Hikmah Husnudzon

Positif thinking

Assalamu’alaykum…. Pak Aam, saya berusaha untuk selalu berbaik sangka (husnuzhan) kepada siapa pun termasuk takdir atau kenyataan hidup yang saya alami. Namun terkadang timbul perasaan kesal dan sedikit kecewa. Saya berusaha untuk memahami makna dan hikmah husnuzhan ini dengan baik. Kira-kira apa hikmah Allah memerintahkan kita untuk selalu mempunyai sikap baik sangka ini? mohon penjelasannya dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih. (Elly by email)

 

 

Wa’alaykumsalam wr wb…. Iya ibu Elly dan pembaca sekalian, adalah manusiawi kalau sesekali dalam hidup ini kita mempunyai perasaan atau rasa kesal atau kecewa. Namun jangan sampai perasaan tersebut berlarut dan menjadi sifat buruk kita. Huznudzan atau berbaik sangka adalah salah satu sifat mulia yang diperintah Allah dan Rasul-Nya untuk kita miliki. Husnuzhan atau istilah baratnya positif thingking artinya “prasangka baik” yang akan  menjadi energi untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Untuk itulah husnudzan akan melahirkan jiwa yang optimis, selalu bekerja keras, rajin berdo’a, dan selalu pasrah pada kuasa Allah Swt.

 

Sebaliknya menurut beberapa ahli psikologi sikap berburuk sangka (su’uzhan) akan menimbulkan sikap dan perilaku negative seseorang yang menjadi pangkal masalah dalam hidup. Ini bisa kita pahami kebenarannya dimana banyak sikap berburuk sangka (su’uzhan) ini yang melahirkan salah sangka atau salah paham sehingga memunculkan problematika yang awalnya kecil berubah menjadi besar. Banyak persoalan dalam masyarakat baik individu atau kelompok yang diawali dari sikap buruk sangka sehingga memicu persoalan yang tadinya sekedar pribadi kemudian merembet  menjadi persoalan sosial.

 

Objek Huznudzhan. Secara umum objek husnudzhan ini terbagi menjadi tiga bagian

 

  • Pertama husnudzan kepada diri sendiri.

Maksudnya  percaya pada kapasitas dan  kemampuan diri, seperti yang dijelaskan dalam Al Quran: “Allah tidak membebani sese-orang melainkan sesuai dengan ukuran kesanggupannya ….. (QS Al-Baqarah 2:286)

promooktober1

 

  • Kedua husnudzan pada orang lain.

Dapat kita simak dalam penjelasan Al Quran : “Hai, orang-orang beriman! Jauhilah banyak prasangka buruk. Sesungguhnya, prasangka buruk itu dosa. Jangan kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian lain. Apakah kamu mau memakan daging saudaramu yang sudah mati? Tentu kamu jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang. “ (QS Al Hujurat 49:12)

 

  • Ketiga husnudzan pada Allah SWT

Apa pun yang terjadi atau menimpa kita adalah takdir Allah yang harus kita terima. Kita telah berusaha namun belum berhasil, kita telah bekerja keras namun belum mampun mencukupi kebutuhan dan masih kekurangan. Demikian juga susah senang maupun musibah adalah takdir Allah dan kita diperintahkan untuk berbaik sangka kepada Allah.

Katakan, “Hai, hamba-hamba-Ku yang pernah terjerumus dosa! Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni semua dosa-dosanya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS. Az Zumar 39:53)

Kita harus yakin bahwa jika kita berbuat dosa lalu bertaubat dan mohon ampun maka Allah akan mengampuninya. Demikian juga dengan ketetapan Allah yang lainnya, misalnya doa yang belum terkabul, bisa jadi Allah mempunyai rencana yang lebih baik bagi kita.

 

Hikmah dari sikap husnudzan

  1. Husnudzan akan melahirkan optimis dan tidak keluh kesah

 

Secara qudrati, manusia diciptakan dengan pembawaan keluh kesah. Keluh kesah akan terminimalisir dengan husnuzhan. (lihat QS. Al-Ma’aarij 70: 19)

Rasulullah saw bersabda : “Sifat yang paling buruk pada seseorang adalah kikir yang berkeluh kesah serta takut yang berlebihan” (H.R . Bukhari)

 

  1. Huznudzhan akan melahirkan pengendalian emosi

 

Saat ditimpa musibah atau kesulitan, manusia cenderung berburuk sangka. Sifat ini akan melahirkan emosi yang tidak terkendali. Tetapi apabila dihadapi dengan husnudzan, maka emosi akan lebih terkontrol.

Rasulullah bersabda: “sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh dan tercela: keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat musibah”. (H.R. Abu Daud) (lihat juga Q.S. Ali Imron 3 : 134)

 

  1. Huznudzan akan mendatangkan cinta Allah Swt

Rasulullah saw bersabda, “Allah SWT berfirman : “Aku menurut prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia mengingat diri-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya se-hasta. jika ia mendekat kepada-Ku se-hasta, maka Aku mendekat kepadanya se-depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil“. (H.R. Bukhari).

 

  1. Huznudzan akan mendatangkan kebahagiaan

 

Berbahagialah orang yang sibuk dengan urusan kekurangan dirinya ketimbang mengurusi kelemahan dan kesalahan orang lain.” (H.R. Al-Bazzaar)

Dalam Al Quran juga disebutkan: “Kebanyakan mereka hanya  mengikuti prasangka saja. Sesungguhnya prasangka itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Yunus 10 : 36)

Demikian sedikit uraikan tentang hikmah kita memiliki sifat baik sangka (husnuzhan). Semoga dapat menjawab pertanyaan Anda . Wallahu’alam. [ ]

 

 

 

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

REKOMENDASI

Leave a Comment