Masyarakat Diminta Kritis Jika Ada Upaya Kriminalisasi Ulama Oleh Polri

Bambang-widodo-umar

PERCIKANIMAN.ID – – Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar, mengatakan, jika masyarakat curiga akan adanya indikasi kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam, maka masyarakat harus bersikap kritis terhadap kepolisian. Ini perlu dilakukan agar polisi bekerja secara profesional.

Polisi yang saat ini tengah memproses hukum sejumlah aktivis Islam dan pemimpin ormas Islam, seperti kasus pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab maupun Buni Yani.

“Masyarakat harus kritis terhadap segala aktivitas polisi dalam penegakan hukum,” kata Bambang seperti dikutip dari republika.co.id, Senin (23/1/2017).

Menurut Bambang, sikap tersebut sangat diharapkan dalam menyikapi indikasi adanya kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam. Polisi perlu dipaksa agar bekerja secara profesional.

Kendati demikian, kata Bambang, masyarakat juga perlu mengkritik secara legal dan proporsional. Sementara itu, kata Bambang, polisi juga harus bekerja obyektif dan tidak reaktif dalam menangani kasus tersebut.

kalender percikan iman 2018

Bambang mengharapkan polisi maupun pihak pendukung pemimpin ormas Islam dan aktivis Islam tidak membangun hubungan saling bermusuhan.

“Juga mengakui jika tindakannya salah berani minta maaf, jangan merasa benar sendiri,” kata Bambang.

Sementara menanggapi kasus Nurul Fahmi, pembawa bendera RI bertuliskan Arab (tauhid) yang kini ditahan Polda Metro Jaya pakar hukum pidana Universitas Indonesia (UI) Ganjar L Bondan menolak anggapan yang menyebut seluruh bendera Merah-Putih disebut sebagai lambang negara. Soal bendera sebagai lambang negara itu sudah diatur dalam undang-undang.

“Kalau kita bicara mengenai kejahatan terhadap bendera, harus lihat dulu. Harus paham dulu apa itu bendera. Yang utama, di UU No 24 Tahun 2009 Pasal 4, itu disebutkan apa itu bendera. Dan ukuran-ukuran bendera, dan masing-masing keperluannya. Jadi, kalau melihat apa yang ada di pasal 4 itu, tidak semua benda yang atasnya merah bawahnya putih adalah bendera,” kata Ganjar dikutip dari detikcom, Minggu (22/1/2017) malam.

“Jadi kita harus lihat dulu, apakah yang warna merah dan putih itu bendera atau bukan. Kalau ternyata bendera, baru ada larangannya. Larangannya termasuk mencoret-coret,” ucap Ganjar. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Foto: republika

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment