Hijab Antara Religiusitas dan Fashion

jilbab hijab

Oleh: Mayshiza Widya*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Dulu ketika mendengar kata “hijab”, tentunya yang terbayang dalam benak kita ialah seorang perempuan muslimah yang alim dan sederhana. Dan sebagaimana fungsinya sebagai penutup aurat wanita, hijab ditampilkan dengan gaya yang biasa dan menyerupai model atasan mukena. Namun seiring perjalanan waktu, hijab kini mengalami perubahan yang significan. Bahkan bukan hanya model hijab yang berubah dari tahun ke tahun, melainkan bahan, corak, warna, dan fungsi pun ikut melakukan transformasi. Ia pun menjadi trend mode yang paling digemari oleh wanita muslimah saat ini.

alquran muasir

Dan jika dahulu sebagian besar pemakai hijab adalah ibu-ibu rumah tangga, yang dianggap kehilangan gairah terhadap dunia fashion dan mulai kehilangan arah bagaimana menentukan gaya rambut. Sehingga wanita muslimah tidak mau berhijab lantaran takut dikatakan jelek, norak, dan tidak fashionable. Sedangkan kini seolah hijab menentukan dunianya sendiri. Ia bukan hanya menjadikan wanita tampil lebih anggun dan berkharisma, tapi hijab juga bisa menambah nilai plus bagi pemakainya, misalnya; berhijab karena dianggap penampilannya akan terlihat lebih fresh dan trendy, berhijab karena fashion hijab sedang banyak diminati, berhijab karena ia merupakan icon brand produk hijab, dan sebagainya.

Maka tak ayal banyak sekali artis yang kini tampil di berbagai program acara televisi dan menampilkan kecantikannya dalam mengenakan hijab. Dan jika dihitung, barangkali ada sederetan nama artis papan atas maupun pendatang baru yang selalu identik dengan penampilan muslimahnya. Tentunya hal itu membawa dampak positif bagi masyarakat kita yang notabene lebih menyukai pakaian-pakaian minimalis dan kerap mempertontonkan bagian-bagian tubuhnya yang sensitif agar muncul kesan seksi. Misalnya; hot pant, rok mini, dan tank top yang masih sangat diminati oleh pecinta pakaian seksi. Karena dengan mengikuti trnd berhijab, seolah kita dikembalikan pada nilai budaya bangsa yang ketimuran, berpakaian sopan, dan berbudaya.

Dampak positif lain yang juga ikut mewarnai dunia fashion hijab ialah, berhijab bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Karena siapapun kini bisa bebas mengeksplorasi diri dengan tetap menggunakan hijab. Sehingga anggapan bahwa fanatisme sempit akan lebih ditonjolkan oleh muslimah yang berhijab perlahan-lahan bisa dikikis seiring dengan waktu yang bergulir. Dan tentu saja hal itu menjadikan semakin banyak wanita muslimah yang memilih untuk berhijab sebagai bagian dari identitas dirinya.

kalender

Selain itu, kemunculan artis-artis yang berbusana muslimah dan memutuskan untuk berhijab membuat streotype negatif para artis yang hidup bebas menjadi sedikit tereliminir. Misalnya; penampilan zaskia adya mecca yang selalu muncul dalam film religy di sepanjang bulan ramadhan, penampilan ineke koesherawati yang terlihat anggun ketika menjadi salah satu host acara tafsir Al Qur’an dalam program acara di televisi, atau penampilan zaskia sungkar yang semakin segar dengan dandanan ala timur tengahnya. Sementara itu, nama-nama artis yang juga sering diundang di acara talk show dengan tema transformasi berhijab pun makin menunjukkan bahwa hijab bukan hanya sekedar persoalan ibadah, melainkan juga persoalan gaya hidup (baca: fashion). Hingga pada akhirnya di mall-mall atau pasar tradisional pun membawa dunia fashion baru para artis berhijab ke dunia masyarakat yang lebih luas. Tren hijab ala artis kemudian mulai banyak sekali peminatnya.

Seolah tidak ingin melewatkan sekempatan emas yang terlihat didepan mata, para selebritis ini pun memanfaatkan kepopulerannya untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai icon dalam berhijab dengan membangun usaha butik atau outlet. Gaya khas para artis berhijab kemudian dipamerkan dengan memberikan tutorial bagaimana cara menggunakan hijab ala artis yang diunggah melalui berbagai konten layanan internet. Sehingga masyarakat yang juga ngefans terhadap si artis pun ikut terpapar demam hijab. Mereka mengenakan hijab bukan karena itu merupakan kewajiban bagi muslimah untuk menutup aurat, melainkan karena artis idolanya mengenakan hijab.

Ironisnya, ada pula hijab hanya dipergunakan untuk event-event religy saja, misalnya; open house saat berlebaran, menjadi host acara ramadhan, pulang dari ibadah haji atau umroh, atau mengikuti tabliq akbar karena tuntutan pekerjaan. Sehingga identitas muslimah sebagai orang yang ta’at terhadap agama, dan menunjukkan bahwa ia seseorang yang mampu menjaga pandangan orang terhadapnya itu hanya merupakan kamuflase semata. Hijab kemudian tidak lagi memiliki ruh sebagai bagian dari ibadah wajib yang berkaitan erat dengan aturan dan norma agama. Menjadikan fungsinya sebagai penutup aurat mulai berubah menjadi gaya fashion yang terkadang hanya dianggap sebagai pemanis kepala dengan rambut yang masih terurai kemana-mana.

Dan sayangnya, hal semacam ini tidak menjadi perhatian khusus bagi Lembaga Agama. Padahal jika kesalahkaprahan tentang pemahaman masyarakat terhadap wanita berhijab ini terlanjur kapiran, maka tidak menutup kemungkinan penghinaan terhadap agama yang terselubung ini hanya akan menjadi bahan tertawaan publik dan olok-olok di warung kopi. Wallahu’alam.[ ]

 

*Penulis adalah ibu rumah tangga, pegiat dakwah dan penulis tinggal di Kudus Jawa Tengah.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment