4 Alasan Mengapa Kita Harus Berbakti kepada Oruangtua (Ibu)?

ibu dan anak

PERCIKANIMAN.ID – – Bagi sebagian masyarakat Indoneisa setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Sementara masyarakat dunia juga mengenalnya dengan “Mother Day”, dimana selain sekedar mengucapakan selamat, mereka juga memperlakukan ibunya secara khusus. Beberapa orang malah memberikan hadiah dan kejutan buatnya ibunya. Sebagian lagi mengunjungi ibunya di luar kota dan sebagainya.

Namun bagi seorang muslim tentu sangat memahami dan menyadari bahwa sosok perempuan khususnya ibu adalah sangat berarti sepanjang kehidupannya.Untuk itu dalam banyak ayat Al Quran maupun hadits Rasulullah Saw, sebagai anak kita dianjurkan untuk berbuat baik dan berbakti serta memuliakan kepada orangtua khususnya ibu. Berikut beberapa alasan, mengapa kita harus berbakti kepada orangtua dan memuliakan mereka?

iklan donasi pustaka2

Pertama, berbakti kepada orangtua merupakan pesan universal seluruh agama Samawi, yaitu agama yang diturunkan langsung oleh Allah Swt. (Kristen, Yahudi, Ahli Kitab, dan Islam).

Disebut agama Samawi karena ada nabi dan kitab yang wajib diimani. Nasrani memiliki Nabi Isa a.s. dan Injil merupakan kitab sucinya. Yahudi memiliki Nabi Musa a.s. dan Nabi Daud a.s., kitabnya adalah kitab Taurat dan Zabur. Sementara, Islam memiliki Nabi Muhammad Saw. dan Al-Qur’an adalah kitab sucinya.

Lalu, apa kaitannya agama Samawi dengan berbakti kepada orangtua? Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 83, Allah Swt. berfirman:

Ingatlah, ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, ‘Jangan kamu menyembah selain Allah, berbuat baiklah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Berkatalah yang baik kepada manusia, laksanakan salat, dan tunaikan zakat.’ Namun, kamu berpaling dan membangkang, hanya sebagian kecil dari kamu yang taat.”(Q.S. Al-Baqarah [2]: 83)

Dalam ayat ini, Allah menyeru Bani Israil untuk berbuat baik dan berbakti kepada orangtua. Perlu Anda ketahui bahwa Bani Israil merupakan sebutan untuk kaum Nabi Ibrahim, ayah dari Nabi Ismail a.s.

Singkatnya, putra kedua Ibrahim, Nabi Ishak a.s., memiliki putra bernama Yakub a.s. dan Yakub memiliki 12 orang putra yang satu di antaranya bernama Yehuda, nenek moyang bangsa Yahudi. Dari Yehuda ini, lahirlah banyak keturunan, kebanyakan dari mereka adalah nabi, di antaranya Nabi Musa a.s., Nabi Daud a.s., Nabi Sulaiman a.s., Nabi Zakaria a.s., Nabi Yahya a.s., dan Nabi Isa a.s. Pertanyaannya, apa hubungan semua ini dengan agama Samawi?

Menurut istilah, bani berarti anak-anak dan Israil berarti yang dikasihi dan dicintai Allah Swt. Kaum Bani Israil dicintai Allah Swt. karena banyak sekali nabi yang lahir dari keturunannya. Merujuk kembali pada firman Allah tadi, dengan gamblang Allah menyeru Bani Israil untuk, salah satunya, berbuat baik kepada kedua orangtua. Karena Nabi Musa a.s., Nabi Daud a.s., dan Nabi Isa a.s. merupakan nabi-nabi yang lahir dari kaum Bani Israil, otomatis umat Islam wajib mengimani kitab-kitab mereka: Taurat, Zabur, dan Injil, serta wajib mengikuti apa yang Allah serukan kepada Bani Israil, yaitu berbakti kepada kedua orangtua.

Kedua, berbakti kepada kedua orangtua merupakan ibadah terpenting setelah ibadah kepada Allah Swt. Allah berfirman dalam Surah An-Nisā’ ayat 36.

Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Berbuatbaiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguh-nya, Allah tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S. An-Nisā’ [4]: 36)

Berdasarkan ayat tersebut, Allah Swt. melarang manusia menyekutukan-Nya dengan apa pun dan kemudian memerintahkan kita berbuat baik kepada kedua orangtua. Artinya, kedudukan ibadah kepada orangtua sangat penting, posisinya berada tepat setelah ibadah kepada Allah Swt. Sehingga, Anda tidak boleh menyepelekan hal ini. Karena, boleh jadi, seseorang yang ibadahnya bagus, tetapi ia memperlakukan orangtuanya dengan buruk, maka ia akan sangat sulit masuk ke dalam surga.

Seperti kisah Alqamah. Dia adalah orang yang sangat saleh. Akan tetapi, Allah mempersulit sakaratul mautnya karena ibu Alqamah murka terhadapnya.

Atau kisah lain dari seorang sahabat  yang datang kepada Rasulullah Saw. Dia berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku ikut berjihad denganmu.” Karena Rasulullah Saw. tahu dia memiliki orangtua yang sudah uzur, maka Rasulullah Saw. pun menjawab, “Bagaimana dengan ibu dan bapakmu? Berjihadlah dengan mengurus mereka sebaik-baiknya.

Sudahlah jelas bahwa berbakti kepada orangtua merupakan bentuk jihad lain yang pahalanya sama dengan berperang memperjuangkan agama Islam. Jadi sungguh, berbakti pada orangtua bukanlah hal yang bisa Anda abaikan, bukan?

Ketiga, dalam hal berbakti kepada orangtua, kedudukan ibu lebih tinggi dibandingkan ayah. Kenapa? Karena Allah Swt. hanya menyebutkan penderitaan seorang ibu. Seperti yang tergambar dalam Surah Luqmān ayat 14 yang berbunyi:

Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan yang sangat lemah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada-Ku, kamu kembali.” (Q.S. Luqmān [31]: 14)

Walaupun seorang ayah telah dengan sekuat tenaga mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anaknya, hal ini tidak bisa dibandingkan dengan penderitaan seorang ibu ketika membesarkan anaknya. Ia mengandung dalam keadaan sangat lemah, menahan sakit selama 9 bulan lamanya, kemudian menyusui anaknya sampai berusia 2 tahun. Bayangkan, betapa hebatnya perjuangan seorang ibu. Bahkan, Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa kedudukan ibu tiga kali lebih mulia dibandingkan ayah.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah Saw. lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?”  Rasulullah Saw menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Lalu, siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Lalu, siapa?” Rasulullah kembali menjawab, “Ibumu.” Lalu, dia bertanya lagi, “Lalu, siapa?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ayahmu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Jadi, yang masih ogah-ogahan ketika diminta melakukan sesuatu oleh ibu, hendaklah berpikir kembali tentang apa yang sudah beliau lakukan untuk kita dahulu. Ingatlah perjuangan yang beliau lakukan untuk membesarkan Anda, ingatlah kasih sayangnya, ingatlah perhatiannya.

Keempat, untuk berbakti kepada kedua orangtua, Anda wajib menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti hati mereka. Seperti firman Allah Swt. dalam Surah Al-Isrā’ ayat 23 yang berbunyi:

Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam perawatanmu, maka jangan kamu katakan ‘ah’ kepadanya dan jangan membentaknya. Ucapkanlah perkataan yang baik kepada keduanya.”

(Q.S. Al-Isrā’ [17]: 23)

Dalam ayat tersebut dikatakan, falaa takullahumaa uff. Kata yang perlu digarisbawahi adalah kata uff. Lalu, dikatakan selanjutnya, walaa tanharhumaa, “jangan kamu membentak.” Kata uff bukan hanya merujuk pada perkataan ‘ah’ saja seperti yang tertulis dalam terjemahan. Akan tetapi, maksud dari uff adalah perkataan atau perbuatan yang menyakiti hati orangtua, yang diucapkan dengan nada membentak. Contohnya, ada seorang ibu meminta anaknya membeli gula di warung, lalu si anak menjawab dengan suara tinggi, “Sebentar, atuh, Bu, aku lagi sibuk ngerjain tugas, tau!” Nah, ini yang disebut sebagai uff. Hal ini bisa membuat hati seorang ibu terluka. Wallahu’alam. [ ]

  • *Disarikan dari buku “Muliakan Ibumu” karya Dr.Aam Amiruddin,M.Si

Red: admin

Editor: iman

Ilustrasi foto: norman

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment