Amalan Sederhana Agar Wanita Mudah Masuk Surga

muslimah-3

PERCIKANIMAN.ID – –  Meski ada hadits yang menyebutkan bahwa mayoritas pengguni neraka adalah kaum wanita namun ini bukan berarti tidak ada peluang kaum wanita masuk surga. Rasulullah Saw juga memberikan informasi bahwa ada amalan yang mudah dilakukan khusus bagi kaum wanita agar masuk surga. Ini tentu menjadi kabar gembira bila seorang muslimah mampu istikamah mengamalkan empat hal,maka Allah Swt akan membebaskannya untuk masuk surga dari pintu mana saja yang ia sukai.

 

Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu , puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya).”  (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani)

 

Empat hal ini bila menjadi kebiasaan seorang muslimah ternyata akan membangun karakter yang begitu indah, akhlaq mulia akan menjadi hiasan dirinya, tertatanya kehidupan dan manajemen waktu yang rapi mendampingi seluruh aktivitasnya serta kesehatan yang selalu prima menjadikan dirinya selalu energik dan semua itu terbungkus rapi berselimut ketaatan kepada Rabb-nya. Tak terbayangkan bagaimana wujud dhahir bila muslimah benar-menar menjaga empat amalan tersebut dalam kehidupannya.

 

Pertama, Salat Lima Waktu

 

Shalat menjadi syarat pertama sebagai gerbang demi mendapatkan kemudahan yang mulia ini. Kita telah memahami salat merupakan tiang agama. Namun ummat ini jarang mengkaji sebenarnya apa sih efek positif yang menjadi target utama atas ibadah yang menduduki peringkat pertama dalam hisab akhirat ini?

promooktober

 

Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar… (QS Al Ankabut:45)

 

Ternyata salat sebenarnya erat hubungannya dengan emosi dan akhlak. Siapa yang tidak melirik bila ada seorang muslimah yang begitu stabil emosinya dan tertata akhlaknya. Apapun yang keluar dari lisannya merupakan untaian kalimat yang indah dan penuh makna dan ilmu. Apapun yang menjadi gerak langkahnya menimbulkan kebaikan dan tergambar jelas akan tujuan kebaikan. Itulah menjadi dampak positif akan salat yang dilaksanakan dengan sepenuh hati. Itupun menjadi karakter yang selalu tercermin disaat sendirian maupun ada orang. Saat di dalam rumah maupun di luar rumah.

 

Seharusnya kita memaknai salat lima waktu ini bukan sebatas melaksanakan rutinitas ubudiyah semata, namun seharusnya kita jadikan salat sebagai penuntun bagi kita untuk menjaga agenda harian kita supaya tetap tertata dan kita jadikan salat sebagai waktu refresing dan rihlah untuk hati kita supaya hati ini tetap menjadi peka dan terasah bashirahnya.

 

Kedua, Puasa di bulan Ramadhan

 

Tidak ada yang meragukan akan kemuliaan bulan Ramadhan, pun demikian tidak ada pula yang meragukan akan kemuliaan bagi siapa yang mampu berpuasa dengan penuh di bulan Ramadhan. Banyak yang menyebut bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah. Bulan dimana semua kebaikan dilipat gandakan, bulan dimana membaca Al Qur’an tanpa ada batasnya dan bulan dimana syaitan dibelenggu.

 

Namun pada kenyataannya sesungguhnya di bulan Ramadhan memang bulan ujian yang penuh godaan bagi kaum hawa. Seandainya sahabat muslimah tidak memiliki tujuan dan target yang kuat dalam menggapai kemuliaan di bulan Ramadhan.Bagaimana tidak bermaknanya bulan yang penuh barokah itu. Hanya muslimah pilihan dan yang kuat azamnya saja yang mampu memanfaatkan dan mengoptimalkan ibadah di bulan yang penuh barokah.

 

Sesungguhnya puasa Ramadhan bagi sahabat muslimah bagaikan maket sebagai alat ukur untuk mengetahui keteguhan hati atas godaan hidup dan sebagai ukuran bagaimana kemampuan bagi sahabat muslimah untuk memilih sesuatu yang terpenting bagi dirinya demi kedekatannya kepada Ilahi Rabbi.

 

Meski bagi sebagian wanita tentu tidak bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh karena datang bulan (haid) namun hal ini tidak menghalangi untuk meraih pahala Ramadhan. Bagi yang batal puasa karena adanya siklus menstruasi yang tidak  bisa ditolak, tetap ada amalan-amalan lain yang bisa dikerjakan.

 

Ketiga, Menjaga Dirinya

 

Wanita memang makhluk yang teramat sangat unik. Wanita memang makhluk penghias dunia. Kita lihat saja. Dari wujud dhahir dan segala sesuatu yang memenuhi hajad wanita memenuhi dunia ini. Dari wujud dhahir dan segala pernik tentang wanita bila kita nilai dengan ukuran syari’at bisa kebayang, banyakkah yang akan menuju surga?

