Belum Sempurna Suatu Ibadah Tanpa Sunnah

shalat, munajat

PERCIKANIMAN. ID. Ibadah sunnah kerap dipandang sebelah mata. Bisa jadi karena sedari dulu kita diajarkan pengertian sunnah yang kurang tepat. Kita sering mengartikan istilah sunnah dengan pengertian; “Bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak masalah.” Makanya tak heran bila ibadah satu ini sering disampingkan, dengan alasan “tidak masalah.”

Akan tetapi betulkah demikian pengertian sunnah? Secara bahasa kata ‘sunnah’ berasal dari Bahasa Arab yang berarti ‘perjalanan hidup’. Sedangkan menurut syariat, pengertian sunnah yang umum adalah “segala bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan), taqrir (penetapan), serta akhlak yang dialkukan oleh Rasullulah sebagai tasyri’ (pensyari’atan) bagi ummat Islam.” Hal ini senada dengan pendapat ulama ternama umat Islam, Ibnu Taimiyah (1263-1368) dalam Majmu’ Fataawaa-nya, “Sesungguhnya As-Sunnah itu adalah syari’at, yakni yang disyari’atkan Allah kepada Rasul-Nya untuk agama ini (Islam).”

Melihat sekilas pengertian sunnah di atas, kita bisa menarik kesimpulan sementara bahwa sunnah adalah aturan (syariat) yang diajarkan Rasul kepada umatnya guna menjalani Islam sehari-hari. Tak ada satupun keterangan yang menyatakan bahwa sunnah adalah ibadah yang ‘tidak apa-apa’ bila ditinggalkan. Bahkan salah satu sabdanya menaytakan, “kutinggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat apabila kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya”. (HR. Malik).

Hal ini dipertegas oleh penjelasan  Prof. Dr. Salim Umar, mantan Ketua Komisi Fatwa MUI Jabar. Menurutnya, “tidak lengkap ibadah seseorang tanpa sunnah.” Ia menegaskan bahwa ibadah sunnah merupakan tolak ukur kesempurnaan ibadah, bahkan pribadi muslim itu sendiri. Semakin seorang muslim mencintai sunnah maka semakin baik ibadah dan imannya. “Bila seorang muslim menyepelekan sunnah, kita bisa saja ragu soal keimanannya bukan?” tanya Salim Umar .

Salim Umar memberi istilah ibadah wajib sebagai ‘program minimal’. Bila kita ingin maksimal, apalagi sempurna kudu dibarengi dengan ibadah sunnah. “Bila seseorang hanya mengerjakan yang wajib saja, maka ia hanya mengejar seseuatu yang kecil,” ungkapnya. Bukankah kita selalu ingin tampil sempurna bila bertemu dengan orang penting? Seperti itu pulalah kita ketika hendak menuju surga. Tentu kita harus mengenakan ‘pakaian’ terbaik dan menyuguhkan amal yang sempurna pula. “Apa pantas kita memasuki tempat mulia dengan pakaian compang-camping?”

kalender percikan iman 2018

Bila shalat kita ibaratkan pakaian. Maka, merujuk penjelasan Salim Umar, shalat fardu saja abelum cukup. Karena baru sebatas pakaian yang menutup aurat, belum mengenakan pakaian yang bagus. Bahkan, bila shalat kita tak dibarengi dengan khusyu bisa jadi pakaian yang kita kenakan masih compang-camping. Karena itu, ibadah sunnah diperlukan untuk menambal dan memperindah pakaian yang kita kenakan.

“Shalat Rawatib misalnya,” Salim Umar melanjutkan, “punya dua fungsi; selain penambah pahala ia juga berfungsi sebagai penyempurna shalat fardu.” Terus terang saja, ibadah shalat fardu kita tentu sangat jauh dari sempurna. Bahkan untuk khusyu sekalipun kita kesulitan. Nah, melalui shalat rawatib kita berarti telah berupa untuk menutupi kekurangan kita selama shalat fardu. “Sekarang bayangkan, bila seorang muslim tak shalat rawatib? Betapa sombongnya ia karena merasa shalatnya sempurna,” sindir Salim Umar.

Bahkan Imam Syafii menggolongkan ibadah sunnah shalat rawatib sebagai Sunnah Muakkad yang artinya sunnah yang sangat kuat dan dianjurkan untuk dikerjakan. Sama seperti Shalat Idul Fitri atau Idul Adha, yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Perihal shalat rawatib, Abu Hanifah hampir menyertarakan ‘keharusan’ shalat ini seperti shalat fardu. Artinya, jangan sampai tidak shalat rawatib. “Pendapat Abu Hanifah tak berlebihan,” ungkap Salim Umar.

Mengingat Rasul pun tak pernah meninggalkan shalat rawatib. Salim Umar menjelaskan, terdapat lima rawatib yang paling utama dan tak pernah ditinggalkan oleh Rasul; Qobliyah Subuh dan Dzuhur, serta Ba’diyah Magrib, Dzuhur, dan Isya.

Bila dipikir lagi, bukankah Rasul telah dimaksum masuk surga. Lantas mengapa beliau tak pernah meninggalkan shalat rawatib? Inilah pribadi rasul yang langka dimiliki oleh pemimpin lain. “Dia memimpin melalui budi pekerti, karena itu Muhammad berhasil membuat Islam diterima di seluruh dunia,” ungkap Michael H. Hart dalam The 100 (1978). Inilah pribadi Rasul, pemimpin umat Islam, yang menjadikannya orang paling berpengharuh di dunia sepanjang masa. Melalui teladannya, Rasul mencontohkan kepada umatnya untuk senantiasa bersungguh-sungguh dan selalu memberikan yang terbaik dalam bertauhid kepada Allah.

Bila kita melihat kesungguhan rasul dalam mencontohkan shalat rawatib, apa masih berpikir untuk meninggalkan sunnah dan berdalih ‘tidak masalah.’ “Rasul saja, yang sudah sempurna shalat dan ibadahnya masih melakukan rawatib, apalagi kita yang banyak khilafnya,” tambah Salim Umar. Anggapan tentang ibadah sunnah yang ada dibenak masyarakat rupanya perlu direvisi. Ini baru perkara shalat, belum ibadah lain.

“Puasa misalkan lagi, syariat puasa bagi umat Islam berlaku hampir sepanjang tahun,” papar Salim Umar. Maksudnya adalah dalam rentang satu tahun selalu saja ada kesempatan untuk berpuasa. Ia memberi ilustrasi, bila Ramadhan adalah adalah kesempetan satu tahun sekali, maka puasa pertengahan bulan adalah amalan sunnah yang bisa kita manfaatkan setiap bulan. Sedangkan puasa senin-kamis berada dalam daftar amalan sunnah mingguan. Bahkan, bila kita gigih mencari puasa terbaik, maka Shaum Daud adalah amalan yang bisa kita manfaatkan hampir setiap hari.

Amalan ibadah sunnah inilah yang bisa kita jadikan amunisi pahala kita. Bukankah ibadah wajib itu terbatas jumlahnya dan waktunya. Maka, dengan memerhatikan ibadah sunnah yang lebih banyak diharapkan mampu meningkatkan nilai ketakwaan kita disisi Allah. Karena ibadah wajib saja belum cukup, sempurnakan dengan sunnah.

Mencintai Rasul, Menggapai Surga Ilahi

Menjalankan ibadah sunnah bagi seorang muslim sangat dianjurkan. Bahkan Rasul memeringatkan kita perihal sunnah dalam sabdanya, “nikah itu dari sunnahku, maka barangsiapa yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah ia dari golonganku!” (HR Ibnu Majah). Tentu saja bukan hanya nikah sunnah yang diajarkan oleh Rasul, hadist ini mencakup sunnah-sunnah lain bagi muslim. Para ulama dan ahli hadis menilai ancaman ‘bukan dari golonganku’ bukan perkara sepele.

“Di hari perhitungan nanti, tak ada satu syafaatpun yang bisa menyelamatkan kita dari api neraka kecuali syafaat dari Rasul,” pungkas Salim Umar. Tentu saja Rasul hanya memberi syafaat bagi mereka yang tekun beribadah dan melaksanakan sunnahnya. Bila kita tak masuk kedalam ‘golongan yang selamat’, maka dimanakah kita? Golongan orang yang sesat atau yang dimurkai (Al Fatihah : 7)? Jangan sampai, naudzubillah!

Karena itu, bagi Salim Umar, menjalankan sunnah bukan cuma perihal pahala semata tetapi sebagai bukti cinta kita kepada Rasulullah. Tidaklah salah ketika seseorang bershalawat untuk menunjukan bukti cintanya kepada Rasul. Akan tetapi, menjalani syariat dan sunnahnya tentu lebih utama. Dengan meneladani ahlak dan sifat ibadah rasul, tentunya kita berharap untuk meraih ridho ilahi semata.

Banyak sekali yang bisa kita contoh dari Rasul selaku teladan kaum mukmin. Tak hanya soal ibadah vertikal, tapi juga hal-hal yang bersifat horisontal sesama manusia dan alam semesta. “Mempererat tali silaturahmi dan memperbanyak sedekah misalnya,” tambahnya. Silaturahmi dan sedekah merupakan amalan sunnah yang punya segudang manfaat. Selain phala yang telah dijanjikan, kedua amal ini pula punya kelebihan di bidang sosial.

Melalui sulaturahmi diharapkan persaudaraan antar muslim makin kokoh. Dengan begitu, umat semakin kuat dan solid. Kita telah sama-sama menyaksikan bagaimana sejarah mencatat kekompakan umat muslim di zaman Rasul maupun sahabat. Ketika itu, Islam berdaulat hingga hampir 700 tahun! Keroposnya tiang-tiang kebesaran umat, bisa jadi disebabkan karena silaturahmi kita yang mulai terputus. Umat menjadi menjadi terpecah, sehingga mudah diadu domba.

“Berkelompok atau bergabung dengan ormas sah-sah saja, selama kita bisa menjaga silaturahmi dan memiliki visi yang sama untuk Islam,” pungkas Salim Umar.

Tentu saja, silaturahmi yang dimaksud merujuk pada pengertian yang luas dan dalam skala besar. Sedekah dan zakat pun punya fungsi pembangunan ekonomi umat yang tinggi. Melalui amalan-amalan yang multi dimensi ini, Rasul secara tidak langsung telah banyak mengajari kita. “Baik untuk keberlangsungan hidup kita di bumi dan kelak kebahagiaan yang abadi di akhirat.” (Iqbal)

REKOMENDASI

Leave a Comment