Agar Allah Ampuni Kesalahan Kita, Lakukan 4 Amalan Ini ( Tafsir surat Ali Imron : 133-135 )

doa

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,M.Si

 

 

 

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ * الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)

 
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

Ayat 133 sampai 135 dari surat Ali Imron di atas merupakan rangkaian dari prasyarat menuju kebahagiaan hidup dunia dan akhirat dalam bingkai ridha Allah SWT. Jika kita membuka ayat sebelumnya ( 130-132 ), Allah mngemukakan bahwa prasarat pertama menuju kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat adalah meninggalkan segala hal menyangkut perkara riba. Karena riba merupakan system tata kelola ekonomi yang sarat dengan ketidak-berimbangan antara para pihak yang terlibat sehingga sangat mungkin – dan bahkan telah dibuktikan – akan merugikan salah satu atau semua pihak sampai berujung pada kehancuran. Prasarat pertama dan utama ini kemudian diikuti dengan peringatan keras dari Allah dalam bentuk siksa api neraka akan akibat dari system riba yang dianut. Na’udzubillah. Sementara kita simpan perbedaan fiqh terkait definisi atau kategori riba. Marilah berusaha semaksimal mungkin agar terhindar darinya. Jika realitas yang ada memaksa masuk dalam sistem riba, marilah kita mohonkan ampun yang sebesar-besarnya pada Allah untuk kemudian melangkah menuju perintah Allah selanjutnya agar keridhan Allah melimpah dalam wujud kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Sesuai dengan firman Allah di atas :

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,”

kalender percikan iman 2018

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk dengan memiliki potensi benar dan salah secara berimbang. Dalam realitasnya, potensi salah kadang mendominasi kehidupan manusia. Dalam pernyataan sangat sederhananya, lebih banyak manusia yang berlumur dosa ketimbang bermandikan kebajikan. Tapi Allah telah menyediakan solusinya sebagai penyeimbang, itulah magfirah ( ampunan ) Allah. Berdasarkan ayat ini, magfirah menjadi jalan mulus menuju surganya Allah. surga seluas langit dan bumi. Sebagian mufassir menyatakan bahwa luasnya surga seluas langit dan bumi menunjukkan hamparannya yang bagaikan permadani untuk menggambarkan bagaimana keindahan surga yang tiada tara.

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, bahwa Rasulullah pernah ditanya Raja Heraklius tatkala Rasulullah mengajaknya menuju surga seluas langit dan bumi, dengan rasionya Heraklius bertanya, “jika surga itu seluas langit dan bumi, lantas dimanakah neraka berada?” Rasulullah menjawab dengan cerdasnya dengan balik bertanya, “Maha Suci Allah, dimanakah siang jika malam telah tiba?”. Rupanya Heraklius terjebak oleh pemikiran sempitnya, jika Allah berkuasa meciptakan segala sesuatu seluas apapun. Surga yang seluas langit dan bumi tidak berarti menghabiskan tempat untuk neraka.

Maghfirah Allah yang berbalas surga, disediakan untuk orang yang bertaqwa. Ini berarti kunci awal meraih surga adalah taqwa. Ayat berikutnya berbicara bagaimana karakteristik orang yang bertaqwa dengan imbalan surga tersebut.

  1. Menginfakkan Harta di Kala Lapang maupun Sempit

Allah berfirman: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit.” Penghuni surga menunaikan apa saja yang diperintahkan untuk diinfakkan seperti zakat, shadaqah, dan tidak lupa pula nafkah bagi keluarga mereka. Tidak hanya di waktu lapang (banyak harta), namun ketika mereka ditimpa dengan kesempitan mereka tetap berinfak. Memberi tidak melulu soal materi. Memberi adalah masalah hati. Bagi yang berhati kaya memberi sangatlah mudah dilakukan, meskipun dirinya masih sangat memerlukan harta. Sebaliknya bagi yang bermental miskin, kekayaan sebesar apapun hanya akan membuatnya merasa semakin miskin. Dan jika orang-orang kaya tingkat dunia percaya dan membuktikan bahwa ”memberi” merupakan cara investasi yang tidak pernah rugi, maka bagi yang modalnya terbatas silahkan berinvestasi dengan cara ini.

2. Menahan Amarah

Allah berfirman : ”Orang-orang yang menahan amarahnya…” Mengendalikan marah menunjukkan kualitas kecerdasan emosional yang menurut sebagian ahli ikut menentukan kesuksesan seseeorang. Seorang ahli bernama Daniel Goleman (1995) menetapkan bahwa kesuksesan 80% ditentukan oleh EQ. dan Al-Qur’an sudah sejak lama mengisyaratkan hal itu salah satunya dengan perintah untuk mengendalikan marah. Rasulullah juga telah mengajarkan dan mencontohkannya pentingnya kecerdasan emosional. Rasulullah merasa tidak perlu marah ketika seorang Yahudi tua meludahinya, karena tahu dakwah secara lembut lebih efektif bagi Yahudi tua itu. Sukses iman dan taqwa diukur dari kemarahan, karena kemarahan bisa menghilangkan objektifitas yang bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan, memutus tali silaturahmi, mengurai simpul ikatan ukhuwwah dan sebagainya.

3. Pemaaf

Allah berfirman : “Mema’afkan kesalahan orang lain…” Memaafkan adalah meniadakan reaksi atau tindakan untuk membalas seseorang yang berlaku salah atau dhalim. Bagi banyak orang memaafkan dianggap kelemahan, ketakutan dan bahkan menguntungkan orang lain. Padahal, memaafkan itu justru menyelamatkan diri sendiri dan tidak membiarkan luka yang dibuat orang lain terus menerus melukai hati. Justeru sebaliknya, membenci dan mendendam merupakan cikal bakal yang akan menghambat kesuksesan meraih ridha Allah dan sukses dalam hal lainnya. Bagaimana tidak, pendendam akan menggunakan seluruh pikiran dan emosinya untuk mengikuti dendam dari rasa sakit hatinya ketimbang digunakan untuk fokus pada perbaikan hidup, Orang yang tidak bisa memaafkan dan tetap dendam ibarat meminum racun tetapi menyuruh orang lain (orang yang membuatnya dendam) mati.

4. Senantiasa beristighfar dan bertobat sedari menyadari kesalahan

Allah berfirman : dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Inilah karakteristik penduduk surga. Bila dia melakukan dosa, dia lantas mengingat Rabbnya dan segera meminta ampun. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan bahwa terus-menerus melakukan dosa dalam keadaan seseorang itu tahu bahwa itu dosa akan menyebabkan dosa kecil menjadi besar. Oleh karena itu jangan anggap enteng dosa kecil, apalagi bila terus menerus dikerjakan

Marilah bersama-sama berusaha meraih ridha Allah dengan semaksimal kemampuan dan kesempatan yang ada. Perlu untuk kita ketahui bersama, manakala Allah menyenangi hamba-hambaNya karena ketaqwaannya, maka seisi alam raya pun termasuk manusia akan menyenanginya. semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk meraih apa yang menjadi petunjuk dari ayat di atas. Amin. Wallahu a’lam bsh-shawab. [ ]

 

Editor: Muslik

Ilustrasi foto: Norman

REKOMENDASI

Leave a Comment