Menjadi Muslim Itu Berprestasi Setiap Hari

mendaki-1

Oleh: Tate Qomaruddin*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Orang bijak mengatakan bahwa mempertahankan prestasi jauh lebih sulit dan berat ketimbang meraihnya. Strategi meraih prestasi tentu berbeda dengan cara memperolehnya. Demikian juga godaan dan tantangannya pun pasti akan lebih besar lagi. Namun bagi seorang yang telah memiliki hidayah keimanan maka prestasi amal shalih yang sudah kita lakukan harus terus dipertahankan bahkan harus menjadi lebih baik.Ada banyak ayat Quran maupun hadits yang menegaskan hal ini:

عَنِ الْحَارِثِ بن مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ ، ،أَنَّهُ مَرَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ لَهُ : ” كَيْفَ أَصْبَحْتَ يَا حَارِثُ ؟ ” قَالَ : أَصْبَحْتُ مُؤْمِنًا حَقًّا ، فَقَالَ : ” انْظُرْ مَا تَقُولُ ؟ فَإِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ حَقِيقَةً ، فَمَا حَقِيقَةُ إِيمَانِكَ ؟ ” فَقَالَ : قَدْ عَزَفَتْ نَفْسِي عَنِ الدُّنْيَا ، وَأَسْهَرْتُ لِذَلِكَ لِيَلِي ، وَاطْمَأَنَّ نَهَارِي ، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى عَرْشِ رَبِّي بَارِزًا ، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ يَتَزَاوَرُونَ فِيهَا ، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَهْلِ النَّارِ يَتَضَاغَوْنَ فِيهَا ، فَقَالَ : ” يَا حَارِثُ عَرَفْتَ فَالْزَمْ ” , ثَلاثًا. (رواه الطبراني)
Dari Al-Harits bin Malik Al-Anshari –-semoga Allah meridoinya- bahwa dia lewat kepada Rasulullah saw. Maka berkatalah Rasulullah saw. kepadanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai Harits?” Ia menjawab, “Aku mamasuki pagi hari dalam keadaan beriman dengan sebanar-benarnya.” Rasulullah saw. bersabda, “Perhatikan apa yang kauucapkan, karena segala sesuatu ada hakikatnya. Lalu apa hakikat (bukti) iman kamu?” Harits menjawab, “Jiwaku telah berpaling dari dunia, dan untuk itu aku bangun di malam hari, dan jiwaku tenang di siang hari. Seolah aku melih

at arasy Tuhanku dengan jelas dan seolah aku melihat penduduk surga saling berkunjung di dalamnya, serta seolah aku melihat penduduk neraka saling berteriak kesakitan di dalamnya.” Maka Rasulullah saw. berdabda, “Wahai Harits, engkau telah mengerti maka pegangteguhlah (pertahankanlah)!” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani)
Dalam hadits lain Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ أَبِى سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ » . وَقَالَ « اكْلَفُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ » (البخاري)
Dari Salamah dari Aisyah –-semoga Allah meridoinya—dia berkatata, Rasulullah saw. ditanya, “Pekerjaan apa yang paling Allah cintai?” Rasulullah saw. menjawab, “Pekerjaan yang kontinyu walaupun sedikit.” Dan beliau bersabda, “Biasakanlah sekuat tenaga pekerjaan yang kalian mampu.” (HR.Bukhari)

Dalam riwayat Muslim ada tambahan:
وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتِ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ. (مسلم)
Dan adalah Aisyah –-semoga allah meridoinya- apabila mengerjakan satu pekerjaan ia mempertahankannya.” (HR.Muslim)
Hadits-hadits di atas menegaskan tentang pentingnya kita mempertahankan prestasi yang sudah kita capai atau amal yang sudah kita sukseskan. Dalam hadits pertama digambarkan tentang capaian spiritual (ruhiyyah) seorang sahabat Nabi yang bernama Harits bin Malik Al-anshari –-semoga allah meridoinya. Ia merasa bahwa ia berada dalam posisi iman yang sebenarnya. Dan saat ditanya tentang indikator kesejatian imannya itu dia menjelaskan dengan, “Jiwaku telah berpaling dari dunia, dan untuk itu aku bangun di malam hari, dan jiwaku tenang di siang hari. Seolah aku melihat arasy Tuhanku dengan jelas dan seolah aku melihat penduduk surga saling berkunjung di dalamnya, serta seolah aku melihat penduduk neraka saling berteriak kesakitan di dalamnya.”
Jadi, seorang Muslim dibenarkan untuk mengutarakan perasaan bahwa dirinya berada dalam kebaikan iman atau Islam. Yang penting ada buktinya dan bukan dalam rangka sombong atau riya. Bahkan sebaliknya Rasulullah saw. tidak suka kepada orang yang menihilkan dan menistakan dirinya sendiri, meskipun dengan kemasan ketakwaan.
Hanzhalah ditegur oleh Rasulullah saw. gara-gara menyebut dirinya munafik. Lengkapnya dikisahkan, dari Hanzhalah Al-Asadi –salah seorang penulis Rasulullah saw.- ia mengatakan, “Abu Bakar –-semoga Allah meridoinya- menemuiku lalu bertanya, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku Menjawab, “Hanzhalah telah menjadi munafik.” Abu BakarIa lalu bertanya, “Maha suci Allah. Apa yang memenyebabkan kamu mengatakan hal itu?” Aku menjawab, “Jika kita sedang berada bersama Rasulullah saw, beliau mengingatkan kita tentang surga dan neraka sehingga seolah-oleh keduanya berada di pelupuk mata. Tapi jika kita menjauh dari Rasulullah saw, bercengkerama dengan isteri, sibuk dengan bisnis, kita banyak lupa.” Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, kita juga merasakan hal itu.
Maka pergilah aku bersama Abu Bakar ke rumah Rasulullah saw. Aku berkata, “Hanzhalah munafik, wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya, “Memangnya kenapa?” Aku mengatakan, “Jika kami sedang berada bersama engkau , engkau mengingatkan kami tentang surga dan neraka sehingga seolah-oleh keduanya berada di pelupuk mata. Tapi jika kami menjauh dari engkau, bercengkerama dengan isteri, sibuk dengan bisnis, kita banyak lupa.” Berkatalah Rasulullah saw.,

Demi Dzat Yang diriku berada di tangan-Nya, seandainya kalian terus menerus berada dalam kondisi seperti saat berada di sisiku, niscaya para Malaikat akan menyalami kalian saat kalian berada di jalan-jalan dan di atas tempat tidur. Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat sesaat.” (HR.Muslim)
Dalam hadits kedua dan ketiga Rasulullah saw. menekankan tentang pentingnya mempertahankan amal. Bahkan beliau menegaskan bahwa amal yang paling Allah cintai adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit. Dan disebutkan juga bahwa Aisyah selalu mempertahankan pelaksanaan amal yang sudah dikerjakannya.

BACA JUGA  Argentina Beri Kebebasan Umat Islam Beribadah

Tentu masih banyak nilai-nilai yang dapat kita serap dari Ramadhan untuk kita pertahankan. Tapi jika pun hanya empat prestasi itu yang dapat kita pertahankan, rasanya layaklah kita menyebut diri kita sebagai al-faizun (orang-orang yang menang). Wallahu’alam.[ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: [email protected] atau: [email protected]  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment