Persamaan Jin Dan Manusia

Gelap jin2

 

Assalamu’alaykum wr wb… Pak Aam, dalam Al Quran disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dan jin untuk beribdah atau menyembah kepada-Nya. Apakah ini berarti antara jin dan manusia mempunyai persamaan?. Mohon penjelasannya dan terima kasih. ( Agung by email)

 

 

Wa’alaykumsalam wr wb… Iya Pak Agung dan pembaca sekalian jin adalah salah satu bentuk keghaiban yang kita yakini keberadaannya karena ini salah satu satu dari keimanan yakni percaya kepada yang ghaib. Menerangkan sesuatu yang ghaib tentu bisa dengan kacamata indrawi atau berdasarkan data empirik melainkan dengan keimanan yang berdasarkan pada penjelasan Al Quran dan hadits Rasulullah Saw.

 

Terkait dengan makhluk Jin ini apa yang dapat kita jelaskan hanya berdasarkan pada Al Quran dan hadits saja khususnya adanya unsur kesamaan dan tentu saja ada perbedaan. Berdasarkan penjelasan Al Quran maupun hadits maka manusia dan jin adalah makhluk Allah Swt. yang memiliki sejumlah persamaan, diantara persamaannya adalah:

 

  1. Diciptakan untuk mengabdi pada Allah.

 

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. Adz-Dzaariyat 51: 56).

 

Manusia dan jin bertugas untuk mangabdi pada Allah. Mereka memiliki sejumlah kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai perwujudan dalam pengabdian kepada-Nya.

kalender percikan iman 2018

 

  1. Memiliki kemampuan berpikir.

 

Suatu waktu Rasulullah Saw. membaca Al Quran, lalu datanglah sekelompok jin mendengarkannya. Selesai menyimak bacaan Rasul, para jin itu menyimpulkan apa yang disimaknya. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami.” (Q.S. Jin 72:1-2)

 

Ayat ini mengisyaratkan bahwa jin mampu berpikir. Tanpa kemampuan berpikir, tidak mungkin mereka bisa mengambil kesimpulan. Bukankah berpikir adalah proses pengambilan kesimpulan.

 

  1. Ada yang shaleh dan ada pula yang kufur.

 

Sama halnya dengan manusia, jin ada yang shaleh ada pula yang kufur, ada yang taat dan ada juga yang membangkang. “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada pula yang tidak saleh. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (Q.S. Jin 72: 11).

 

Ayat ini menegaskan bahwa jin menempuh jalan yang berbeda-beda; ada yang menempuh jalan kebanaran, ada juga yang mengambil jalan kesesatan.

 

  1. Mendapatkan imbalan dan sanksi.

 

Konsekuensi kesalehan adalah imbalan surga dan akibat pembangkangan adalah sanksi neraka. Jin ada yang masuk neraka ada pula yang masuk surga, sama seperti manusia. “Adapun yang menyimpang dari kebenaran, mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. Dan jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan Islam, benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (kenikmatan).” (Q.S.Al Jin 72: 15-16).

 

Ayat ini menegaskan bahwa ada jin yang mendapatkan sanksi azab neraka, dan ada pula yang mendapatkan imbalan kenikmatan.

 

  1. Mengenal gender.

 

Manusia mengenal jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hal ini terjadi juga pada dunia jin; diantara mereka ada laki-laki dan ada juga perempuan. Perhatikan ayat berikut. “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Q.S. Al Jin 72: 6).

 

Secara eksplisit ayat ini menyebutkan jenis kelamin jin yaitu laki-laki. Kalau ada jin laki-laki, berarti ada jin perempuan.

 

 

Apabila jin itu mengenal gender (jenis kelamin), maka mereka pun memiliki hasrat biologis dan berketurunan. “Patutkah kamu mengambil iblis (jin yang durhaka) dan keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti Allah bagi orang-orang yang zalim.” (Q.S.Al Kahfi 18: 50).

 

Kata “dan keturunannya” pada ayat ini menegaskan bahwa jin itu berketurunan seperti manusia.

 

  1. Membutuhkan makanan.

 

Abu Hurairah r.a., pernah membawakan bejana berisi air wudhu kepada Nabi saw. Tatkala ia mengantarkan bejana itu, Nabi saw bertanya, “Siapakah Anda?” Ia menjawab, “Aku adalah Abu Hurairah.” Nabi saw berkata, “Carikan aku beberapa batu, akan aku pergunakan untuk beristinja (bersuci), dan janganlah kau bawakan aku tulang dan kotoran binatang.” Lalu aku bawakan beberapa batu yang kubawa dalam kainku hingga kuletakkan didekatnya, kemudian aku berpaling. Setelah beliau selesai, aku pun berjalan bersamanya lalu aku bertanya, “Mengapa tulang dan kotoran binatang tidak boleh digunakan bersuci?” Nabi saw menjelaskan, “Kedua benda itu adalah makanan jin.” (H.R. Bukhari).

 

Hadis ini menegaskan bahwa jin membutuhkan makanan, diantaranya adalah tulang. Tentu saja kita tidak bisa menjelaskan bagaimana tulang bisa menjadi makanan, kemudian apa kandungan gizinya dan sebagainya.

 

Itulah sejumlah persamaan antara jin dan manusia dan pastinya tentu ada perbedaannya. Untuk membahas atau mendapat penjelasan lebih rinci dan jelas Anda bisa membaca buku yang saya tulis yang berjudulMenelanjangi Strategi JIN, insya Allah anda dapat mempunyai gambaran tentang jin dan kehidupannya. Wallahu’alam. [ ]

 

Buku Menelanjangi Strategi Jin

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

REKOMENDASI

Leave a Comment