Manajemen ASIP Bagi Buah Hati

asi perah

PERCIKANIMAN.ID – – Alangkah baiknya bila ayah bunda memilih ASI guna mencukupi nutrisi buah hati yang baru lahir hingga genap dua tahun. Tentu ayah bunda setuju bahwa ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Nah, sekarang saat kita membahas tentang menyusui dan sinilah para ayah berperan cukup siginifikan. Lho, kok ayah? Bukankah kegiatan menyusui adalah aktivitas para bunda? Memang betul, kegiatan memberi ASI adalah tugas para bunda yang notabene ‘memproduksi’ ASI. Akan tetapi, hal ini tidak lantas membuat para ayah berleha-leha karena merasa terbebas dari tugas.

ASI Perah (ASIP) sangat lazim digunakan di kota, terutama bagi wanita karir yang tidak sempat menyusui buah hati secara langsung. Konsepnya sederhana sekali, ASI yang telah diperah kemudian disimpan untuk diminum oleh bayi ketia dia membutuhkannya. Tentu saja, hal ini perlu dilakukan dengan saksama. Tanpa pengetahuan yang cukup, alih-alih memudahkan, ASIP malah tidak layak konsumsi. Merujuk pada protokol milik The Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Committe (2010), terdapat sedikitnya tiga hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen ASIP.

alquran muasir
  1. Memerah

Selain dihisap oleh bayi, ASI juga bisa keluar dengan diperah. Banyak cara untuk memerah ASI. Misalnya menggunakan teknik marmet, metode massage, stroke, dan shake. Tentu kita memerlukan latihan agar dapat menghasilkan ASIP optimal. Selain itu, ASI juga dapat diperah dengan menggunakan alat bantu yakni pompa ASI, baik manual maupun elektrik. Silakan saja pilih sesuai selera.

Biasanya, bayi yang baru lahir akan menyusu setiap tiga jam sekali. Karenanya, disarankan memerah ASI secepatnya setelah bayi lahir. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga stok ASIP, kalau-kalau bunda tidak bisa menyusui secara langsung. Jangan khawatir bila ASIP yang dihasilkan tidak sebanyak yang diharapkan. Karena pada prinsipnya, ASI yang diproduksi akan disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Atau, bunda bisa memilih waktu memerah saat ASI sedang penuh-penuhnya, semisal pada malam hari.

  1. Menyimpan

Ini merupakan langkah paling menentukan. Salah menyimpan bisa berakibat fatal. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu semakin dingin suhu semakin baik, ASIP beku yang sudah dicairkan tidak boleh dibekukan kembali (termasuk yang sudah dihangatkan tidak boleh dihangatkan kembali), dan gunakan freezer bila ingin menyimpan ASIP lebih dari delapan hari. Lalu, berapa lama ASIP mampu bertahan?

kalender

 

Tempat Penyimpanan Suhu Daya Simpan
Kamar/ ruangan 16-29o Celcius 3-4 Jam (ideal), 6-8 Jam (kondisi pompa perah steril)
Icepack/ Cool Box 15 o Celcius 24 Jam
Kulkas Bagian bawah 4 – 0 o Celcius 48-72 Jam (ideal), 5-6 hari (kondisi pompa perah steril)
Freezer -17 o Celcius 6 bulan (ideal), 12 bulan (boleh)

Sedangkan, untuk sarana penyimpanan ASIP yang ideal adalah botol plastik BPA Free (bebas Biphenol A) untuk penyimpanan sehari-hari. Khusus penyimpanan di dalam freezer, gunakan botok kaca steril. Takaran untuk ASIP sebenarnya tidak ada standar idealnya. Hal itu tergantung pada konsumsi masing-masing bayi. Tetapi, rata-rata menggunakan takaran 60-120 ml per botol. Perlu diingat, jangan isi penuh botol dengan ASIP. Selalu sediakan ruang dalam botol karena ASI akan memuai dalam botol.

  1. Menggunakan ASIP

Seperti menggunakan susu pada umumnya, ASIP bisa langsung dikonsumsi oleh bayi. Tetapi, bila ASIP yang hendak digunakan sudah membeku, sebaiknya kita cairkan dahulu. Ingat! Jangan langsung mencairkan dengan air panas. Hal itu akan merusak kandungan nutrisi ASI. Bila ingin mencairkan ASIP beku dari freezer, pindahkan dulu ke kulkas bawah sehari sebelumnya. Hal ini akan membuat ASIP mencair tanpa terjadi peningkatan suhu secara drastis. Setelah itu, keluarkan dan simpan di ruangan hingga tidak terasa dingin. Barulah kita bisa rendam botol dengan air hangat seperlunya.

Ketika memberikan ASIP, kita dianjurkan tidak menggunakan botol dot, lho? Sebab, menurut dr. Wiyarni Pambudi, Sp. A, IBCLC, seperti dikutip dari okedokter menyebutkan penggunaan botol dot dapat mengganggu proses menyusui alami. “Istilah ‘bingun-puting’ memang masih pro kontra. Namun, sebaiknya menghindari resiko tersebut,” ungkap Wiyarni. Caranya adalah dengan tidak mengenalkan botol dot kepada bayi ‘muda’. Selain itu, beberapa penelitian menunjukan bahwa botol dot meingkatkan prevalensi radang telinga tengah, mal-oklusi (susunan gigi dan rahan tidak sempurna), dan karies gigi. Alternatifnya, ayah bunda bisa menggunakan baby cup feeder, softcup feeder, spuit, atau spoon feeder.

Nah, di sinilah tugas ayah. Misal, saat bayi terbangun pada dini hari karena haus, berilah ASIP. Berilah bunda waktu untuk beristirahat karena sudah kelelahan setelah seharian mengurus buah hati ANda. Setelah bayi kenyang dan kembali tidur pulas, maka ayah akan merasa seperti The Incredible Super Duper Dad. Ketika pagi menyingsing, mungkin ayah akan berkata dengan bangga kepada bunda. [ ]

 

Red:  Sarah dan Sofie

Editor: Iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment