana pula pandangan agama terhadap masalah ini? Berikut ini adalah petikan wawancara Majalah Percikan Iman dengan Drs. H. Ano Suparno, yang pernah mengasuh Kajian Jinologi di Yayasan al Munawwarah Bandung.  Dalam wawancara ini diungkap beberapa hal terkait hubungan jin dan manusia.

Apakah manusia bisa berinteraksi/berkomunikasi dengan jin?
Bisa. Pertama, kalau jinnya memang menjelma, bermateralisasi, atau ber-naumisasi (membentuk diri). Contohnya ketika Nabi Saw. pulang berdakwah dari Thoif dalam kondisi penuh luka. Datang sekelompok jin yang menyatakan ingin belajar agama Islam, itu sebagai bukti ada interaksi atau komunikasi antara Nabi (manusia) dengan jin dalam bentuk penjelmaan yang nyata. Kedua, interaksi dan komunikasi jin dengan cara masuk ke dalam tubuh/jasad manusia yang menggunakan fasilitas/organ manusia sebagai alat interaksi dan komunikasi, seperti orang yang kesurupan atau paranormal yang dengan sengaja memanggil jin dan dimasukkan ke salah seorang mediator sebagai alat interaksi dan komunikasi.

Apakah manusia perlu berinteraksi dengan jin?
Tidak perlu, Islam tidak mengajarkan hal tersebut. Kita hanya diajari memelihara habluminnallaah dan habluminannaas. Tak ada hablumminaljin karena tidak menguntungkan bagi manusia, selain itu interaksi manusia dengan jin bisa sesat dan menyesatkan (lihat Q.S. Jin 72: 6). Perhatikan saat kejadian Nabi Adam (manusia pertama), ketika itu terjadi penolakan/pembantahan yang dilakukan oleh iblis dari bangsa jin dalam melaksanakan perintah Allah Swt. untuk sujud kepada manusia. Dari penolakan ini, jin dari golongan iblis mendapat kutukan. Kemudian jin mengajak manusia dan mengingkari apa yang Allah perintahkan agar nantinya manusia menjadi teman iblis di dalam neraka.

Apakah jin bisa menguasai kehendak manusia?
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa hati manusia terbagi dua, dan ada garis demarkasi (batas pemisah) yang sebagian didominasi oleh malaikat dan sebagian lagi didominasi oleh setan dari bangsa jin. Malaikat memberikan bisikan-bisikan kebaikan ke dalam hati manusia, sedangkan jin memberikan bisikan-bisikan keburukan atau kesesatan. Tinggal bagaimana manusianya, apakah dia akan cenderung pada bisikan malaikat atau cenderung pada bisikan setan. Kalau kecenderungannya pada bisikan malaikat, maka dominasi jin akan melemah, begitupun sebaliknya kalau manusia cenderung pada bisikan setan berarti dominasi malaikat akan melemah.

Apa pendapat Anda tentang orang yang kemasukan jin/setan?
Memang ada orang yang kemasukan jin. Pertama bisa jadi akibat kebodohan dan bertindak keliru, contohnya mendatangi paranormal dengan meminta informasi kebaikan baginya atau tubuhnya diisikan atau dijampi-jampi, atau diusap sehingga menjadi ada terminal. Ketika dia dalam kondisi labil ataupun ada tekanan berat bisa lebih memudahkannya kerasukan jin. Yang kedua lebih pada lemah mental, dan orang tersebut lebih didominasi oleh nafsu yang jelas melemahkan aqidahnya juga, yang pada akhirnya kecenderungan hati manusia lebih didominasi oleh bisikan setan. Kondisi itu memudahkan jin untuk masuk.

Bagaimana pendapat Anda tentang pemindahan jin atau penyakit dari tubuh manusia ke dalam tubuh binatang seperti kambing?
Sebetulnya itu hanya tipu daya atau cara jin mengoceh untuk menjauhkan manusia dari ajaran agama. Penyakit tidak bisa dipindahkan atau ditransfer. Seharusnya manusia ketika menghadapi cobaan sakit adalah berobat dan bukan mendatangi (dukun, paranormal—red). Seperti yang pernah disiarkan dalam berita, konon ada seekor kerbau yang disebut kiai bisa menyembuhkan penyakit dengan mencium dan menempelkan mulutnya kepada manusia yang terkena penyakit. Dalam hal ini, umat muslim seharusnya bisa berpikir secara logis. Selain itu, perlu juga kita perhatikan sebuah riwayat yang mengatakan bahwa sakitnya kaum muslimin adalah sebagai kifarat (penebus) dosa-dosanya. Itulah yang disebut mental penuh dengan keimanan, berikhtiar untuk kesembuhan, dan selalu memohonkan yang terbaik (berdoa) hanya kepada Allah Swt.

Bagaimana kita mengusir gangguan jin dalam diri kita?
Mari kita buka Al Quran, Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya setan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.” (Q.S. An-Nahl 16: 99). Begitulah seharusnya sikap kaum muslimin dalam menghadapi gangguan setan, yaitu dengan memperkuat keimanan dan meningkatkan ketakwaan kapada Allah. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa ada setan dari golongan jin lebih takut pada orang yang tidur daripada orang yang sedang shalat. Sebab orang yang tidur kadar keimanannya begitu kuat dan setan tidak berdaya dibuatnya daripada orang yang melakukan shalat sedang keadaan pikiran dan hatinya kosong, dan seolah tidak ada interaksi dengan Sang Khaliq. Perhatikan pula lanjutan ayat tersebut, “Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (Q.S. An-Nahl 16: 100).

Penulis : Agil

Editor Bahasa: Desi

(Visited 96 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment