Menuju Pergantian Tahun yang Lebih Baik (Tafsir Q.S. Al-Hasyr [59]: 18-19)

alquran

Oleh : Dr. Aam Amiruddin

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.”
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 18-19)

promo oktober

Pernahkah Anda merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat? Tidak terasa seminggu berlalu, tidak terasa pula sebulan terlewati. Rasanya baru kemarin tahun berganti dan sekarang sudah akan berganti lagi. Begitulah ucapan kita mengomentari cepatnya waktu berlalu. Ucapan seperti itu tentu tidak dipersalahkan. Namun, perlu menjadi perhatian ketika pergantian waktu tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran penuh bahwa waktu yang demikian cepat berlalu tengah mengikis usia. Ya, usia yang disediakan oleh Allah Swt. pada setiap manusia itu berbatas waktu dan tidak ada yang tahu kapan batas limit usia kita.

Jika demikian adanya, masihkah kita tetap pada pendirian yang tidak jelas akan masa depan yang sesungguhnya (akhirat) atau masihkah layak mempertahankan sikap lalai dan acuh tak acuh akan nasib di kemudian hari? Bukankah sombong namanya jika sejauh ini kita sudah merasa cukup dengan amalan rutin yang datar-datar saja itu? Siapa yang dapat menjamin bahwa amalan kita benar-benar dapat menyelamatkan kita dari adzab-Nya? Padahal, usia kita sudah kian menipis saja.

Jadi, marilah sisihkan sedikit waktu kita untuk merenung dan merencanakan sampai pada akhirnya menekadkan diri bahwa tahun yang akan datang adalah tahun terbaik. Tahun yang di dalamnya kita yakin bahwa perbekalan kita sudah cukup memadai dengan kualitas amal dan ketakwaan yang optimal. Lantas, apa yang mesti kita lakukan untuk menggapai hal tersebut? Jawabannya ada pada dua ayat surat Al-Hasyr tersebut. Mari kita coba gali apa saja yang terkandung di dalam dua ayat tersebut.

Pada ayat ke-18, Allah Swt. membuka dengan panggilan kepada orang yang beriman. Ini menunjukkan bahwa salah satu indikator orang beriman adalah kesadaran dan perhatian yang seksama akan pentingnya perjalanan waktu. Hal ini terbukti dengan munculnya perintah memerhatikan masa yang akan datang setelah sebelumnya Allah mengingatkan kembali kepada orang beriman untuk meningkatkan ketakwaan. Demikian banyak pengertian takwa dikemukakan oleh para ulama, di antara yang paling popular adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Berkutat pada pengertian takwa saja, tentunya tidaklah bijak karena takwa bukan untuk untuk sekadar dibahas. Takwa merupakan bentuk pengamalan akan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya. Pantaslah Allah Swt dalam ayat ini memuat perintah takwa sebanyak dua kali.

Adapun firman Allah Swt. yang berbunyi, “hendaklah setiap diri memerhatikan yang telah diperbuatnya untuk hari esok…” diartikan beragam oleh para mufasir. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengomentari petikan ayat tersebut sebagai, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, perhatikan amal shaleh kalian untuk persiapan diri kalian menjelang datangnya hari yang dijanjikan dan apa yang hendak kalian persembahkan kepada Tuhan kalian.” Al-Maraghy dalam tafsirnya memberikan komentar sebagai berikut. “Perhatikanlah yang telah kita usahakan yang akan bermanfaat untk nanti di akhirat, pada hari ketika wanita yang sedang hamil mendadak melahirkan bayinya, dan manusia terlihat seperti orang-orang yang sedang mabuk padahal tidak, akan tetapi mereka yang terkena adzab merasa bingung. Hal itu dikarenakan saking terkejut dan takutnya menghadapi adzab Allah yang sangat dahsyat.”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad diungkapkan, dari Al-Mundziri bin Jarir dari bapaknya dia berkata, Kami pernah berada di sisi Rasulullah Saw. di awal siang. Kemudian ada sebuah kaum yang tak beralas kaki, telanjang, memakai kain wool bergaris atau mantel panjang. Mereka menenteng pedang, mayoritas mereka dari Mudhar, bahkan mungkin semua dari Mudhar. Kontan wajah Rasulullah Saw. berubah melihat kemiskinan yang ada pada mereka. Kata Bilal, Rasulullah mondar-mandir lantas beliau memerintahkannya untuk mengumandangkan adzan, dan dia lakukan, dan dia iqamati. Beliau shalat dan berkhutbah, lantas beliau menyampaikan ayat, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 1), lantas beliau membaca ayat dalam surat Al-Hasyr yang bunyinya “Hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang diperbuat untuk hari esok.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 18).

Kata Jarir, setelah beliau membaca ayat itu, ada seseorang menyedekahkan dari dinarnya, dirhamnya, bajunya, dan takaran sha’ gandumnya, atau takaran sha’ kurmanya, hingga beliau mengatakan, “Toh walau hanya dengan separuh biji kurma.” Kata Jarir, lantas ada seseorang anshar membawa bungkusan yang telapak tangannya nyaris tak kuat, bahkan dia betul-betul tak kuat membawa bungkusan itu. Kemudian para sahabat berduyun-duyun dan aku ( Jabir ) lihat dua gundukan makanan dan baju. Sampai terlihat wajah Rasulullah Saw. bersinar-sinar seolah-olah beliau disepuh dengan emas. Lantas Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang memulai kebaikan dalam Islam, maka dia memperoleh pahalanya dan pahala yang menirunya sesudahnya dengan tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali, dan barangsiapa yang memulai kejahatan, maka baginya memperoleh dosanya dan dosa yang menirunya sesudahnya dengan tidak mengurangi dosanya sedikitpun.”

Pada akhir ayat ke-18 tersebut, Allah menegaskan, “…Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Ya, Allah memang Maha Mengetahui seluruh amal perbuatan manusia, baik yang tersembunyi apalagi yang nampak. Dan, tidak ada seorang pun bisa menyembunyikan dari pengetahuan-Nya, baik itu kebaikan atau keburukan.

Selanjutnya pada ayat ke-19 Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” Maksudnya, jangan sampai kita lupa diri akan kewajiban yang hakiki untuk beramal dan beribadah kepada-Nya. Jangan sampai kita lupa jika hidup di dunia ini amatlah singkat dan tiada yang dapat menjamin keselamatan di kehidupan yang kekal nanti kecuali amal soleh yang dilakukan saat hidup di dunia yang singkat ini.

Begitulah orang beriman bersikap dan bertindak. Mereka sadar betul bahwa keberadaaannya di dunia ini hanya untuk beramal dan beramal serta mempersiapkan diri menyambut hari akhir. Bersikap dan bertindak sebaliknya berarti termasuk orang yang fasik karena orang fasik adalah orang yang melupakan Allah. Orang fasik adalah orang yang lupa makna dan hakekat hidup di dunia. Mereka hanya tahu bahwa dunia adalah tempat mencari kesenangan dan kepuasan semata. Padahal, dunia ini semu dan fana serta tiada yang sempurna. Kesenangan dan kepuasan dunia hanya sementara dan menipu layaknya fatamorgana. Orang yang melupakan Allah dan melupakan siapa dirinya yang sesungguhnya itu sama artinya dengan orang yang tertipu yang menanti datangnya kenistaan dan kehinaan.

Dalam ayat lain Allah berfirman,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]: 90)

Dalam salah satu khutbahnya, Abu Bakar As-Shiddiq menyampaikan, “Tiada kebaikan dalam ucapan jika tidak dimaksudkan mencari rido Allah, tiada kebaikan dalam harta yang tidak diinfakkan dalam jalan Allah, tiada kebaikan pada orang yang kedewasaannya tertutupi kebodohannya, dan tiada kebaikan pada orang yang takut celaan manusia dalam membela agama Allah.”

Semoga kita semua termasuk orang yang menyadari pentingnya waktu atau usia yang tersisa demi mempersiapkan diri menyongsong masa depan akhirat yang lebih baik. Amin. Wallahu a’lam bish-shawab

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment