Asuransi Kebakaran Rumah, Apakah Termasuk Riba?

asuransi

Ustadz, bagaimana hukum asuransi (misal asuransi kebakaran rumah) dalam Islam mengingat jika dalam jangka waktu tertentu tidak terjadi (misalnya) kebakaran rumah maka uang disetorkan tiap bulan akan hangus dan sebaliknya kalau kebakaran terjadi maka kita akan mendapatkan penggantian sesuai dengan perjanjian yang disepakati? Apakah hal itu termasuk riba atau bukan serta bagaimana status kehalalannya?

 

 

Berbicara mengenai asuransi, kita tidak hanya akan menemukan asuransi kebakaran rumah tapi juga asuransi pendidikan, kesehatan, kendaraan, dan lain sebagainya. Pada zaman Rasul Saw., hal seperti ini tidak ada sehingga wajar kalau kemudian pendapat para ulama mengenai hukum asuransi ini terbelah menjadi dua.

promooktober1

Pendapat pertama ada yang setuju karena katanya kita harus selalu mengantisipasi apapun yang akan terjadi. Bahkan asuransi jiwa saja diperbolehkan katanya. Karena ada ayat yang mengatakan

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 9)

Ayat ini menggambarkan bahwa kita harus selalu mengantisipasi apapun yang akan terjadi pada diri kita juga pada keluarga kita. Jadi kalau kita mengasuransikan pendidikan, mengasuransikan kendaraan, mengasuransikan rumah dari kebakaran. Itu sesuatu yang dianjurkan oleh agama, supaya kita bersikap antisipatif.

Inilah dalil yang digunakan oleh kelompok yang menghalalkan asuransi. Tapi ada juga kelompok yang mengatakan asuransi itu haram, karena tidak jelas itu uang dari mana katanya, untuk mengganti mobil yang hilang, untuk mengganti rumah yang kebakaran, untuk mengganti biaya pengobatan. Padahal, kita baru membayar 5 juta, kok dia bisa mengganti pengobatan yang jumlahnya mencapai 3-4 kali lipat itu. Coba uangnya dari mana itu, Makanya disebut haram.

Memang ada dua pendapat, karena ini merupakan persoalan yang tidak terjadi pada jaman Rasul dan inilah yang disebut dengan ijtihad. Ijtihad itu artinya para ulama, para ahli mencurahkan segala pemikiran untuk menjawab persoalan-persoalan baru. Nah kalau ijtihad itu kembalinya kepada keyakinan kita, kembali kepada keyakinan kita.

Kalau kita mau mengambil pendapat yang mengatakan halal ya silahkan saja ikut asuransi, dan itu sah-sah saja, tapi kalo kita berpikir ” akh saya mah ragu, mau mengambil pendapat yang mengharamkan saja”, berarti jangan ikut asuransi, kembali kepada keyakinan kita. Cari solusi lain sehingga tidak terikat pada asuransi.

Kalau anda bertanya kepada ustadz yang manapun, kepada narasumber manapun pasti akan ditemukan dua pendapat, kalau ada yang mengatakan halal, tentu bakal ada yang mengatakan haram. Mana yang akan anda ambil, terserah. Kalau anda berkeyakinan bahwa sesuatu yang masuk akal itu halal, ya silahkan saja, anda tidak akan berdosa melakukan hal itu. Karena anda telah menganalisa pendapat itu dengan alasan-alasannya, dan dengan logika-logika ilmiahnya.

Tapi kalau ada teman kita yang mengatakan haram dan dia tidak pernah menggunakan jasa asuransi ya kita hargai dan sah-sah saja dia melakukan hal itu. Karena persoalan asuransi itu sesuatu yang belum pernah terjadi pada jaman Rasul tetapi hasil kreativitas manusia untuk menjaga supaya kita selalu mengantisipasi apapun yang terjadi.
Nah, jaman Rasul model asuransi ini belum ada, jadi wajar kalau dikemudian hari ada dua alur/dua arus besar pemikiran tentang masalah asuransi ini. Ya tentu saja sangat bagus kalau mengambil solusi sekiranya sudah ada asuransi yang sayaariah ya kita ambil yang sayaari’ah, supaya lebih aman dari segi keyakinan kita.

Bagi yang belum ikut asuransi silahkan kalau anda mau mengambil asuransi syari’ah, tapi bagi yang sudah terlanjur ikut asuransi yang konvensional, ya teruskan saja asuransi seperti itu, karena memang wilayah asuransi ini yang saya sebut sebagai wilayah ijtihad. Kalau ijtihadnya bener nilainya A dan kalau ijtihadnya salah nilainya B, jadi dua-duanya tetap lulus hanya persoalannya kredit pointnya saja ada yang berbeda yaitu A dan B. Wallahu a’lam bi shawab.

*  Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email [email protected] atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

One Thought to “Asuransi Kebakaran Rumah, Apakah Termasuk Riba?”

  1. NeveRminD

    Persoalannya tidak sesederhana itu ustadz. Saya org yg baru saja keluar dari kerja di bank, saya udh 12 tahun berpindah2 kerja di bank, asuransi, dan leasing. Harus tahu muternya duit asuransi dimana biar jelas halal haramnya. Misalnya kebanyakan asuransi dia bermain trading valas, jelas jadi haram, dsb dsb. Akan panjang njelasinnya. Mohon maaf.

Leave a Comment