 

Apapun tentang wanita akan selalu menarik untuk dibahas. Dari pakaian, rambut, sepatu bahkan kancing baju saja menjadi menarik untuk dibahas bila di sangkutkan dengan wanita. Inilah yang menjadikan sahabat muslimah mendapatkan kedudukan sangat mulia dihadapan Allah bila apa pun yang ada pada dirinya menjadi menarik untuk diperhatikan secara syar’i.

 

Sesungguhnya muslimah yang pandai menjaga diri bukanlah muslimah yang polos dan apa adanya. Namun sesungguhnya muslimah yang pandai menjaga diri adalah muslimah yang selalu asik untuk memperhatikan segala pernik yang berhubungan dengan dirinya menggunakan kaca mata syari’at.

 

Segala polah tingkah akan selalu diperhatikan. Dari tutur sapa, cara berjalan, bagaimana menggerakkan bahunya, bahkan kapan dirinya akan melirik kan matapun tidak luput dari perhatian. Apalagi masalah pakaian, bau badan dan kecantikan, tidak perlu dipertanyakan lagi. Bukan hanya itu bagaimana seorang muslimah berhubungan dengan orang lainpun akan sangat selektif sekali. Dirinya tidak akan berbicara dengan sembarang orang, tidak akan keluar rumah tanpa ada pendampingnya.

 

Begitu mulianya akhlak seorang muslimah yang pandai menjaga diri.Bagaimana wujud dhahir muslimah yang pandai menjaga diri. Sang suami ataupun walinya tidak akan ada rasa was-was maupun khawatir disaat meninggalkannya. Karena kepandaian dirinya akan menjaga kehormatan diri dan kemuliaan imannya tidak diragukan lagi.

 

Keempat, Mentaati Perintah Suaminya

 

Kita harus sadar sesadar sadarnya bahwa Allah telah menciptakan kita dari tulang rusuk yang bengkok. Kita pun harus sadar sesadar sadarnya bahwa kita membutuhkan Imam untuk membimbing kita. Kita juga harus sadar sesadar sadarnya bahwa wanita membutuhkan waktu lebih lama untuk merasukkan ke hati saat mendapatkan nasehat.

 

Sering kita bahas bagaimana dosanya seorang anak yang mengatakan ah kepada orang tuanya. Namun tidakkah kita pernah berfikir sesungguhnya ketaatan seorang wanita disaat sudah menikah adalah kepada suaminya. Tidakkah kita berfikir bagaimanakah hukumnya disaat ada istri mengatakan ah kepada suaminya?

 

Sering kita mengajak suami untuk memahami bagaimana perasaan orang tuanya, namun seringkah kita menjaga perasaan suami kita saat bertutur sapa maupun saat berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ada sebagian pasangan suami istri yang menganggap bahwa suami istri itu haruslah mampu menghilangkan rasa malu dan sungkan diantara mereka.

 

Cinta dan saling terbuka bukan berarti menyibak aib, bukan pula menampakkan kekurangan dan bukan pula menganggap wajar keburukan akhlaq. Namun harusnya hadirnya cinta dan saling keterbukaan adalah sebagai gerbang untuk saling mengasihi dan saling memahami. Sebagai gerbang untuk saling menjaga dan melengkapi.

 

Maka seharusnya seorang istri haruslah mampu menjadi kaca spion bagi suaminya. Dia ikut ke manapun suaminya melangkah, dia setia menemani suaminya dengan selalu waspada dengan sudut pandang yang berbeda. Namun arah pandangan dan pola cerna tetap akan mengikuti sang Imam yang akan membawanya mengarungi bahtera rumah tangga.

 

Sehingga tidaklah mungkin muncul suatu kejadian maupun suatu akhlaq yang tercela keluar dari seorang istri sholihah. Saking indahnya akhlaq sahabat muslimah tergambar jelas sebagaimana yang disabdakan nabi Muhammad Saw.

 

Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani)

 

Sahabat muslimah sangat memahami dan pandai betul memposisikan dirinya dalam rumah tangga. Dirinya bukanlah sebagai Imam, namun sebagai pendamping Imam yang akan selalu meberikan bisikan kepada imamnya dan banyak memberikan pertanyaan yang kritis bagaikan Aisyah saat mendengarkan penjelasan tentang telanjangnya orang saat dibangkitkan di mahsyar. Dirinya adalah sebagai pendamping Imam yang akan selalu menjadi penyejuk hati dan siap sedia memberikan kehangatan bak Khadijah memberikan pelukan hangat kepada baginda Rasul saat datangnya wahyu pertama. [ Berbagai sumber]

 

Red: ahmad & eika

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment