Mengapa Allah Hanya Meridhoi Islam Sebagai Agama? Begini Penjelasan Ilmiahnya

shalat haji

( Bedah al-Quran Surat Ali Imron : 19 )

 

Oleh: Dr.Aam Amiruddin,MSi

alquran muasir

Ali Imran_19

 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(QS.Ali Imran:19)

Tidak sedikit orang yang hidup di akhir jaman sekarang ini yang memilih gaya atau pola hidup materalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan dunianya. Dalam pandangan mereka, agama hanyalah illusi yang dapat menghambat ambisi dunia mereka. Dan ternyata secara perlahan tapi pasti, mereka menyadari bahwa pola hidup seperti itu tidak membawa kepuasan dan ketenangan dalam kerangka kehidupan yang berkeseimbangan antara jasadiyah dan ruhiyah. Boleh jadi, unsur jasadiyah ( fisik ) sangat memuaskan, tapi ruhiyah ( batin ) mereka kosong dan hampa dari makna hidup yang sebenarnya. Di tengah situasi seperti ini, kemudian kebutuhan beragama kian tumbuh subur. Hanya saja kebingungan menghampiri saat menentukan agama yang hendak dipilhnya. Mengingat betapa banyak agama yang ada sekarang ini.

Sejatinya, Islam-lah agama yang harus mereka pilih. Agama dengan segala kesempurnaan ajarannya baik menyangkut hubungannya dengan Tuhan Sang Pencipta maupun hubungannya dengan sesama manusia. Islam, agama yang menawarkan pola keseimbangan antara dunia dan akhirat. Islam, agama yang mengajarkan manusia untuk senantiasa sukses dan sejahtera di dunia namun juga selamat dan bahagia di akhirat. Semua aspek kehidupan manusia diatur dalam ajaran Islam yang mulia ini. kebenaran Islam sebagai ajaran atau agama sudah sangat jelas dan gamblang serta sangat sulit terbantahkan kecuali bagi mereka yang telah terutup hatinya.

kalender

Ada yang sangat patut disayangkan jika akhir-akhir ini berhembus anggapan bahwa “semua agama sama saja”, dengan alasan yang terlalu sederhana, bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, melarang keburukan, surga dan neraka dan lain sebagainya. Anggapan ini tidak berbicara lebih jauh mengenai otensitas, rasinalitas dan eksistensi sumber ajaran dari agama yang ada. Sungguh anggapan ini ibarat melihat sejumlah bentuk benda dari kejauhan yang ada kemiripan. Padahal boleh jadi bentuknya sama-sama kotak, tapi tidak tahu kalau diteliti lebih dekat ternyata ada yang terbuat dari kayu, besi dan emas. karena tidak ingin lebih dekat untuk menentukan kulaitas dari masing-masing benda, akhirnya dikatakan bahwa semua benda itu sama saja. Padahal diantara benda itu ada yang jauh lebih berharga karena terbuat dari emas.

Sebagai hamba Allah yang beriman, wajib tanpa kecuali untuk meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang layak untuk dianut segenap manusia di muka bumi ini. Islam dengan segala kesempurnaannya, sebagai pedoman satu-satunya yang menjamin hidup kian bermakna dan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagaimana diisayaratkan dalam ayat ke 19 surat Ali Imron  di atas.

Allah berfirman ; “Sesungguhnya din  ( agama ) yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam…”.

Kata “din” seringkali kita artikan dengan agama. Sementara arti kata secara bahasa adalah tha’at, tunduk dan balasan. Itu sebabnya kata yaumud-din, berarti hari pembalasan. Sejumlah ulama memberikan beberapa definisi dari ad-Din ( agama ). Sebagian mengatakan bahwa ad-Din artinya segala perintah yang dibebankan oleh syara’ kepada hamba yang telah baligh dan berakal (mukallaf). Sebagian yang lain mengartikan agama adalah segala sesuatu yang tersimpan dalam kitab Allah dan sunnah nabiNya berupa perintah dan larangan demi kemaslahatan dunia dan akhirat. Dalam terminology lain, kata “agama” juga dimuat dengan kata “millah”. Sementara itu, kata “Islam” dalam struktur bahasa Arab merupakan mashdar ( akar kata ) yang artinya selamat sejahtera. Sementara dalam bentuk kata kerjanya yaitu “aslama” yang artinya ialah berserah diri. Dengan tinjauan bahasa dan istilah di atas, bisa kita padu-padankan untuk memahami pengertian ayat di atas; “Sesungguhnya din  ( agama ) yang diridhai disisi Allah hanyalah Islam……” bahwa agama yang ada pada sisi Allah hanyalah agama yang mengandung nilai penyerahan diri kepadaNya atas dasar kitab yang diturunkan dan Nabi-Nabi yang diutusNya. Kalau tidak ada nilai seperti itu, maka bukanlah agama namanya. Meski boleh saja berlabel Islam atau memakai kemasan Islam.

Dengan demikian, maka seluruh agama yang diajarkan Nabi­-nabi yang dahulu, sejak Adam lalu kepada Muhammad, termasuk Musa dan Isa, tidak lain daripada Islam. Beliau-beliau mengajak manusia supaya ber-Islam; menyerah diri dengan tulus-ikhlas kepada Allah. Sehingga setiap manusia yang berserah diri kepada Allah yang Esa, tidak menyekutukanNya, apapun nama yang disandarkan pada agamanya, maka ia telah memeluk Is­lam. Karena memang syari’at nabi-nabi bisa saja berubah karena perubahan zaman dan tempat, namun hakikat agama yang mereka bawa hanya satu; yaitu Is­lam. Karena sekarang manusia hidup di akhir jaman dengan nabi terakhir yang membawa syari’atnya adalah nabi Muhammad, maka wajib adanya setiap manusia mengikuti apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Selanjutnya Allah berfirman; “… tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka…”

Lanjutan ayat ini memberi petunjuk bahwa setiap manusia dengan akal sehat dan ilmunya bisa melihat secara jujur dasar-dasar dalam ketuhanan dan bagaimana seharusnya setiap diri manusia berhubungan dengan Tuhannya. Bahkan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan sience, semakin menguatkan keyakinan akan adanya “suatu Dzat Yang Maha Kuasa” dalam mengurusi alam semesta yang sangat rumit ini, karena tidak mungkin diatur oleh manusia atau makhluk yang sangat lemah ini. Namun, dalamnya kebencian dalam dada manusia disertai kuatnya pengaruh hawa nafsu, bisa melemahkan kekuatan fikir dan dzikir dalam melihat hakikat Tuhan. Seperti yang terjadi pada ahlu kitab ( Yahudi dan Nashrani ). Kebencian diantara sesama mereka menyebabkan objektiftas berfikir menjadi mandul. Keinginan mereka untuk saling menjatuhkan dan melemahkan menyebabkan mereka gelap dari kebenaran yang sesungguhnya. Padahal telah nyata kebenaran di depan mereka dengan adanya kitab yang Allah turunkan bersama Nabi dan rasul-Nya. Dalam ayat lain Allah berfirman :

dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. ( Qs. Al-Bayyinah : 4 )

Tercatat dalam sejarah yang tidak bisa diungkapkan disini, bahwa banyak pertentangan sesama ahli kitab demi mempertahankan hujjah masing-masing yang tidak jelas. Pertentangan yang berujung pada peperangan yang sangat merugikan mereka. Untuk itu, ayat ini juga merupakan peringatan bagi kita kaum Muslimin. Jangan sampai berani melampaui batas dalam hal kebencian tanpa dasar ilmu kebenaran. Meski akhirnya tercatat pula dalam sejarah jika sesama ummat Nabi Muhammad saw. pun tidak sedikit pertentangan dilakukan untuk sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

Selanjutnya Allah menjelaskan ; “… Dan barangsiapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah adalah amat cepat perhitunganNya.”Yaitu barangsiapa yang tidak menerima ketentuan-ketentuan dari Allah bahwasanya agama hanyalah satu yaitu menyerahkan diri kepada Allah Yang Maha Esa dan persatuan manusia di atas landasan tauhid, maka Allah akan secepat kilat mengambil tindakan. Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitab tafsirnya mengomentari penutup ayat ini, bahwa Allah akan membalas perbuatannya, melakukan perhitungan akan kedustaannya, dan memberi hukuman atas penentangan terhadap kitabnya. Wallahu’alam.[ ]

Editor: muslik

ilustrasi foto: pixabay

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment