Fenomena “Om Telolet Om “ Dari Kacamata Parenting

om-tolelot-om-2

Oleh: Elly Risman*

 

 

PERCIKANIMAN.ID – – CEPAT sekali fenomena Om Telolet Om (OTO) merebak dan nampak benar kedahsyatan kerja sosial media, langsung menembus manca negara dan menggelitik tokoh tokoh dunia .

Peniruan menjadi jadi. OTO juga digunakan juga dalam perang cyber kampanye Pilkada bahkan untuk mengeskpresikan rasa jengkel pada pernyataan pimpinan Negara, tokoh, kebijakan pemerintah sampai olok olok politik.

Bagi saya, kenyataan ini memilukan hati dan karena itu pula mungkin saya tidak berhasil menemukan apanya yang lucu dari fenomena ini.

Saya sangat prihatin dan sedih melihat bukan saja anak-anak dan remaja tapi juga orang dewasa dan ibu-ibu ikutan yang berdiri dipinggir jalan. Anak dan remaja ini bahkan ada yang berdiri di depan bus-bus, menghalangi jalannya , menyodor-nyodorkan tulisan di karton, lupa bahkan keselamatan dirinya hanya untuk meminta supir bus menekan tombol klakson dan gembira mendengarkan ragam suara yang keluar dari bus yang berbeda.

Untuk mengecek kewarasan pikiran saya yang saya kawatirkan terlalu berbeda dengan orang banyak, termasuk Menteri yang mengurusi masalah transportasi yang mengatakan bahwa bagi beliau ini bukan masalah. Beliau juga suka, asal jangan mengganggu arus lalu lintas dan membahayakan keselamatan jiwa.

Maka duduklah saya dan ibunya, di samping cucu lelaki sulung saya berusia 10 tahun yang sedang terbaring sakit. Kami menonton sebentar berita yang kebetulan sedang menyinggung berita OTO.

“Untuk Mendidik Seorang Anak, Butuh Orang Sekampung”

“Itu apaan sih ma?” tanyanya pada ibunya. Ibunya menjelaskan secara ringkas, lalu saya timpali.

“Astagfirullaaah!” ujarya.. “Ngapain begitu! buat dengerin bunyi klakson yang cuma sebentar?” tanyanya. Lalu saya lanjutkan cerita tentang luasnya fenomena ini sampai menimbulkan reaksi tokoh-tokoh dunia seperti pesepakbola terkemuka.

BACA JUGA  Pentingnya Seimbangkan Aktivitas Anak untuk Kurangi Risiko Myopia

Ibunya menambahkan bagaimana anak dan remaja ini sampai memblok jalan , berjalan didepan bus hanya untuk minta bus itu OTO.

Cucu saya menutup muka dengan kesepuluh jemarinya, sambil berucap: ”Astagfirullah.. astagfirullah malu-maluin aja.. gak mikir apa?”

“Dheeng!” batin saya, anak 10 tahun aja ngerti…

Saya menyeru Allah dan bersyukur dalam hati, setidaknya kalau cucu saya termasuk yang berdiri di pinggir jalan itu, insha Allah dia bukanlah anak atau remaja yang mudah ikut ikutan…

Mengapa hal ini terjadi dan mengapa sekarang boomingnya?

Hal pertama yang muncul dalam benak saya ketika melihat kejadian ini adalah:

Pertama, kemana orang tua anak anak ini?

Kedua, apakah mereka tahu anaknya terlibat aksi ini?

Ketiga, bagaimana mereka menanggapinya? Apakah ini dianggap lucu lucuan juga?

Keempat, apakah setelah mereka ketahui anaknya ikutan melakukan hal serupa, mereka duduk membicarakannya dengan baik baik atau sekedar mengatakan: ”Ngapain ikut-ikutan?, bahaya!” – Sudah segitu saja!

Kelima, atau seperti yang saya saksikan, mereka merupakan sebagian dari orang orang yang dipinggir jalan yang turut “menikmati” fenomena ini.

Saya kawatirkan ini adalah sebuah petunjuk kecil dari suatu hal yang lebih besar tentang: sebegitunya kemampuan berfikir, memilih dan mengambil keputusan bukan sesuatu yang penting atau mungkin tidak sempat dilakukan dalam pengasuhan.

Apa yang Akan Kita Wariskan Pada Anak?

Bagaimana mungkin kegiatan seperti ini bisa terus berlangsung, kalau orang tua perduli? Berarti terbukti, bahwa dialog hilang dalam pengasuhan, anak mudah kehilangan arah dan jadi pengikut dan peniru yang luar biasa bahkan untuk hal hal yang tidak terpuji.

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment