Karakteristik Hamba-Hamba Pilihan, (Bedah Q.S Al-Furqan 63-70)

alquran tilawah

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا (٦٣) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا (٦٤) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (٦٥) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (٦٦) وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (٦٧) وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩) إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠)

 

(63).  Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam” (64). dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri. (65). Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,” (66). sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (67). Dan (termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar, (68). dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (69). (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, (70). kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Tidak dipungkiri jika dalam setiap diri manusia ada keinginan dirinya menjadi yang terbaik diantara sesamanya. Keinginan itu kemudian diwujudkan dalam berbagai upaya agar ia mempunyai kedudukan, prestasi dan prestise sampai pada tahap ia dipandang orang sebagai seorang yang hebat, super dan berbagai predikat prestisius lainnya. Bagi seorang mukmin, kriteria superioritas yang dimiliki individu, tidak hanya berhenti dalam pandangan sesama manusia saja, tapi lebih penting lagi berusaha semaksimal mungkin agar ia termasuk hamba terbaik dalam pandangan Allah.

Sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas, bahwa ada ‘ibadur-rahman’ hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih dengan berbagai karakteristik yang dimilikinya. Dan berikut kriteria yang ditetapkan Allah agar termasuk hambaNya yang sesungguhnya berdasarkan ayat di atas;

1)‘… orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati …’. karakter hamba terbaik yang pertama ini menggambarkan ketawaduan sekaligus kewibawaan seorang hamba Allah terbaik. Ketawaduan atau rendah hati tersebut ditunjukkannya dari caranya berjalan yang tenang dan rileks, tidak terburu-buru namun tidak juga lelet, tidak angkuh namun tidak juga merendah. Suatu ketika Umar Bin Khattab berpapasan dengan seorang pemuda yang berjalan sempoyongan layaknya orang sakit. Umar bertanya padanya, apa gerangan yang menyebabkan kamu berjalan seperti itu, apakah kamu sedang sakit? ‘tidak’ wahai Amirul-mukminin, jawab pemuda tersebut. Lantas Umar menekankan agar sang pemuda berjalan dengan gagah, berwibawa namun tetap tenang dan penuh kerendahan hati.

2)“dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam”. Karakter ini menunjukkan sikap arif dan bijaksana terutama ketika berhadapan dengan orang-orang yang minim latar belakang pendidikannya, baik pendidikan agama atau yang lainnya. Sehingga sikap mereka yang kadang kurang etis dan “teu nyakola”, maka kemaafan yang pertama kali meluncur darinya diikuti tutur kata yang lembut berisikan nasihat. Kebodohan dalam ucapan dan tindakan dari orang lain dibalasnya dengan kearifan dan kepandainnya.

3)“dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri”. Malam adalah waktu istirahat. Bagi hamba Allah, ketersediaan waktu di malam hari tidak dihabiskannya dengan tidur yang lelap. Disediakannya separuh waktu sewajarnya untuk mendekatkan dri pada Allah dengan Qiraatul-quran, shalat malam dan dzikir. Dalam ayat lain Allah berfirman :
تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (١٦)
Mereka tinggalkan tempat tidurnya untuk selalu berdoa kepada Tuhan dengan rasa takut dan penuh harap, serta menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka.  ( QS. As-Sajdah : 16 )

4) “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,” sungguh untaian kata yang sederhana terucap dari seorang hamba terkasih namun sarat makna. Untaian kata yang menggambarkan kesadaran penuh akan tanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan di dunia. Karenanya……

 

KE HALAMAN SELANJUTNYA…>>

REKOMENDASI

Leave a Comment