Muslim Brasil Semangat Gencarkan Dakwah

Masjid Brazil

PERCIKANIMAN.ID  — Di kawasan Amerika Selatan, Brasil merupakan negara terbesar, baik dari aspek luas wilayah maupun jumlah penduduk (180 juta jiwa). Negara yang menjadi gudangnya pesepak bola terkenal di dunia ini, juga merupakan pusat agama Nasrani di wilayah tersebut.

Untuk meneguhkan status itu, orang-orang Brasil pun membangun sebuah patung Yesus Kristus dalam ukuran cukup besar, tahun 1850-an. Terletak di puncak Bukit Corcovado, Rio de Janeiro, patung yang dinamakan Cristo Redentor ini bahkan pernah diusulkan menjadi satu dari sekian keajaiban dunia.

Seperti dikutip dari republika.co.id, Kamis (1/8/3/2017),  di tengah dominasi agama Nasrani, agama Islam terus berupaya mengembangkan diri. Ya, umat Muslim memang bereksistensi di sini, bahkan telah ada sejak seabad lampau. Dan, kini jumlahnya, menurut otoritas Islam setempat, mencapai sekitar 1,5 juta jiwa lebih.

Geliat Islam terbilang cukup baik. Dan, itu ditunjang situasi di dalam negeri yang kondusif. Brazil merupakan negara yang memiliki keanekaragaman etnik, budaya, dan keagamaan. Semua komunitas maupun golongan memiliki kesempatan sama untuk berkembang.

Islam, misalnya. Jumlah masjid di Brazil hingga kini tercatat sekitar 120 unit. Begitu pula, dengan pusat-pusat Islam, yayasan amal, dan organisasi-organisasi keagamaan.

promo oktober

Seperti diungkapkan Al-Sadiq Al-Othmani, kepala Departemen Urusan Islam pada Pusat Dakwah Islam di Amerika Latin, umat Muslim merasakah sebuah suasana toleransi. ”Mereka bebas untuk berdoa dan membangun masjid-masjid,” katanya.

Peluang ini pun tak disia-siakan. Umat Muslim setempat terus menggencarkan dakwah Islam. Tak hanya lewat jalur konvensional, seperti di masjid atau pusat keislaman, dakwah juga dilakukan melalui media elekronik maupun internet.

Selama ini untuk berkhotbah, kata Othmani, para dai dan relawan harus menempuh perjalanan selama dua hingga tiga jam untuk mencapai masjid di dalam kota.

Bayangkan apabila masjid yang hendak dituju berada di luar kota, waktu yang dibutuhkan bisa jadi 12 jam.

”Maka itu, melalui internet, sebuah khotbah akan dapat langsung diakses oleh umat di berbagai kota sehingga lebih efisien dan efektif,” katanya menandaskan.

Kekurangan Imam Shalat dan Dai

Belakangan ini dakwah yang dilakukan mulai menemui kendala. Pekan lalu, berbagai media melansir laporan bahwa sejumlah masjid di Brasil ditutup karena kekurangan imam dan dai. Ada sepertiga jumlah masjid yang ditutup.

Menurut Khaled Taqei al Din, seorang imam di Sao Paolo, dari 120 masjid yang ada, hanya memiliki sekitar 40 imam dan khotib. Itu pun hanya sedikit yang menyelesaikan pendidikan syariat di tingkat perguruan tinggi.

Akibatnya, masjid menjadi sepi dari aktivitas keagamaan, bahkan untuk mengejar shalat lima waktu berjamaah, tidak semuanya bisa. Dikhawatirkan, kondisi itu bisa memengaruhi para generasi muda Muslim untuk memperdalam ilmu agama.

Muslim Brazil
Muslim Brazil melakukan shalat berjamaah di masjid di kota Rio de Janeiro

 

Beberapa tokoh agama lantas mengaitkan masalah ini dengan kurangnya dana di pusat-pusat keislaman. Itu menjadikan mereka tidak mampu mencetak imam-imam baru yang mumpuni.

Masalah ini membutuhkan solusi cepat. Umat, organisasi Islam, yayasan amal, serta lainnya, diimbau untuk bekerja sama terutama dalam penggalangan dana, agar bisa diadakan kembali pelatihan-pelatihan bagi para dai dan imam.

Selain itu, umat Muslim di Brazil membutuhkan ribuan buku keislaman berbahasa Portugis. Maklum saja, Brazil adalah satu-satunya negara di Amerika Latin yang menggunakan bahasa Portugis.

Kebanyakan buku dan literatur keagamaan bagi kawasan ini ditulis dengan bahasa Spanyol. Dan, hanya sedikit sekali yang sudah merupakan terjemahan bahasa Portugis.

Mengutip dari situs berita Aljazeera, kalangan Muslim di Brazil menduga hambatan ini disebabkan dua faktor utama, yakni faktor eksternal dan internal. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: ap

REKOMENDASI

Leave a Comment