Hukum Menshalati Jenazah Mati Bunuh Diri

bunuh diri

Assalamu’alaykum. Pak Ustadz, bagaimana sikap kita kalau ada orang yang meninggal karena bunuh diri? Apakah wajib dimandikan dan dishalatkan?. Mohon penjelasannya. Terima kasih. ( Aan by email)

 

 

 

Wa’alaykumsalam. Iya fenomena orang yang bunuh diri hingga saat ini masih sering terjadi baik dalam masyarakat moderen maupun tradisional, di kota maupun di kampung. Sementara pelakunya juga beragam dari orang awam atau masyarakat biasa hingga selebritis sekali pun. Tinjauan secara psikologis menyebutkan para pelaku bunuh diri adalah karena mempunyai masalah yang sangat berat sehingga ia merasa tidak mampu untuk menyelesaikan dengan akal sehat.

Orang yang bunuh diri adalah orang yang berputus asa. Mereka menyangka bahwa hidup hanya di dunia ini. Persoalan yang dihadapi dianggap selesai dengan berakhirnya hidup. Padahal tidak demikia, kematiannya justru menjadi pintu awal memasuki kehidupan baru dan persoalannya di dunina tidak hilang atau selesai justru di kehidupan baru (akhirat atau alam kubur) akan mendapat penderitaan yang bertubi-tubi. Allah Swt mengharamkan seseorang membunuh dirinya sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Al Quran:

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An Nisa’: 29).

Bunuh diri termasuk dosa yang sangat besar, karena pelakunya diancam oleh Nabi Saw untuk disiksa di neraka dengan cara sebagaimana dia membunuh jiwanya. Padahal orang yang melakukan bunuh diri sampai mati, tidak ada lagi kesempatan bertaubat baginya. Seperti hadits yang disampaikan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda:

kalender percikan iman 2018

Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati maka di neraka jahanam dia akan menjatuhkan dirinya, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang menegak racun sampai mati, maka racun itu akan diberikan di tangannya, kemudian dia minum di neraka jahanam, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang membunuh dirinya dengan senjata tajam maka senjata itu akan diberikan di tangannya kemudian dia tusuk perutnya di neraka jahanam, kekal selamanya.” (HR. Bukhari  dan Muslim).

Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw bersabda,

Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya pada hari kiamat, niscaya ia akan disiksa dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lalu bagaimana dengan status ketika yang bunuh diri tersebut seorang yang diketahui muslim apakah dia tetapa dalam keadaan muslim?. Dalam hal ini ada dua pendapat yakni pertama, orang yang bunuh maka ia telah murtad atau keluar dari Islam. Alasannya ketika ia berputus asa hingga mengakhiri hidupnya maka pada hakikatnya ia sudah tidak memiliki iman. Ia sudah hilang akal sehatnya sehingga tidak ada keimanan dalam hatinya sekali pun. Sebab ia telah dianggap murtad maka ia jatuh kepada kekafiran sehingga orang yang mati bunuh diri tidak berhak mendapatkan hak selayaknya seorang muslim termasuk tidak wajib di shalatkan.

Sementara pendapat kedua meskipun ia mati bunuh diri namun tidaklah dihukumi keluar dari Islam atau murtad. Artinya, meskipun dia mati buruk dan tercela (suul khotimah), namun dia tetap muslim, sehingga jenazahnya tetap wajib disikapi sebagaimana layaknya jenazah seorang muslim. Dia wajib dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin. Urusan dosa adalah tanggungan si pelaku dan kewajiban yang masih hidup adalah memberikan haknya bagi si mayit.

Namun menurut pendapat kedua ini, ada satu yang membedakan, dianjurkan bagi pemuka agama dan masyarakat, seperti ulama setempat atau pemerintah desa setempat atau tokoh masyarakat agar tidak turut menshalati jenazah ini secara terang-terangan, sebagai hukuman sosial dan pelajaran berharga bagi masyarakat. Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah seperti yang disampaikan dari Jabir bin Samurah ra, beliau menceritakan,

Pernah dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang jenazah korban bunuh diri dengan anak panah, dan beliau tidak bersedia menshalatinya. (HR. Muslim).

Dalil yang menunjukkan akan terbebasnya kewajiban shalat kepada pelaku kemaksiatan atau pelaku bunuh diri adalah apa yang diriwayatkan oleh Samurah ra,

Ada orang yang bunuh diri dengan pisau, maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Kalau saya, maka saya tidak shalatkan dia.” (HR. An Nasa’i no. 1964 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Dari keterangan hadits tersebut dampat dipahami nampaknya Rasulullah Saw  menyetujui para sahabat yang menyalatinya orang yang meninggal karena maksiat atau dosa besar termasuk mati karena bunuh diri. Namun Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam enggan menyalatinya sebagai hukuman terhadap kemaksiatannya dan sebagai pelajaran bagi orang lain atas perbuatannya. Wallahu’alam. [ ]

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui i Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/ .

 

REKOMENDASI

Leave a Comment