Bersandiwara Dalam Rumah Rangga

berdua

 

 

Assalamu’alaykum wr.wb…… Pak Ustadz mohon nasihatnya dalam menghadapi persoalan rumah tangga saya yang tidak lagi harmonis ini. Ceritanya menjelang berganti tahun, saya mengajak istri mengevaluasi hubungan kami setahun ke belakang dengan harapan tahun depan akan lebih baik. Namun, setelah kami saling berbicara secara jujur, ternyata banyak yang sandiwara yang telah kami lakukan. Apa yang harus kami lakukan, Ustadz? Apakah kami harus mempertahankan pernikahan yang penuh sandiwara ini atau menyelesaikannya lewat perceraian karena kami sama sekali tidak cocok? Mohon pencerahannya ustadz dan terima kasih. ( BB by email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam wr.wb…. Begini pak Bondan dan pembaca sekalian, kita sering berpikir bahwa jika kira suami istri saling jujur itu pasti baik. Belum tentu kenyataannya menjadi indah dan harmonis jika suami istri itu saling terbuka menceritakan yang sebenarnya. Menurut para ahli filsafat atau filsuf yang berpendapat bahwa hidup itu menjadi indah dan harmonis karena terletak di antara realitas, impian, dan kebohongan. Itulah sebabnya ada saatnya bohong itu diperbolehkan, misalnya untuk menjaga perasaan orang lain. Tentu saja hal itu ada batasannya. Yang tidak boleh adalah bohong dengan niat buruk.

 

Akan tetapi kalau misalnya, suami memuji istri dengan sedikit melebih-lebihkan dari keadaan yang sesungguhnya tentu saja diperbolehkan. Maksudnya, kehidupan berumah tangga bukan berarti harus terbebas dari sandiwara. Saya rasa tidak ada keluarga yang dibangun dari 100% kejujuran, keterbukaan hingga tidak ada rahasia lagi.  Pasti ada saja ‘kebohongan’ positif agar hubungan suami istri nampak indah dan terus langgeng.

 

Akan tetapi, sangat nista bila rumah tangga di bangun di atas kebohongan alias lebih banyak sandiwara daripada kejujurannya. Sehingga, kebohongan yang dimaksud di sini haruslah proporsional dan tidak berlebihan. Itulah sebabnya Rasul membolehkan kita berbohong kepada pasangan dengan niat menyenangkan hati mereka. Tentu saja, bohong yang dimaksud jangan sampai menyalahi syariat. Karena, bisa jadi rumah tangga terasa lebih manis bila ditambah bumbu ‘kebohongan’. Tapi ingat! Jangan sampai Anda menganggap bahwa kebohongan adalah modal utama untuk membina keluarga. Tentu ini pendapat yang salah dan tidak bisa dijadikan landasar berbuat.

 

Tentu hal itu sangat keliru. Sangat berbeda antara bahan baku dan bumbu dalam masakan, bukan? Malah dalam beberapa kasus, kejujuran yang disampaikan apa adanya justru malah dapat menyakitkan perasaan pasangan. Misalnya, mengungkapkan kekurangan atau keburukan pasangan yang tidak disukainya secara terbuka dan terus terang.

promo oktober

 

Kembali ke pertanyaan, sebenarnya Anda tidak sedang bersandiawara karena bila kita hendak menyenangkan hati pasangan, tentu itu adalah sesuatu yang baik. Misal, sebenarnya kita kesal dengan suami. Tetapi, saat suami pulang kita menunjukan wajah yang ramah, tentu itu adalah amal ibadah. Rasul bersabda, “Wajah ramahmu adalah sedekah,” terlebih bila diamalkan kepada pasangan. Tentu saja, setelah situasi kondusif dan membaik, kita utarakan kekesalan kita dengan cara yang baik sebagai bagian dari evaluasi. Sehingga, janganlah kita berpikir bercerai bila kebohongan itu masih bisa di toleransi. Untuk membahas permasalahan rumah tangga secara detail, saya sendiri sudah menulisnya dalam sebuah buku yang berjudul Insya Allah Sakinah  dan Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga sehingga Anda bisa membacanya secara rinci dan solutif tentang membangun rumah tangga yang harmonis. Wallahu a’lam. [ ]

 

Buku Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

REKOMENDASI

Leave a Comment