Tak Sekedar Memaafkan, Juga Balas dengan Kebaikan

salam, maaf

Apa yang ada di benak kita ketika setiap hari ada orang yang berbuat zalim terhadap kita? Realita berbicara ada tiga pilihan. Pertama, membalas perbuatan zalim tersebut dengan perbuatan yang setimpal atau bahkan perlakuan yang lebih zalim lagi. Kedua, memaafkan dengan catatan yang mengesankan masih tersimpan kebencian dalam hati. Ketiga, perilaku yang jarang sekali dilakukan oleh kebanyakan orang, yaitu membalasnya dengan kebaikan.

Sedangkan kita? Ada pada pilihan yang ke berapa? Sejenak kita akan sedikit berkontemplasi terhadap firman Allah yang tersurat dalam surah Fushilat ayat 34. Ada resep ajaib yang tertuang dalam surah ini tentang menjalin hubungan sosial yang baik dan memenuhi kondisi psikis kita dengan kebaikan. Di situ Allah menjelaskan bahwa kejahatan dan kebaikan itu tidak sama, maka kita dianjurkan untuk membalas kejahatan itu dengan kebaikan. Maka, ketika diantara kita dan di antara si pelaku kejahatan itu awalnya terdapat permusuhan yang hebat, maka nantinya seolah akan menjadi kawan yang sangat setia.

Mari kita tengok bagaimana sosok Al-Qur’an berjalan, yaitu Baginda Nabi Saw. Mengaplikasikan ayat Allah tersebut dalam kehidupannya. Mungkin kita masih ingat bagaimana perilaku beliau terhadap orang yang senantiasa meludahinya tiap kali Nabi berangkat ke Masjid. Tatkala si peludah itu tak terlihat batang hidungnya, maka sang Nabi pun mencari informasi hingga akhirnya didapat bahwa si peludah itu sedang sakit. Maka jadilah Nabi sebagai penjenguk pertama serta membawakannya makanan. Haru dan lantunan dua kalimat syahadat terucap dari bibir sang peludah tersebut, reaksi akan agunya Akhlak Sang Nabi.

Atau mungkin kita masih ingat ketika seorang pengemis Yahudi yang buta kerap kali mencaci Sang Nabi. Namun dengan sabar Nabi tetap memberinya makan setiap hari, bahkan melembutkan makanan yang dibawanya agar mudah dikunyah oleh Si Pengemis, bahkan menyuapinya dengan penuh kelembutan. Si Pengemis tak tahu kalau Sang Penyuap makanan itu adalah orang yang kerap dihinanya. Hingga suatu saat ketika Nabi wafat, Abu Bakar yang menggantikan “ritual” menyuapi Si Pengemis Yahudi, ia sadar bahwa ini bukan lah orang yang biasa menyuapinya. Ketika Abu Bakar menyebutkan nama Muhammad Saw. adalah orang yang biasa menyuapinya, tangis pun pecah pada saat itu. Dan untuk yang kesekian kalinya kalimat syahadat terlantun akibat dari keluhuran akhlak Nabi.

Mari sejenak tengok diri kita yang lebih sering untuk memilih pilihan untuk membalas kezhaliman orang lain dengan balasan yang setimpal, hingga rasanya takkan puas sebelum kita bisa melakukannya. Paling banter mungkin kita hanya dengan berat hati memberinya maaf. Pernahkah menuju tingkatan yang lebih tinggi dari hanya sekedar memberi maaf, yaitu membalasnya dengan kebaikan.

Ketika ada satu ajaran agama lain mengajarkan untuk memberi pipi kanan ketika pipi kiri kita ditampar demi perdamaian dunia. Maka inilah Islam, yang menganjurkan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan demi persahabatan dan baiknya hubungan sosial. Dalam agama kita memang kita diberi hak untuk membalas dengan balasan yang setimpal. Namun memberi maaf lebih diajurkan. Bahkan ada nilai lebih ketika kita malah membalasnya dengan kebaikan.

Sebelum ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu membalas kejahatan dengan kebaikan. Tentunya kita harus berkenalan dulu dengan kata “maaf”. Menurut McCullough dkk. (1997) yang mengemukakan bahwa pemaafan merupakan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang untuk tidak membalas dendam dan meredakan dorongan untuk memelihara kebencian terhadap pihak yang menyakiti serta meningkatkan dorongan untuk memperbaiki hubungan dengan pihak yang menyakiti.

BACA JUGA  Berhati-hatilah Soal Utang Piutang, Islam Serius dalam Perkara Ini

Menekan amarah artinya akan menimbulkan reaksi kimia dalam tubuh kita berupa penurunan hormon adrenalin yang merupakan pemicu sikap agresi dalam tubuh kita. Juga menekan hormon kortisol berupa yang berperan menimbulkan kecemasan dan stres dalam tubuh kita. Apa jadinya jika aliran darah kata selalu diendapi hormon tersebut secara berlebihan tiap saatnya? Itu akan terjadi ketika kita memelihara dendam dalam hati.

Bukankah itu akan menjadi beban dan luka yang terpelihara. Apalah arti hidup kita jika kita terus memelihara luka dan menyengaja membuatnya menjadi permanen? Rasa cemas dan kecenderungan agresi menjadi karakter kita.

Menurut Harun Yahya, Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.

Proses memaafkan juga bukan berarti kita mengingkari luka yang ditimbulkan oleh pelaku, kita tetap mengakui bahwa itu adalah hal yang menyakitkan. Namun, esensinya bagaimana luka tersebut pada awalnya harus kita “balut”. Oleh karena itu, meredakan dan memadamkan kebencian terhadap seseorang yang menyakiti bila dibalut, apalagi ditambah dengan obat, ibaratnya memberi antibiotik untuk mematikan sumber sakit.

Meredam kebencian juga menjadi proses pemaafan berikutnya. Ketika kita bisa berpikir dengan jernih, maka kita akan sadar bahwa memelihara kebencian tak akan berguna bagi kita sedikitpun. Bahkan hanya membuat keadaan lebih buruk. Bila tak kunjung bisa meredam, maka cobalah untuk berempati dan menyelami pikiran si pelaku kejahatan, cobalah cari seribu alasan logis mengapa ia berbuat demikian, yang terkadang kita akan menemukan sebuah pemakluman. Atau bisa jadi ada sebuah sebab yang mana ketika itu terjadi pada kita akan melakukan hal yang lebih buruk, sehingga kita bisa introspeksi diri, bahwa diri kita tak lebih baik dari si pelaku kejahatan.

Dan yang terakhir, dan ini yang paling penting adalah bagaimana hubungan kita dengan si pelaku kejahatan bisa menjalin hubungan yang baik di kemudian hari, bahkan dalam waktu yang relatif panjang. Pihak yang menyakiti harus tulus menyatakan kepada pihak yang disakiti dengan tidak akan menyakiti hati lagi. Pihak yang disakiti perlu percaya bahwa pihak yang meminta maaf menepati janji yang dibuat. Mereka juga harus berjanji untuk berjalan bersama di masa yang akan datang dan saling membutuhkan satu sama lain.

Ini bisa dilakukan oleh yang dizhalimi terhadap pelaku dengan membalas kezhaliman itu dengan perbuatan yang baik. Dari perbuatan baik itu, maka itu akan menyentuh hati nurani si pelaku kejahatan, dan memperkuat komitmen dalam persahabatan, menumbuhkan rasa saling setia dan membutuhkan. Seperti apa yang dicontohkan oleh Nabi kita. Itulah resep ajaib dari surah Fushilat yang sempat disinggung di atas. Berapa kali Nabi menerapkan resep ini untuk menunujukkan keluhuran akhlaknya sehingga dengannya beberapa di antara orang yang dekat dengan beliau melantunkan syahadat keislamannya. (Ilyas)

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment