Tangga Kebajikan (Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2]: 177)

masjidilaqsa

Oleh : Dr. H. Aam Amiruddin

 
 
bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”

promooktober1

Ayat ini turun berkenaan dengan perintah Allah kepada kaum muslimin untuk memindahkan arah kiblat dari Baitul maqdis ke arah Ka’bah. Pemindahan kiblat ini menimbulkan reaksi pro-kontra dan berujung pada perdebatan dan pertengkaran antara kaum Muslim dan orang-orang ahli kitab (kaum Nasrani dan kaum Yahudi). Mereka terus bertahan dengan argumennya masing-masing sampai akhirnya masing-masing pihak merasa bahwa arah kiblat dipandang sebagai ukuran kebaikan.

Menanggapi hal tersebut, Allah menjelaskan bahwa pokok kebajikan bukanlah arah kiblat yang dituju. Karena kiblat disyari’atkan untuk menyatukan arah sholat agar jelas dan beraturan. Bisa dibayangkan jika tidak terdapat arah kiblat yang ditentukan, betapa tidak tertibnya shalat yang dilakukan terutama saat shalat berjama’ah. Menghadap kiblat merupakan syi’ar untuk kesatuan umat guna mencapai suatu tujuan dalam mengabdikan diri kepada Allah.

Menurut riwayat Ar Rabi’ dan Qatadah, sebab turunnya ayat ini adalah bahwa orang-orang Yahudi, sembahyang menghadap barat, sedang orang Nasrani menghadap timur. Masing-masing golongan mengatakan: golongannya adalah yang paling benar dan oleh karena itu golongannyalah yang berbakti dan berbuat kebajikan. Sedang golongan lain salah dan tidak dianggap berbakti dan berbuat kebajikan. Oleh karena itu, ayat ini diturunkan untuk membantah prasangka mereka.

Mengamati ayat di atas, Allah menegaskan bahwa kebajikan bukan hanya diukur dari kemana seseorang menghadap dalam ibadahnya. Dalam penegrtian lebih luas, kebajikan bukan diukur kemana ia berhaluan, beraviliasi atau berada pada komunitas dan golongan tempat ia berada, kebajikan yang sesungguhnya adalah beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, iman yang tertancap dan bersumber dari lubuk hati yang terkristalisasi dalam  sikap tingkah laku dan perbuatan.

Iman kepada Allah merupakan sumber cahaya yang memancarkan sinar sehingga membuat suasana jiwa yang tentram. Iman merupakan sumber energy yang menumbuhkan kekuatan menghalau bujuk rayu setan, keberanian melawan ketidak-adilan, memupuk rasa cinta kepada sang pencipta dan rasa takut akan adzabNya. Iman kepada hari akhir merupakan bagian dari planning yang jauh ke depan sehingga memahami arti kehidupan dunia yang sesugguhnya. Iman kepada malaikat adalah titik tolak iman kepada wahyu. Bahwa di antara tugas dari malaikat adalah menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan memberikan ilham mengenai persoalan agama. Iman kepada kitab-kitab Allah (Al-Qur’an, Injil, Taurat, Zabur)  yang dibawa oleh para Nabi sebagai petunjuk kejalan yang benar dan memerintahkan manusia untuk mengamalkan kandungan kitab baik perintahnya maupun menjauhi laranganya. Seorang yang yakin, bahwa sesuatu yang benar, akan terdorong untuk mengamalkannya, dan apabila ia yakin bahwa sesuatu akan membahayakan dirinya maka ia akan menjauhi dan meninggalkanya.

Namun kebajikan belum cukup untuk berhenti pada keimanan yang bersifat abstrak. Selanjutnya perlu pembuktian dalam bentuk tindakan yang nyata, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat di atas, yaitu :

1. Memberikan harta yang dicintainya.
Menjelaskan petikan ayat ini, Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits sebagi berikut : Abu Hurairah dia berkata; Seseorang bertanya; “Wahai Rasulullah! Sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab: ‘Kamu bersedekah padahal saat itu kamu dalam keadaan sehat dan sangat berat untuk bersedekah (bakhil), kamu mendambakan kehidupan dan takut fakir.’ (Nasaiy). Kepada siapa kita mengeluarkan harta yang dicintai tersebut :
a.    Kerabat atau sanak famili yang pastinya dalam kondisi membutuhkan. Mereka lebih dulu berhak mendapatkan uluran tangan.
b.     Anak yatim, yakni seorang anak yang belum baligh atau belum bisa mandiri kemudian terlantar sehingga memiliki masa depan yang suram karena tidak terurus secara financial maupun pendidikan akibat ketidak-mampuan orangtuanya baik karena sudah meninggal atau karena kelemahan lainnya.
c. Kaum fakir miskin, yaitu mereka yang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, umat Islam yang mampu diwajibkan untuk menolong mereka. Karena mereka juga bagian dari tubuh umat islam. Menolong mereka berarti menjaga keutuhan tubuh dan menghindarkannya dari kecacatan yang dapat merobohkan pembangunan umat.
d.    Ibnu Sabil (orang yang melakukan perjalanan jauh), ibnu sabil melakukan perjalanan yang panjang dan jauh dari sanak keluarga yang dapat membantunya, sehingga ia mengalami kekurangan.
e. Orang yang terpaksa meminta-minta karena tidak ada jalan lain untuk memenuhi kebutuh yang dirasakan sangat berat dan terdesak.
f. Budak atau hamba sahaya sehingga ia dapat memperoleh kemerdekaannya. Dan hal ini menunjukan bahwa Islam sebagai pembebas umat dari segala bentuk penindasan dan penganiayaan.

Seperti itulah Islam mengajarkan ummatnya untuk menunaikan hak-hak sesama sehingga tercipta kesejahteraan umat.

2. Mendirikan sholat.
Dan ini merupakan salah satu nilai kebajikan yang sangat penting. Mendirikan shalat tidak hanya mencakup gerak dan doa saja, namun perlu adanya penghayatan makna yang terkandung didalamnya. Sholat merupakan tiang agama, dan barang siapa yang menegakkannya maka sesungguhnya ia telah mendirika  agama, dan begitu pula sebaliknya barang siapa yang meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama. Karena sholat yang benar akan menciptakan perilaku yang mulia dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang keji.

3. Menunaikan zakat.
Betapa banyak ayat dalam alqur’an yang menggandengkan perintah mendirikan sholat dengan perintah zakat. Hal ini dikarenakan ada hubungan yang sangat erat antara melaksanakan kebaktian dan kebajikan. Sebab sholat merupakan pembersih jiwa, sedang zakat merupakan pembersih harta. Karena kebaktian tidak cukup dengan jiwa saja tetapi harus juga dengan harta.

4. Menepati janji bagi yang telah mengadakan perjanjian.
Baik janji yang dibuat kepada Allah maupun sesama manusia.

5. Bersabar.
Bersabarlah atas beberapa hal berupa kesengsaraan, kesulitan dan musibah. Allah mengkhususkan sabar atas hal tiga tersebut, sebab orang yang dapat bersabar dalam hal tersebut sudah barang tentu dapat bersabar terhadap hal-hal yang lainnya karena ketiga hal tersebut merupakan keadaan yang terlampau berat, dada terasa sesak, dan dapat menjerumuskan orang dalam kekafiran.

Mereka yang mampu merelisasikan nilai-nilai kebajikan dalam dirinya, merekalah orang-orang yang berada pada jalan kebenaran dengan pakaian indah ketaqwaan. Allah berfirman : “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Qs. Al-A‘raf : 26).

Dengan demikian, orang yang bertaqwa adalah orang yng mampu menciptakan hubungan dengan Allah dan ciptaan-Nya sekligus memeliharanya dengan istiqomah disertai kesabaran, ketabahan, kesetiaan dan komitmen terhadap seluruh perjanjian Ilahi dan insani. Ayat ini menilai seorang Mukmin yang baik selain menunaikan infak wajibnya, yaitu zakat, juga menunaikan infak sunnahnya.

(Visited 1 times, 1 visits today)

REKOMENDASI

Leave a Comment