Bagaimana Keabsahan Doa Di Medsos?

sosila media

Pak Aam di era medsos sekarang ini kita sering dapat permintaan doa maupun menyebarkan doa orang lain terkait situasi yang dialaminya. Lantas kalau kita nge retweet status atau ngeshare doa di medsos, itu keabsahannya bagaimana ? Terima kasih. (Mira by bbm)

 

 

Iya di era teknologi sekarang, kita tidak bisa lepas dari teknologi yang berkembang, dampak yang harus dipertimbangkan adanya teknologi ini adalah dampak positif dan negatif. Penggunaan media sosial yang berkembang saat ini ada yang memang digunakan untuk berbuat kebaikan bahkan juga untuk berdakwah namun juga ada yang digunakan untuk keburukan dan tindak kejahatan. Bahkan dengan sekejap saja di era sekarang kita bisa sebar fitnah dengan cepat tanpa bisa terbendung atau ditarik kembali.

Namun sebagai muslim maka sebaiknya kita jangan sembarang menyebar atau broadcast informasi-informasi baik itu tentang agama, kesehatan, pendidikan, apapun itu jika kita masih ragu akan kebenaran informasi tersebut. Jalan yang harus ditempuh sebelum menyebarkannya adalah tabayyun. Hal ini seperti yang telah Allah Swt perintah kepada kita:

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian”.(QS.Al-Hujurât :6).

Apa itu tabayyun ?. Tabayyun itu hal yang dianjurkan dalam Islam jika kita menerima informasi dari orang lain mengenai sesuatu hal. Tabayun itu mengklarifikasi informasi kepada sumbernya secara langsung tidak melaluli orang lain. Tabayyun tidak boleh dilakukan kepada orang lain, kroscek harus dilakukan kepada sumber yang bersangkutan langsung.

Tugas kita dalam menginformasikan sesauatu harus selektif, kita perhatikan isi informasinya, sekiranya tidak akan menimbulkan permusuhan dan dosa itu bagus untuk di share, tetapi kalau sebalaiknya, maka tidak usah di sebarkan. Jikalau kita menyebarkan suatu fitnah atau informasi yang belum benar keabsahannya, sama saja kita sedang mengundang laknat Allah, Malaikat, dan kebanyakan orang. Karena orang-orang yang menyebarkan fitnah akan di benci oleh orang pada umumnya, sehingga banyak orang-orang yang mendoakan para pemitnah ini doa-doa yang tidak baik.

BACA JUGA  Wujudul Hilal yang Usang dan Jadi Pemecah Belah Ummat Harus Diperbarui

Dalam proses tabayyun harus diserahkan kepada ahlinya, tabayyun mengenai agama harus kepada ahli agama, tabayyun mengenai kesehatan, bisa tabayyun kepada dokter atau ahli kesehatan, tapi kalau tabayyun mengenai informasi yang sifatnya pribadi, itu harus langsung bertabayyun kepada orang yang bersangkutannya langsung. Hal ini dimaksudkan agar informasi yang di dapat akurat dan benar.

Kehidupan bermasyarakat dewasa ini tidak lekang dari isu, gosip sampai adu domba antar manusia. Keadaan ini diperkeruh oleh adanya sekelompok masyarakat menjadikan gosip dan `aib serta `aurat (kehormatan) orang lain sebagai komoditas perdagangan untuk meraup keuntungan dunia. Bahkan untuk tujuan popularitas ada yang menjual gosip yang menyangkut diri dan keluarganya.

Perilaku gosip yang telah menjadi penyakit masyarakat ini tidak disadari oleh kebanyakan pecandunya di dunia maya (medsos), bahwasanya menyebarluaskan gosip itu ibarat telah saling memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Allah Ta’ala menggambarkan demikian itu ketika melarang kaum beriman saling ghibah (menggunjing), menghina, menghujat bahkann fitnah dan sebagainya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Al-Qur`ân:

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurât:12).

Dari penyakit ini, syahwat akan meluas dan berkembang penyakit lain yang tidak kalah bahayanya, di antaranya kebiasaan berbohong dan bahayanya berbohong disebarkan melalui medsos. Tentu kita akan ikut berdosa jika kebohongan tersebut turut kita sebarkan kepada orang lain. Untuk itu jangan mudah terbujuk dengan ajakan untuk menyebarkan kabar yang belum tentu kebenarannya. Demikian juga dengan doa, sebaiknya sebelum mendoakan cek dulu kebenarannya atau cari sumber yang terpercaya. Wallahu’alam. [ ]

Editor: iman

 

Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected]  atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment