Ini Yang Harus Diperhatikan Saat Shalat Berjamaah Di Masjid

shalat

PERCIKANIMAN.ID – –  Salah satu kewajiban bagi laki-laki yang telah baligh adalah shalat berjamaah di masjid khususnya untuk shalat wajib. Hal ini dapat kita pahami sesuai dengan perintah Rasulullah Saw dalam hadisnya:

Shalat berjamaah merupakan sunnah yang diwajibkan kepada setiap muslim laki-laki,” tegas Abu Bakar. Suatu ketika seorang buta mendatangi Rasul hendak meminta keringanan agar tidak shalat berjamaah di masjid. Lalu Rasul bertanya, “apakah engkau mendengar suara adzan?” Orang buta itu menjawab, “ya saya dengar.” “Maka jawablah adzan itu,” sabda Rasul. Kisah yang diriwatkan oleh Muslim itu mengindikasikan pentingnya shalat berjamaah di masjid. Selain keutamaan pahala, shalat berjamaah juga menunjukan kekompakan umat. Seperti diisyaratkan oleh Rasul; “… Hendaklah kalian selalu berjamaah, karena ‘serigala’ itu selalu menerkam ‘kambing’ yang terpisah dari kelompoknya” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasai).

Tentu saja dalam shalat berjamaah pun kita patuh pada etika-etika. Hal ini dilakukan, agar ibadah kita kian sempurna di sisi Allah. Adapun beberapa etika yang perlu kita ketahui selama shalat berjamaah adalah sebagai berikut;

  1. Raih shaf utama dan merapikan barisan.

Muslim meriwatkan bahwa shaf paling utama bagi laki-laki adalah yang terdepan, sedangkan bagi wanita adalah yang paling belakang. Berlomba-lomba meraih shaf terdepan juga dianjurkan oleh Rasul, seperti sabdanya, “seandainya mereka mengetahui keutamaan (pahala) yang diperoleh dalam shaf yang pertama, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya (HR. Bukhari & Muslim).” Perkara kerapian barisan juga bukan urusan sepele. Pasalnya, Rasul selalu mewanti-wanti sumatnya agar selalu rapi dalam shalat berjamaah.

  1. Jangan mendahului imam.

Ini penting, karena imam adalah simbol pemimpin dalam Islam. Bila kita tak mau mengikuti ‘imam’, jelas ‘barisan’ umat akan berantakan. Jika sudah tak terorganisasi dengan baik, bukankah akan lebih mudah dihancurkan oleh musuh-musuh Islam. Dalam shalatpun kita diajarkan manajemen kepemimpinan. “Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya… (HR. Bukhari).” Abu Bakar menjelaskan, imam dipilih untuk diikuti dan jangan kita mendustakan pilihan kita. Artinya, bila kita merasa keberatan akan imam shalat karena keimanannya maka pilihlah yang terbaik imannya diantara mereka. Tetapi, bila seorang imam telah terpilih hendaknya kita mengikuti dia.

promooktober1
  1. Tidak boleh menguasai tempat khusus.

Masjid merupakan milik umat, bukan milik indvidu atau sekelompok orang. Sehingga tidak dibenarkan dalam masjid membuat tempat khusus. Biasanya kita akan dengan mudah menemukan kasus ini pada masjid-masjid yang biasa didatangi oleh pejabat negara. Misalkan, salah satu shaf bertulis ‘khusus presiden’ atau ‘tempat shalat gubernur/ wali kota’ apalagi bila ada shaf bertuliskan ‘jamaah VIP’ wah-wah jelas hal ini sangat berlebihan. Hal ini tidak diperolehkan, sebagaimana sabda Rasul; Abdurrahman bin Syubal berkata bahwa Rasulullah melarang tiga hal di masjid:

Mematuk seperti burung gagak (dalam sujud), menghamparkan lengan seperti binatang buas dan menempatkan seseorang pada satu tempat khusus untuk shalat seperti menempatkan seekor unta” (HR. An-Nasai).”

Jadi bila Pak Gubernur telat datang dalam shalat berjamaah, dia harus mengambil shaf di belakang.

  1. Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat.

Dalam hadis Bukhari & Muslim meriwayatkan, bahwa Rasul bersabda, “seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat  mengetahui (dosa) yang ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40 ( tahun), itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yangsedang  shalat.”

Tentu sebaiknya kita mengambil jalan lain di belakang mereka. Melangkahi seseorang yang sedang shalat juga bisa mengganggu kosentrasi muslim yang bersangkutan. Sehingga sangat wajar, bila Rasul menyeru agar kita memilih shaf terdepan. Agar orang yang terlambat tidak mengganggu jamaah lain.

  1. Membaca doa keluar masjid.

Wahai Allah aku meminta karunia-Mu” (HR. Muslim).

Doa keluar masjid sangat sederhana. Tetapi mengandung makna yang mendalam, agar setiap ibadah yang kita lakukan selama di masjid dapat kita ‘bawa’ hingga keluar masjid. Banyak ulama juga menganjurkan agar kita melangkah dengan kaki kiri saat keluar dari masjid. “Etika di dalam masjid merupakan perwujudkan akan niat baik kita untuk memuliakannya,” ungkap Abu Bakr. Ia lebih lanjut menilai, melalui etika yang baik terhadap rumah-Nya secara tidak langsung kita menghormati pemiliknya.

Sebaiknya kebiasaan untuk menjalankan shalat berjamaah di masjid ini bisa ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin. Mungkin pada tahap awal mereka akan terlihat main-main namun dengan kesabaran dan penjelasan yang kontinu akan membuat mereka paham.[ ]

Red: iqbal

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment