Bolehkah Pendakwah Menentukan Tarif Ceramah?

ceramah

Dalam beberapa kurun waktu terakhir, kita pernah menemukan fenomena ‘tarif ustadz’ yang kelewat mahal. Dengan dalih berdakwah, ustadz itu berkilah bahwa pungutan itu wajar. Sebenarnya sejauh mana batasan seorang juru dakwah dalam menerima imbalan? Apakah boleh juru dakwah menentukan tarif dalam ceramahnya? Mohon penjelasannya.

 

 

Aktivitas berceramah (berdakwah) merupakan pekerjaan mulya dalam mengajak manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Berceramah pastinya menyampaikan ajaran Islam yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Karena menjadi bagian dari mengajarkan al-Quran, maka terkait mendapat upah (uang transport) dari ceramahnya, sejumlah hadits menyinggung masalah ini, diantaranya;

alquran muasir

Rasulullah saw memperingatkan seorang sahabat yang menerima hadiah atas pengajaran al-Quran yang dilakukannya. “Jika engkau ambil, maka sejatinya engkau telah mengambil satu kurung api neraka,” titah Rasul.

Merujuk pada hadits ini, sebagian kalangan secara mutlak melarang menerima upah apapun dari pengajaran al-Quran.

Sementara sebagian besar ulama terutama ulama khalaf (kontemporer) membolehkan menerima upah dari pengajaran agama merujuk pada Hadis yang menjelakan tentang izin Rasulullah atas upah seorang sahabat yang telah membacakan ruqyah untuk warga yang terkena sengatan ular. “Sesungguhnya, upah yang paling pantas bagimu ialah upah atas (pembacaan dan pengajaran) Alquran,”.

kalender

Bahkan tidak sedikit pula generasi salaf yang memberikan upah bagi para pengajar Al Quran, seperti Umar bin Khatab. Sosok berjuluk al-Faruq itu memberi upah dari kocek pribadinya kepada tiga pengajar Al Quran di Madinah. Sa’ad bin Abi Waqash dan Amar bin Yasar memiliki tradisi mengupah para pembaca Al Quran selama Ramadhan. Imam Malik pun pernah menegaskan, tak jadi soal menerima upah atas pengajaran ilmu agama, termasuk Al Quran.

Semua cerita di atas mengandung isyarat bahwa pihak pengajar/penceramah tidak mengeluarkan tarif berapapun apalagi sampai memberatkan para pihak sehingga mengesankan adanya komersialisasi dakwah.

Jika ada biaya tertentu seperti akomodasi dan lain sebagainya yang harus ditanggung, maka sampaikan secara transparan sampai kedua belah pihak dapat mengerti atas kebutuhan biaya yang harus ditanggung, misalnya dalam penyelenggaraan event atau aktivitas kelembagaan pendidikan seperti madrasah atau pesantren.

Sebagai sesama penceramah, tentunya diharapkan agar bisa menjaga otensitas dalam mengemban amanah da’wah yang ada pada diri masing-masing. Jangan sampai berdakwah menyampaikan kebaikan malah berujung pada kesan yang membawa keburukan, sehingga merugikan masa depan dakwah. Ummat Islam sekarang ini sudah cukup cerdas dan dewasa menyikapi masalah seperti ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

* Sampaikan pertanyaan Anda melalui alamat email aam@percikaniman.org atau melalui Fans Page Facebook Ustadz Aam Amiruddin di link berikut ini : https://www.facebook.com/UstadzAam/

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment