3 Cara Umar bin Khatab Dalam Menghadapi Musibah

itikaf sendiri

PERCIKANIMAN.ID – – Musibah silih berganti yang datang bisa jadi cobaan untuk umat muslim sebagai pembuktian kualitas keimanan dengan sikap sabar. Musibah bisa jadi cobaan atau bencana, bahkan tak jarang jadi malapetaka. Hal itu tergantung pada siapa yang menerima musibah itu. Seorang Umar bin Khatab bila ditimpa suatu musibah, ia akan bersyukur atas tiga hal.

Pertama, Umar bersyukur karena musibah yang menimpa dirinya tidak sebesar musibah lain. Hal kerap dilakukan oleh sebagian besar orang Indonesia. Misalkan ketika ditimpa musibah kecelakaan, mereka akan berkata, “untung yang rusak hanya motor atau mobilnya.” Atau “ Alhamdulillah hanya lecet” dan sebagainya.

alquran muasir

Ternyata kebiasaan membandingkan ini tak selamanya buruk, justru membandingkan musibah yang kita terima dengan yang lebih besar adalah baik. Selain untuk menghibur diri, hal ini juga bisa membuat kita makin bersyukur. Apa yang dilakukan Umar bisa jadi bentuk sabar yang hakiki. Yakni menerima sebuah musibah dengan lapang dada sembari bersyukur. Bukan malah mengeluh mencari kesalahan orang lain, apalagi sampai ‘mengemis’ minta pertolongan.

Kedua, Umar bersyukur karena setiap musibah yang menimpa dirinya pasti membawa hikmah. Kita simak kabar gembira dari Allah Swt dalam Al Quran:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”  (QS.AL Insyirah: 5-6)

kalender

Dalam ayat tersebut yang secara tegas mengyatakan bahwa di tiap kesukaran pasti ada kemudahan. Begitulah janji Allah, dan Allah tak pernah inkar janji. Karena itu, Umar tak pernah mengeluh saat ditimpa sebuah ujian. Karena ia yakin, bahwa selalu ada jalan ditiap kesulitan.

Ketiga, Umar bersyukur karena musibah yang menimpa dirinya bukan ‘musibah agama’. Para ulama menegaskan, musibah seperti ini adalah musibah yang sesungguhnya!

Lantas seperti apa musibah agama ini? Ialah ketika amanah dan rasa malu dicabut. Bila seseorang mulai tak peduli lagi dengan amanah, maka berhati-hatilah. Terlebih bila orang sudah tak tahu malu. Bencana bisa saja menimpa sebuah masyarakat bila para pemimpin mulai inkar dan orang-orang sudah punya rasa malu. Perzinahan sudah sedemikian terbuka begitu juga dengan segala bentuk kemaksiatan yang terang-terangan dilakukan meski kadang terselubung dengan istilah “hiburan”.

Ditingkat musibah kronis seperti ini, sabar perlu dibuktikan dengan sebuah usaha. Usaha untuk memperbaiki keadaan. Diam saja ditengah masyarakat yang seperti itu sama saja dengan menyerah kepada kedzaliman!

Disina kesabaran umat muslim yang sesungguhnya di uji. Tak cuma menuntut keimanan ditataran individu, tapi lebih dari itu; perubahan dinanti dari buah kesabaran umat muslim. Bukan tak mungkin kesabaran yang dilandasi oleh iman dan takwa mampu mengubah masyarakat jadi lebih baik. Bukankah, Rasul telah mempraktikannya 15 abad yang lalu? Dengan kesabaran, ia mampu merubah masyarakat Arab yang semula Jahiliyah menjadi masyarakat Madani. Inilah makna kesabaran yang sejati!  Semoga kita bisa belajar dari Umar bin Khatab ketika ditimpa musibah. [ ]

Red: Iqbal

Editor: Iman

Ilustrasi foto: pixabay

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Komentar Artikel “3 Cara Umar bin Khatab Dalam Menghadapi Musibah

  1. asep sudarsono

    Namun betapa susahnya menerima msibah ini,kaena mencari kemudahan itu yang sulit dan entah kapan akan datang kemudahan itu.

Leave a Comment