Tak Memberi Nafkah Batin Otomatis Jatuh Talak?

cincin kawin

Saya menikah atas keinginan orangtua. Singkatnya, saya dijodohkan dengan perempuan yang tidak terlalu saya senangi sementara calon istri yang pernah saya ajukan tidak direstui oleh orangtua saya. Demi menuruti keinginan orangtua, saya pun menikahi wanita pilihan orangtua saya. Entah karena tidak menyukai istri saya atau karena saya belum move on (melupakan wanita yang saya sukai itu), hingga enam bulan pernikahan, saya belum pernah sekali pun memberikan nafkah batin kepada istri saya. Yang ingin saya tanyakan, apakah hal tersebut (tidak memberikan nagkah batin selama enam bulan bahkan lebih) dapat secara otomatis dikatakan jatuh talak? Mohon masukan apa yang harus saya lakukan? Meneruskan pernikahan (tanpa seks) ini atau bercerai saja?

 

Islam mengajarkan kepada kita cara atau proses mencari pendamping hidup. Pertama kali yang selayaknya dilakukan adalah ta’aruf. Ta’aruf artinya mengenal calon pasangan dari beberapa sisi yang perlu diketahui sebagai bekal berumahtangga seperti fisik, latar belakang pendidikan, keturunan dan lain sebagainya dalam batas-batas yang dibolehkan oleh syar’i.

Setelah kedua belah pihak mempertimbangkannya dalam batas waktu yang disepakati, maka masing-masing pihak harus segera menentukan sikap, apakah akan melanjutkan atau tidak ke jenjang berikutnya yang disebut dengan khitbah. Perlu diketahui bahwa ta’arruf tidak sama dengan pacaran seperti yang dikenal di kalangan anak muda zaman sekarang. Khitbah artinya melamar atau proses bertanya pada calon pasangan akan kesiapannya berlanjut ke tahap berikutnya yaitu akad nikah dan menjalani kehidupan bersama dalam ikatan pernikahan. Tahapan-tahapan tersebut sangat dianjurkan untuk tidak berlangsung dalam waktu yang terlalu lama, kecuali ada pertimbangan lain.

Tidak dipungkiri jika sebagian umat Islam tidak begitu peduli atau bahkan tidak mengetahui bagaimana ajaran Islam memberi bimbingan dalam proses mencari pendamping hidup. Di kalangan anak muda, cara islami dalam mencari pasangan hidup tersebut seperti sudah sejak lama tergerus oleh pengaruh budaya Barat yang mempertontonkan gaya hidup bebas yang seringkali melewati batas.

Di sisi lain, orangtua yang menjadi bagian penting dalam proses pencarian calon pasangan bagi anak-anaknya masih ada memaksakan kehendaknya. Keterlibatan orangtua dalam mencarikan jodoh bagi anaknya adalah hal wajar, bahkan ada baiknya selama dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan objektif.

Meski demikian, dalam ketentuan hukum Islam, pernikahan yang dipaksakan tetap dipandang sah. Tentu saja, kebaikan akan menghampiri mempelai jika kerelaan menjalani pernikahan yang tidak diinginkannya demi ketaatan kepada orangtuanya.

BACA JUGA  Islam Belum Diakui Agama Resmi di Italia

Berikutnya yang harus dilakukan adalah usaha maksimal untuk menjalani pernikahan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tuntunan syariah. Berusahalah dengan sabar untuk bisa menerima pasangan apa adanya sampai tumbuh rasa cinta (mawaddah) dan bersemi rasa sayang (rahmah) sehingga terbentuklah keluarga yang harmonis dan bahagia (sakinah). Jauhkan hal-hal yang bisa merusak kokohnya bangunan rumah tangga. Jangan lupa untuk tetap memenuhi kewajiban sebagai suami isteri. Karena, meninggalkan kewajiban tersebut berarti menumpuk dosa yang akan mendatangkan murka Allah Swt.

Jika segala usaha sudah dilakukan namun tidak juga mendatangkan hasil yang diharapkan, maka tidak dipersalahkan jika akhirnya diambil langkah penutup, yaitu perceraian. Sebelum sampai pada keputusan ini, perlu diperhatikan secara cermat sebab-sebab yang membolehkan cerai. Mengingat cerai adalah perkara halal yang paling dibenci oleh Allah Swt. jika dilakukan tanpa sebab yang syari. Sebab-sebab dibolehkannya talak terhitung cukup banyak mengingat dinamika dalam berumah tangga yang selalu berubah mengikuti kondisi zaman. Beberapa di antaranya adalah:
●tidak terpenuhinya kewajiban suami istri,
●perilaku buruk dari pasangan atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),
●tidak adanya mahabbah (cinta kasih),
●maksiat yang dilakukan pasangan, dan lain sebagainya.

Tentu saja, jalan perceraian tidak begitu saja diambil tanpa ada ikhtiar untuk dicarikan jalan keluar atas penyebab permasalahan rumah tangga tersebut. Pertimbangan segala sesuatunya dengan matang. Ajaklah bermusyawarah orang-orang yang dianggap perlu seperti orangtua dan sebagainya. Dan, yang paling penting adalah memohon pertolongan Allah dengan istikharah.

Suami yang mengabaikan kewajiban menafkahi batin tidak otomatis berarti jatuh talak, lebih-lebih jika diketahui sebabnya adalah masalah rasa cinta. Perlu upaya lebih lanjut untuk mencari solusi terbaik seperti yang saya kemukakan tersebut. Wallahu a’lam

*  Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 8 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment