Memahami Kabar, Otoritas Ilmu dan Tradisi

baca koran 2

Oleh: Arif Munandar Riswanto*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting di dalam Islam. Hal tersebut, misalnya, bisa dilihat dari perhatian Islam yang sangat besar terhadap segala hal yang berhubungan dengan ilmu—hakikat ilmu; orang berilmu; cakupan ilmu; sumber-sumber ilmu; tingkatan ilmu; tujuan mencari ilmu; serta niat, jalan dan cara mencari ilmu. Tidak diragukan lagi bahwa Islam adalah agama yang berasaskan ilmu.

Namun, tidak semua ilmu memiliki nilai dan sumber yang sama. Dalam akidah Islam dijelaskan bahwa ilmu datang bukan dari satu sumber, tetapi berbagai sumber. Dalam ‘Aqāi’d An-Nasafī (Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Oldest Known Malay Manuscript, Kuala Lumpur: University of Malaya, 1988, hal. 101-5), dijelaskan bahwa ilmu bisa datang dari panca indera (al-khawāshsh al-khamsah), akal sehat (al-‘aql as-sālim), kabar yang benar (al-khabar aādiq), dan intuisi (ilhām). Hal yang menarik dari seluruh saluran ilmu tersebut adalah posisi kabar. Dalam struktur keilmuan Islam, kabar ternyata bisa menjadi salah satu saluran ilmu. Bahkan, dalam tingkat validitas yang lebih tinggi—seperti kabar yang dibawa oleh para Nabi dan pembawa berita (rawi) yang otentik ilmu dan akhlaknya—otentisitas kabar bisa mengalahkan otentisitas panca indera dan akal sehat.

Namun, kabar yang harus menjadi sumber ilmu pun bukan kabar sembarangan, tetapi kabar yang benar atau jujur. Di sini, sifat “benar” dari sebuah kabar menjadi sangat penting. Sebab, kabar yang tidak benar lebih dari sekadar gosip atau rumor. Ia tidak boleh menjadi ilmu dan sumber ilmu. Kebenaran harus menjadi nilai yang sangat penting dalam sebuah kabar sebab sejarah Islam pun tidak luput dipenuhi oleh kabar-kabar tidak benar. Terutama kabar-kabar yang ditulis dalam buku-buku sastra. Sebab lazimnya, buku-buku sastra ditulis untuk tujuan senda gurau (hazl), kelakar (maza), dan hiburan (fukāhah). Oleh karena itu, tidak aneh jika buku-buku sastra selalu dipenuhi dengan cerita-cerita fiktif dan tidak masuk akal. Karena fiktif dan hanya untuk sekadar hiburan, kita sering menemukan cerita-cerita dalam buku sastra yang bertentangan dengan akidah, syariat, akhlak, dan akal sehat.

Secara tidak disadari, pada zaman sekarang, kabar-kabar tidak benar tersebut sering dikutip oleh para ilmuwan tanpa sikap yang kritis. Seperti tuduhan yang baru-baru ini ditulis oleh seorang cendekiawan bahwa ada di antara para ulama Muslim yang diindikasikan pelaku homoseksual. Namun sayang, selain hanya mengutip karya-karya sastra sebagai dasar asumsinya, untuk tuduhan yang sangat besar seperti homoseksual, tulisan dari cendekiawan tersebut melupakan sumber-sumber lain yang justru lebih melimpah ruah dan bertentangan dengan asumsinya. Sebuah sikap yang jauh dari sifat adil. Di sini anomali besar akan kita temukan: kabar yang menerangkan tentang homoseksual diterima, tetapi kabar tentang kodifikasi al-Quran yang diterangkan dalam berbagai riwayat yang sahih dan diterima secara aklamasi oleh umat Islam selama berabad-abad justru ditolak. Kalaupun benar ada para ulama yang terindikasi pelaku homoseksual, kita harus mengemukan pertanyaan lebih jauh: apa dampak kepada masyarakat ketika itu dan generasi-generasi selanjutnya? Kenapa justru perbuatan homoseksual masih terus ditentang oleh umat Islam sampai zaman sekarang? Ini dengan landasan bahwa ilmu dan akhlak para ulama selalu menjadi rujukan dan sumber otoritas masyarakat Muslim. Ulama adalah orang yang menggantikan sekaligus mewarisi peran risalah para Nabi.

promooktober1

Tuduhan di atas hanya sedikit contoh dari tuduhan-tuduhan yang selama ini sering dialamatkan kepada ulama dan sejarah Islam. Tuduhannya sebagian besar berasal dari sumber yang sama: kabar yang tidak benar. Seperti cerita-cerita berlebihan dan fiktif yang ditulis dalam kitab “Al-Aghānī”, sebuah karya sastra yang disebut oleh salah seorang ilmuwan sebagai “sungai beracun” (an-nahr al-masmūm). Menurut Yusuf al-Qaraḍāwī, buku-buku sastra selama ini telah memberikan saham bagi distorsi sejarah Islam (Lihat Yusuf al-Qaraḍāwī, Tārīkhunā al-Muftarā ʿAlayh, Kairo: Dār ash-Shurūq, 2005, hal. 21, 255-65). Jika karya-karya sastra banyak yang seperti itu, apakah dalam perkara-perkara besar seperti metafisika, epistemologi, syariat, dan akhlak, karya-karya tersebut layak untuk dijadikan sumber validitas dan otoritas ilmu?

Selain bersumber dari kabar tidak benar, tuduhan seperti itu seperti berupaya melakukan generalisasi bahwa masyarakat Muslim bisa menerima sebuah perbuatan yang pada hakikatnya justru bertentangan dengan akidah, syariat, dan akhlak Islam. Ia seperti menarik gambaran umum dan kesimpulan tentang kondisi umat Islam dari film-film yang jauh dari ajaran-ajaran Islam. Seolah-olah kondisi nyata umat Islam zaman sekarang adalah seperti yang digambarkan dalam film-film tersebut. Mengabaikan aspek-aspek kebaikan lain yang justru menjadi fakta mainstream tetapi jarang digambarkan dalam film-film. Karena tidak bisa menjadi rujukan otentik, film-film seperti itu tidak bisa mencerminkan tentang otoritas, tradisi, dan identitas umat Islam sebenarnya.

 

Kabar, Otoritas Ilmu dan Tradisi

Di dalam struktur keilmuan Islam, posisi kabar yang benar mencerminkan tentang hakikat otoritas dan tradisi ilmu. Di sini definisi mutawātir memiliki peran yang sangat penting, termasuk mutawātir dalam perkara-perkara besar seperti akidah, syariat dan akhlak. Dalam sejarah Islam, jika ada kelompok yang keluar dari arus mainstream (al-sawād al-aʿẓam) umat Islam, mereka biasanya akan masuk ke dalam kategori menyeleweng dan ekstrem. Sebab Rasululah S.A.W sendiri telah menjamin bahwa arus mainstream (as-sawād al-aʿẓam) umat Islam tidak akan sepakat untuk membuat kesesatan bersama. Arus mainstream adalah perwujudan dari epistemologi Islam tentang kabar yang benar, otoritas dan tradisi ilmu yang ada di dalam Islam. Ia juga penjelmaan dari sifat Islam yang merupakan satu-satunya agama wahyu (revealed religion), agama yang menurut Prof. Syed Naquib al-Attas sudah dewasa dari semenjak diturunkan serta tidak terlibat dalam proses historisasi dan dialektika tesis-antitesis-sintesis (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1995, hal. 2, 4). Sifat asasi yang ada dalam agama Islam tersebut kemudian diwujudkan dalam sejarah Islam.

Pentingnya berpegang teguh kepada kabar-kabar benar karena ia merupakan manifestasi dari konsep ilmu, akidah, akhlak, dan identitas umat Islam. Sebab dalam Islam, ilmu adalah bagian dari akidah. Dalam tradisi ilmu kalam misalnya, pembahasan tentang konsep wujud selalu dimulai dengan pembahasan tentang konsep ilmu (Lihat ʿAbd al-Qāhir ibn Ṭāhir at-Tamīmī al-Baghdādī, Uūl ad-Dīn [Istanbul: Maṭbaʿah ad-Dawlah, 1928, hal. 4-32]; al-Juwaynī, ash-Shāmil fī Uūl ad-Dīn, ed. ʿAlī Sāmī an-Nashār et. al. [Alexandria: Mansha’ah, 1969, hal. 97-123]; Sayf ad-Dīn al-Āmidī, Abkār al-Afkār fī Uūl ad-Dīn, ed. Aḥmad Muḥammad al-Mahdī, 5 vols. [Cairo: Dār al-Kutub wa al-Wathā’iq al-Qawmiyyah, 2004, hal. 71-214]; Fakhr ad-Dīn ar-Rāzī, Muaṣṣal Afkār al-Mutaqaddimīn wa al-Muta’akhkhirīn [Beirut: Dār al-Fikr al-Lubnānī, 1992, hal. 23-46]). Konsep ilmu tersebut kemudian menjelma menjadi otoritas, tradisi, dan identitas umat Islam. Dalam skop yang lebih besar, konsep ilmu tersebut telah mampu membangun peradaban Islam yang gemilang dan berbeda dengan peradaban-peradaban lain. Ia menjadi bagian dari woldview Islam dalam melihat realitas dan kebenaran.

Ketika mengomentari para orientalis yang sering tertuju kepada kabar-kabar palsu yang meruntuhkan otoritas ilmu dan tradisi Islam, dalam sebuah seminar bertajuk “al-Islām wa al-Mustashriqūn”, Abu al-Ḥasan an-Nadwī pernah berkata, “Mereka seperti tukang sampah. Mata mereka tidak tertuju kecuali kepada kotoran saja. Tujuan mereka adalah mencari kotoran tersebut!” Mereka melihat sejarah dan tradisi Islam dengan kacamata mikroskop sehingga biji menjadi kubah, kucing menjadi unta, dan semut menjadi gajah (Yusuf al-Qaraḍāwī, Tārīkhunā, hal 306-7). Sebuah sikap yang jauh dari sifat adil. Dan semua itu bermula dari asumsi-asumsi yang bersumber dari kabar palsu. Sebuah asumsi yang akan meruntuhkan otoritas ilmu, tradisi, dan identitas umat Islam.Wallahu’alam.[ ]

*Penulis adalah mahasiswa Ph.D Centre for Advanced Studies on Islam Science and Civilisation, Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM) Kuala Lumpur

 

Arif Munandar

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected] atau: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment