Inilah Ciri-ciri Orang yang Mendapat “Hayatan Thayyibah”

wudhu

Oleh: Abdurrahim Dany Suganda *

Setiap manusia bisa dipastikan menginginkan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah)  di dunia maupun kelak  di akhirat. Semua manusia mempunyai hak mendapat kehidupan yang baik tersebut,asal memenuhi syaratnya yakni beriman lalu mengerjakan amal shaleh. Hal telah Allah Swt tegaskan dalam firman-Nya:

Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, pasti Kami akan berikan kehidupan yang baik ke¬padanya dan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “.(QS An Nahl :97)

Dari ayat di atas, menjadi jelas bahwa permintaan kita dalam doa meminta kehidupan yang baik akan dikabulkan oleh Allah Swt baik laki-laki maupun perempuan beriman kepada Allah Swt dan membuktikan keimanan itu dalam bentuk beramal shaleh. Bahkan balasan yang diberikan Allah akan jauh lebih besar dari amal yang kita lakukan.

Namun yang perlu disadari dan dipahami bahwa hayatan thayyibah itu bukan berarti kehidupan mewah dengan segala kesenangan duniawi yang luput dari ujian, akan tetapi kehidupan yang baik itu adalah kehidupan yang diliputi oleh rasa lega, kerelaan serta kesabaran dalam menerima cobaan dan rasa syukur atas nikmat Allah berikan pada kita.

promo oktober

Sebagian kita mungkin aakan bertanya apa parameter atau kriteria sehingga kehidupan kita termasuk hayatan thayyibah. Jika mengacu pada pendapat para ahli tafsir (mufassir) mulai dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas sampai Sayyid Quth, hingga ulama kontemporer Wahbab Zuhaili dan sebagainya, paling tidak ada tujuh parameter kehidupan seseorang yang mendapatkan predikat hayatan thayyibah tersebut,yakni:

1. Rezeki Yang Halal

Setiap manusia tentu membutuhkan rezeki berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Untuk itu, manusia harus mencari nafkah dengan berbagai usaha yang halal. Bagi seorang muslim, mencari rizki secara halal merupakan salah satu prinsip hidup yang sangat mendasar dan tidak boleh ditawar. Kita tentu menghendaki dalam upaya mencari rizki, banyak yang bisa kita peroleh, mudah mendapatkannya dan halal status hukumnya. Namun seandainya sedikit yang kita dapat, susah mendapatkannya selama status hukumnya halal jauh lebih baik daripada mudah mendapatkannya, banyak perolehannya namun status hukumnya tidak halal. Karenanya memperoleh rezeki yang halal merupakan ciri kehidupan yang baik, maka Allah swt mencintai orang yang demikian sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hamba-Nya lelah dalam mencari yang halal” (HR. Ad Dailami).

2. Qonaah

Ketika rezeki halal sudah kita peroleh,maka sikap orang yang mencapai derajat kehidupan yang baik adalah selalu qonaah atau menerima rezeki itu dengan senang hati meskipun jumlahnya kadang belum mampu mencukupi kebutuhan. Apa yang kita peroleh tidak selalu jumlahnya mencukupi apalagi melebihi dari seperti yang kita inginkan. Sikap yang terbaik adalah menerima terlebih dulu apa yang kita peroleh dengan rasa syukur, sedangkan kurangnya bisa kita cari lagi. Pada hakekatnya orang yang tidak qonaah itu tidak menghargai jerih payahnya sendiri karena ia merasa sia-sia atas apa yang telah ia usahakan sementara hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Bila usaha sendiri saja sudah tidak bisa dihargai, apalagi usaha orang lain.

3. Kebahagiaan.

Bagi seorang mukmin, ukuran kebahagiaan bukanlah hanya semata-mata dari aspek duniawi, tapi yang terpenting adalah bila bisa menjalani kehidupan dalam kerangka pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Oleh karena itu bila seseorang sudah beriman dan beramal shaleh ia akan merasakan kebahagiaan karena kehidupannya di dunia memberi kontribusi manfaat kebaikan, sedangkan di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam surga dan ini merupakan kebahagiaan yang tidak terkalahkan oleh apapun juga.

Sebaliknya bila seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam apalagi sampai merugikan orang lain, maka tidak ada kebahagiaan yang ia rasakan, tapi justeru hidupnya diliputi oleh kegelisahan dan kekhawatiran, tidak hanya dalam konteks kehidupan dunia tapi juga kehidupan akhirat yang tidak memiliki harapan yang cerah bagi kebahagiaan. Kebahagiaan itu hanya diberikan kepada orang yang beriman sementara kesenangan itu diberikan kepada orang-orang kafir.

4. Ketenangan.

Bagi seorang muslim,setiap perbuatan dosa akan membuat kehidupannya menjadi tidak tenang, karenannya dengan iman dan amal shaleh, kehidupan yang kita jalani insya Allah terhindar dari dosa yang membuat kita menjadi tenang. Dosa menjadi faktor kegelisahan telah disebut dalam hadits Rasulullah Saw:

Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dalam hati seseorang, sedangkan ia tidak setuju kalau hal itu diketahui oleh orang lain”. (HR. Ahmad).

Bagi mukmin sejati enak dan tidak enak merupakan ujian yang harus dihadapi sehingga ia tidak takut dengan akan kemungkinan hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi pada diri dan keluarganya, sesulit apapun pasti ada jalan keluar dan kemudahan.

5. Ridho

Kehidupan yang baik bagi seorang muslim itu tercermin pada sikap ridho bahwa Allah Swt sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul yang diyakini dan diteladani dalam kehidupan ini. Sikap ini merupakan sesuatu yang amat penting sehingga bisa menjalankan ajaran Islam dengan senang hati dan penuh penghayatan dan sikap seperti inilah yang memastikan seorang muslim akan dimasukkan oleh Allah Swt ke dalam surga-Ny. Rasulullah Saw bersabda:

Barangsiapa yang ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, wajib baginya surga “.(HR. Muslim).

6. Syukur

Sudah pasti bagi manusia adanya kenikmatan yang diperolehnya dalam hidup ini sehingga kehidupan yang baik menuntutnya untuk bersyukur kepada Allah Swt. Perintah untuk senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah karuniakan kepada kita dapat dilihat dalam Al-Qur’an,

Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim :7).

Ketika menafsirkan ayat tersebut,Sayyid Quthub mengemukan bahwa ada dua prinsip bersyukur. Pertama, bukti bagi lurusnya barometer dalam jiwa manusia. Kebajikan itu harus disyukuri, sebab syukur adalah balasan alamiahnya dalam fitrah yang lurus. Kedua, jiwa yang bersyukur akan selalu bermuraqabah (mendekatkan diri kepada Allah Swt) dalam mendayagunakan nikmat yang diberikannya itu. Selanjutnya beliau menyatakan bahwa prinsip bersyukur seperti di atas bisa memberikan empat manfaat yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu mensucikan jiwa, mendorong jiwa untuk beramal shaleh. menjadikan orang lain ridha serta dan memperbaiki serta memperlancar interaksi sosial.

7. Sabar.

Sabar adalah menahan dan mengekang diri dari melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan Allah Swt karena mencari ridha-Nya. Orang yang hidupnya baik tidak mungkin melepaskan sifat sabar dari dirinya, apalagi dalam situasi sulit, karenanya Allah Swt mencintai siapa saja yang sabar. Gambaran orang-orang yang sabar ini telah Allah Swt kabar kepada kita melalui berfirman,

Betapa banyak nabi yang berperang dengan didampingi sejumlah besar pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak menyerah kepada musuh. Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (QS 3:146)

Implementasi dari sabar bukan hanya sampai dilisan semata yang bibirnya mengucap sabar namun hati dan perilakunya menunjukan sikap kekesalan dan selah marah kepada Allah dengan menganggap Allah tidak berlaku adil kepada dirinya. Sikap sabar itu berbanding lurus antara lisan,hati dan perbuatannya. Sikap sabar ini akan menjadi salah satu faktor dalam kehidupan kita,seperti yang Allah firmankan,

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah: 45-46)

Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa kehidupan yang baik itu tidak hanya membawa kebaikan bagi dirinya, tapi juga kebaikan bagi keluarga, orang lain,masyarakat bahkan terhadap alam semesta ini. Namun demikian yang perlu kita waspadai sebagai godaan dan cobaan adalah orang-orang terdekat kita. Boleh jadi mereka justru orang yang pertama dan terdepan dalam menghalangi kita dalam mendekat kepada Allah Swt untuk meraih ridho-Nya.

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”. (QS.At-Taubah: 24).

Semoga kita mampu meraih kehidupan yang baik tersebut baik di dunia hingga akhirat kelak dengan mencurahkan segala potensi baik harta,tenaga pikiran yang digunakan di jalan Allah untuk mendapat keridhoan-Nya. Wallahu’alam. [ ]
*Penulis adalah :
– Nara sumber Tadabbur Al-Qur’an MQTV dan tiap hari rabu jam 4 sore & (Maghrib Mengaji MQFM),
– Nara sumber Ta’lim Rutin Tadabbur Al-Qur’an di Masjid Agung Trans Studio Bandung tiap Sabtu sore jam 15.30.

 

Abdurahim Dani 2
Abdurrahim Dany Suganda

 

Editor: Iman

(Visited 49 times, 1 visits today)

REKOMENDASI