Amalan Selama Di Dalam Masjid

sujud shalat

PERCIKANIMAN.ID – – Setibanya di dalam masjid, seorang muslim tak lantas menyia-nyiakan waktunya dengan berleha-leha. Karena terdapat beberapa aktivitas yang memiliki keutamaan  ketika kita kerjakan di masjid. Beberapa diantaranya;

  1. Shalat tahiyatul masjid.

Hal ini merujuk sabda Rasul, “apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaklah shalat dua rakaat sebelum ia duduk” (HR. Bukhari dan Muslim).” Kecuali bila shalat berjamaah telah dimulai, maka hendaknya kita langsung bergabung untuk shalat wajib.

Tetapi bila shalat berjamaah belum dimulai, kita bisa mengisi waktu luang dengan aktivitas lain.

  1. Berdzikir, berdoa, dan tilawah adalah aktivitas terbaik.

Dengan banyak berdzikir, kita diharapkan semakin dekat dan senantiasa mengingat Allah. Menyibukan diri dengan dengan doa saat shalat belum dimulai sangatlah dianjurkan. Rasul bersabda, “ doa antara adzan dan iqomat tidak ditolak”, (HR. Tirmidzi & Abu Daud).” Karena itu, sebaian ulama menggolongkan waktu antara adzan dan iqomat sebagai waktu yang mustajab untuk berdoa. Maka jangan sia-siakan waktu kita hanya untuk mengobrol hal yang tak penting.

  1. Dilarang keluar masjid setelah adzan.

Abu Syatsa bercerita, suatu ketika mereka sedang duduk bersama Abu Hurairah didalam masjid, kemudian adzan berkumandang. Setelah adzan selesai, ada salah seorang diantara mereka yang keluar dari masjid (tanpa keperluan penting) maka Abu Hurairah memerhatika dia sampai keluar masjid dan berkata, “orang ia sungguh telah durhaka kepada Rasulullah (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasai, & Ibnu Majah).” Hal ini menunjukan, bahwa bila kita telah berada di masjid setelah adzan hendaknya tidak keluar sebelum shalat berjamaah selesai, kecuali bila ia belum wudhu.

kalender percikan iman 2018
  1. Boleh tidur di masjid. Sebagian kita pasti pernah melakukan ini.

Ternyata, sedari dulu pun aktivitas ini sudah banyak dilakukan. Bukhari meriwayatkan bahwa dulu para sahabat Ahli Suffah (tak puya rumah) mereka tidur di masjid. Tak cuma itu, ternyata Rasul pun pernah tidur di dalam masjid. Paman Abbad bin Tamim pernah melihat Rasulullah tidur telentang di dalam masjid dengan meletkakan kakinya diatas kaki yang lain (HR. Bukhari & Muslim). Para ulama sepakat membolehkan bersandar atau tiduran di masjid untuk tujuan istirahat asal tidak berlebihan. Maksudnya, bila ia mimpi basah hendaknya segera bangun dan meninggalkan masjid untuk bersuci seperti di fatwakan oleh Lajnah Daimah.

  1. Dilarang jual-beli di dalam masjid

Jual-beli diharamkan oleh Rasul bila dilakukan didalam masjid. Bahkan, Rasul sampai berkata kepada orang yang bertransaksi di masjid, “semoga Allah tidak memberi keuntungan dalam jual-belimu! (HR. Tirmidzi)”

Perkara ini bukan soal sepele, karena masjid memang diperuntukan bukan untuk aktivitas itu. Masjid adalah tempat ibadah, hendaknya tidak digunakan untuk urusan mencari keuntungan materi. Bila hendak berdagang, pasar adalah tempatnya. Melalui teladan ini, Rasul mengajarkan kita untuk menempatkan sesuatu sesuai fungsinya. Sehingga tak ada tumpang tindih aktivitas dalam satu tempat.

  1. Jangan meludah di dalam masjid.

Anas bin Malik berkata Rasul bersabda, “meludah di dalam masjid adalah kesalahan dan kafaratnya adalah membersihkannya” (HR. Bukhari dan Muslim).” Seorang muslim, tegas Abu Bakr, hendaknya menjaga kebersihan lingkungan sekitar termasuk tempat ibadah. Tak cuma meludah ternyata yang dilarang, beberapa hal yang berkaitan dengan isu kebersihan juga harus dijaga. Misalkan, kita menggunakan sepatu kotor di masjid atau membuang sampah di masjid. Tentu hal itu tidak baik. Sebagai penebus dosa kita adalah dengan membersihkannya. “Islam memuji akhlak yang baik dan menyeru umat untuk berbuat baik, menjaga kebersihan adalah salah satunya,” ungkapnya.

  1. Dilarang lewat di depan orang yang sedang shalat

Tidak ada perbedaan di antara para ulama bahwa lewat di depan sutrah (sejenis kain alas shalat/sajadah) hukumnya tidak mengapa dan lewat di tengah-tengah antara orang yang shalat dengan sutrahnya hukumnya tidak boleh dan orang yang melakukannya berdosa. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri ra , Rasulullah Saw bersabda:

Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian kita tidak boleh lewat diantara orang yang shalat dengan sutrahnya, hendaknya kita mencari jalan di luar sutrah, atau lewat belakang orang yang shalat tersebut, atau mencari celah antara orang yang shalat, atau cara lain yang tidak melanggar larangan ini.

Demikian juga terlarang lewat di depan orang yang sedang shalat walaupun ia tidak menghadap sutrah, orang yang melakukannya pun berdosa. Berdasarkan hadits dari Abu Juhaim Al Anshari, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Namun para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan lafadz “di depan orang yang shalat” yaitu berapa batasan jarak di depan orang shalat yang tidak dibolehkan lewat?. Dalam hal ini banyak pendapat yang dinukil dari para ulama:

  • Tiga hasta dari kaki orang yang shalat.
  • Sejauh lemparan batu, dengan lemparan yang biasa, tidak kencang ataupun lemah.
  • Satu langkah dari tempat shalat.
  • Kembali kepada ‘urf, yaitu tergantung pada anggapan orang-orang setempat. Jika sekian adalah jarak yang masih termasuk istilah ‘di hadapan orang shalat’, maka itulah jaraknya.
  • Antara kaki dan tempat sujud orang yang shalat. [Berbagai sumber ]

 

Red: Ahmad

Editor: Iman

Ilustrasi foto: Norman

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment