Masih Ikutan Pamer Hedon di Akhir Tahun?

tahun-baru-1

Oleh: Sarah Deasy Fitriyani*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Banyak kalangan yang ikut larut merayakan pergantian tahun. Sering dijumpai acara-acara besar atau pesta-pesta yang diadakan untuk merayakan hal ini. Pesta ini banyak diisi acara-acara yang ramai, heboh, dan diakhiri atraksi kembang api. Acara ini banyak dijumpai di Indonesia, negara yang memiliki populasi pemeluk Islam  terbanyak di dunia.

donasi perpustakaan masjid

Banyak dari umat Islam yang ikut larut dalam perayaan ini. Bahkan tidak jarang diikuti dengan hal-hal yang tidak dibenarkan syariat. Namun sialnya, banyak dari kalangan yang merayakan tahun baru, tidak mengerti sejarah perayaan ini. Hal ini bisa menjadi indikasi krisis identitas bagi banyak kalangan umat Islam itu sendiri.

Mengapa sejarah begitu penting? Michel Foucoult mengatakan bahwa penulisan sejarah merupakan praktik kekuasaan yang dituliskan dari pihak berkuasa. Pihak itu menulis sejarah dari sudut pandangnya dan menutupi sudut pandang dari pihak lain. Umat Islam sudah sejak beberapa abad tidak menjadi yang terdepan, baik secara teknologi maupun peradaban, di dunia. Hal ini membuat banyak fakta sejarah yang dituliskan dari sudut pandang barat, yang mendominasi dunia sekarang ini.

Banyak fakta sejarah yang dikaburkan. Hal ini membuat banyak budaya barat yang bisa diterima oleh umat Islam. Misalnya adalah sistem penanggalan. Sistem penanggalan Islam menggunakan waktu edar bulan. Sekarang ini, banyak negara Islam yang menggunakan penanggalan masehi, yang mengikuti waktu edar matahari. Hal ini menunjukkan pergeseran budaya dari umat Islam.

Budaya menjadi penting, karena budaya merupakan identitas yang membedakan suatu kaum dengan kaum lainnya. Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa jika seseorang meniru suatu kaum yang lain maka dia termasuk golongan kaum yang ditirunya tersebut. Semua ini menjadi semakin berbahaya, jika ternyata budaya yang ditiru ini sudah masuk ke ranah akidah.

Perayaan tahun baru masehi merupakan salah satu bentuk pengaburan fakta ini. Perayaan ini dianggap sesuatu yang wajar, dan patut dirayaka, sehingga banyak umat Islam yang ikut merayakannya. Padahal, sejarahnya tidaklah sesimpel itu. Perayaan tahun baru setiap 1 Januari ditetapkan oleh Julius Caesar semenjak tahun 46 SM. Perayaan ini dilakukan untuk menghormati Dewa Janus. Nama bulan Januari sendiri diambil dari dewa segala gerbang waktu itu. Dewa Janus adalah sesembahan kaum pagan yang memiliki dua wajah, menghadap ke masa lalu dan ke masa datang. Ada juga yang berpendapat perayaan ini berhubungan dengan gerak matahari. Kebetulan di Eropa ketika bulan Desember merupakan saat paling dingin. Baru pada tanggal 1 Januari matahari mulai mendekat. Maka perayaan 1 Januari dianggap sebagai perayaan menyambut kembalinya matahari.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment