Berhijab Tapi Dituntut Memakai Aksesoris Natal

topinatal

Assalamu’alaikum. Ada yang mau saya tanyakan Ustadz, kebetulan saya bekerja di sebuah restoran milik orang non muslim. Dan pada bulan ini akan datang hari kebesarannya, yaitu hari natal. Maka kami diwajibkan memakai aksesoris natal, seperti, topi sinterklas, sedangkan saya memakai kerudung. Saya sempat menolak, dan bagaimana hukumnya soal tuntutan kerja ini Ustadz? Mohon penjelasannya.

 

Ada dua pendapat mengenai permasalahan ini. Pendapat pertama mengatakan tidak boleh, atau mengharamkannya. Dan pendapat kedua yang membolehkan hal ini dan menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat diterima. Dalam menyikapi permasalahan ini, Anda perlu membedakan terlebih dahulu antara ritual dan momentum.

Ketika Anda diminta untuk memakai atribut atau aksesoris natal, seperti topi sinterklas, pada saat natal, maka tidak menjadi masalah karena atribut itu dipakai hanya disaat momen natal saja. Sama halnya ketika momen lebaran anda memakai kostum lebaran, memakai kopeah, baju muslim, dsb. Karena disini bukan berarti Anda ikut merayakan natal atau beribadah secara kristiani, pemilik restoran tempat Anda bekerja menganggap bahwa, karena ini momen natal, maka Anda harus memakai atribut yang berkaitan dengan natal, itu saja. Ini bagian dari momentum budaya. Seperti yang tercantum dalam firman-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujuraat [49]: 13)

BACA JUGA  Ketika Istri Tidak Mau Tinggal Dengan Mertua

Di dalam terjemahan ayat diatas disebutkan, “…menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal,” yang dimaksud saling kenal-mengenal adalah agar kita memahami budaya kita masing-masing. Dalam hal ini budaya natal.

Akan tetapi, ketika sudah menyangkut mengenai peribadatan, tentu ini berbeda. Yang masuk kategori haram adalah ketika Anda mengikuti ritual natal, seperti, datang ke gereja kemudian terlibat dalam acara pemberkatan, pemercikan air suci, dsb. Wallahu a’lam.

*  Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 2 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment