Puluhan Peraih Nobel Desak PBB Hentikan Pembersihan Etnis Muslim Rohingya

solidaritas rohingya

PERCIKANIMAN.ID – – Puluhan peraih hadiah Nobel dari berbagai Negara dan kategori, termasuk Uskup Desmod Tutu dan Malala Yousafzai, Kamis waktu AS mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) untuk menghentikan pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan (genoside) di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Seperti dilaporkan reuters dan dikutip dari antaranews, Jumat (30/12/2016) setidaknya hingga akhir Desember ini sudah 86 orang tewas dalam tindakan militer di Rakhine, yang dilancarkan setelah serangan ke kantor-kantor polisi di dekat perbatasan dengan Bangladesh pada 9 Oktober.

Pemerintah Myanmar yang sebagian besar penduduknya beragama Budha, menuding etnis muslim Rohing dengan dukungan milisi asing mengkoordinasikan serangan yang menewaskan sembilan polisi itu.

Lebih dari 30.000 orang mengungsi ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan. Peristiwa itu mengundang kritik dunia bahwa pemerintahan Aung San Suu Kyi tidak berbuat banyak untuk membantu para warga Rohingya khususnya kaum muslim yang tidak diberi kewarganegaraan di Myanmar.

Dalam surat terbuka kepada Dewan Keamanan, Desmond Tutu dan 22 sosok terkemuka lainnya, termasuk peraih Nobel Perdamaian Jose Ramos Horta dan Muhammad Yunus, mengatakan “tragedi kemanusiaan yang menjadi pembersihan etnis serta kejahatan terhadap kemanusiaa sedang terjadi di Myanmar”.

“Jika kita tidak mengambil tindakan, orang-orang bisa mati kelaparan kalau tidak mati terbunuh peluru,” demikian bunyi surat itu.

Surat itu memperingatkan bahwa kekerasan seperti itu pernah terjadi saat pembersihan etnis di Rwanda pada 1994 serta di Darfur-Sudan barat, Bosnia dan Kosovo. Para penandatangan surat mengatakan bahkan jika sekelompok etnis Rohingya berada di balik serangan 9 Oktober, tindakan yang dilancarkan militer Myanmar “sangat tidak seimbang”.

BACA JUGA  Belajar Kesahajaan Dari Rumah Tangga Ali Dan Fatimah

Pemerintah Myanmar membantah tuduhan bahwa militer mengerahkan kekuatan berlebihan dalam menangani serangan Oktober. Surat kepada Dewan Keamanan –yang beranggotakan 15 negara– diprakarsai oleh Ramos Horta dan Muhammad Yunus yang melancarkan revolusi pendanaan bagi kaum miskin di Bangladesh.

Juru bicara kepresidenan Dewan Keamanan PBB yang saat ini dijabat Spanyol, memastikan Dewan sudah menerima surat yang juga menungkapkan frustrasi para penanda tangan bahwa Suu Kyi, sang penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1991, tidak memberikan jaminan hak-hak kewarganegaraan bagi warga Rohingya. Surat juga berisi desakan agar pemerintah Myanmar mencabut segala pembatasan untuk bantuan kemanusiaan ke Rakhine.

Sementara mengenai jumlah korban dari kalangan muslim di Rohingya masih simpang siur dan tidak ada data yang akurat. Namun  menurut data prakiraan dari lembaga kemanusiaan local maupun internasional sejak rentetan kekejaman pada Muslim Rohingnya di Arakan, Myanmar yang telah berlangsung lebih dari 3 tahun ini telah menewaskan sedikitnya 15 ribu orang. Jumlah tersebut belum ditambah ada sekira 30 ribu Muslim dinyatakan hilang. Sementara ada 5. 000 orang yang lain ditahan, yang kebanyakannya yaitu pemuda. Puluhan ribu kaum muslim Rohingya juga mengungsi bahkan ada yang sampai di luar negeri yakni di wilayah Aceh Indonesia dan Malaysia. [ ]

 

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment