Bir Tanpa Alkohol

ilustrasi minuman

Oleh : Ir. H. Bambang Pranggono, MBA.

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

alquran muasir

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Jawablah bahwa pada keduanya terdapat dosa besar dan ada beberapa manfaat bagi manusia. Namun, dosanya lebih besar daripada manfaatnya…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 219)

Di supermarket Bin Dawood (Mekah), kita bisa membeli minuman botol merk Musy yang bertuliskan Non-Alcoholic Beer. Rasanya agak pahit. Konon, menurut orang yang pernah merasakan bir, rasanya mirip dengan bir beralkohol pada umumnya. Tertera dalam kemasannya bahwa produk ini bermanfaat untuk wanita hamil, pengemudi, dan pengkonsumsi antibiotik yang ingin menikmati rasa bir tanpa efek negatif dari alkohol. Dan, tentunya kalau dipasarkan di Mekah, mungkin ditujukan bagi konsumsi penggemar bir yang sudah bertobat.

Rupanya, bir tanpa alkohol diproduksi pertama kali di Amerika Serikat pada 1919 ketika ada undang-undang yang melarang semua minuman beralkohol lebih dari 0,5%. Pada 1932, larangan tersebut dicabut namun produksi dan pasar bir tanpa alkohol tetap ada sampai sekarang. Pabrik-pabrik bir skala dunia seperti Guinness, Budweiser, dan Heineken memberi merek khusus untuk produk bir nonalkohol yang mereka produksi.

kalender

Di kalangan umat Islam terjadi perdebatan tentang prosentase kandungan alkohol yang menyebabkan minuman tertentu dikatagorikan haram. Ada yang berpendapat bahwa ambang batasnya adalah 0% alkohol. Maka, jadilah negeri-negeri Islam menjadi pasar produk bir beralkohol 0% ini.

Proses pembuatan bir 0% alkohol ini pada prinsipnya sama dengan bir biasa. Bedanya adalah setelah fermentasi alkoholnya dibuang, kemudian diuapkan dengan cara destilasi biasa, yaitu dipanaskan sampai titik didih alkohol, yakni 79 derajat Celcius. Tetapi, karena proses pemanasan ini menyebabkan rasa asli bir hilang, maka dilakukanlah proses destilasi vakum sehingga titik didih alkohol bisa diturunkan sampai 49 derajat Celcius, bahkan sampai 10 derajat Celcius dengan alat yang lebih canggih. Alhasil, rasa aslinya hampir tidak berkurang karena suhu pemanasan yang rendah.

Cara lain ialah dengan melalui proses reverse-osmosis. Setelah fermentasi, bir dialirkan melalui filter berpori-pori sangat kecil sehingga hanya air dan alkohol saja yang bisa lewat, sedangkan larutan lain yang mengandung rasa bir tidak bisa keluar. Kemudian, alkohol didestilasi dan airnya dituangkan kembali ke sisi filter tempat larutan bahan lain dan gula tertinggal.

Dengan cara ini, rasa bir tidak berubah karena larutan yang mengandung rasa asli bir tidak ikut dipanaskan. Sesudahnya ditambahkan CO2 pada proses pembotolan agar bir tersebut bisa memunculkan gelembung-gelembung seperti bir beralkohol. Namun, CO2 menimbulkan sedikit rasa metalik dan asam. Alhasil, rasa bir tanpa alkohol memang tidak bisa 100% persis dengan bir beralkohol.

Meski teknologi sudah berhasil memberikan solusi halal bagi para penggemar minuman haram, masih harus dikaji aspek batiniahnya. Apakah menikmati rasa khas minuman yang haram bisa dibolehkan? Wallahu a’lam.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment