Adakah Pemimpin Kita Saat Ini Sebersahaja H. Agus Salim?

h agus salim

PERCIKANIMAN.ID – Pertanyaan di atas perlu rasanya kita cermati melihat fenomena pemimpin Indonesia saat ini. Entah itu presiden, para menteri, gubernur, walikota atau pejabat lainnya.

Di tengah hiruk pikuk dan perjuangan rakyat membangun bangsa ini, kita tidak saja membutuhkan pemimpin yang cerdas, adil dan jujur. Namun yang tak kalah pentingnya adalah pemimpin yang bersahaja. Mengapa harus bersahaja?

alquran muasir

Pemimpin yang bersahaja adalah cerminan rasa adil bagi semua kalangan. Pemimpin adalah representasi semua kelas, termasuk kaum miskin papa.

Indonesia pernah memiliki pemimpin yang cerdas dan sangat bersahaja. Dia adalah pahlawan nasional H. Agus Salim. Siapakah sebenarnya H. Agus Salim? Berikut ini adalah biografi singkat dan cuplikaan kisah hidupnya seperti yang dituangkan dalam buku “Orang Juice, Belajar Integritas kepada Tokoh Bangsa” :

Lahir dengan nama asli Musyudul Haq di Koto Gadang, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884, Agus Salim menimba ilmu di sekolah khusus anak-anak Eropa, Europeesche Lagere School (ELS). Begitu lulus pada 1897, anak jaksa di Pengadilan Riau itu melanjutkan studinya ke Hoogere Burger School (HBS) di Batavia.

kalender

Lulus dari HBS dengan nilai tertinggi saat berumur 19 tahun, Agus Salim mengajukan beasiswa untuk belajar kedokteran di Belanda. Namun, permohonannya ditolak. Meski kemudian direkomendasikan oleh R.A. Kartini dan disetujui pemerintah, Agus Salim kadung tersinggung dan memutuskan tak melanjutkan studinya. Ia mulai bekerja.

Pada 1906, ia terbang ke Jeddah untuk menjadi penerjemah di Konsulat Belanda. Di sanalah ia memperdalam ilmu agama Islam, diplomatik, dan beberapa bahasa asing macam Belanda, Inggris,
Jerman, Prancis, Turki, Jepang, dan tentu saja Arab.

Kiprah Agus Salim dalam perjuangan kemerdekaan dimulai bersama Serikat Islam (SI) pada 1915. Saat menjadi anggota Volskraad periode 1921–1924, ia dikenal sebagai sosok yang bersuara keras. Kiprahnya lantas berlanjut di Jong Islamieten Bond (JIB). Selain bergerak di jalur politik, Agus Salim juga seorang jurnalis. Ia antara lain sempat berkiprah bersama Harian Neratja, Hindia Baroe, dan mendirikan surat kabar Fadjar Asia.

Setelah Indonesia merdeka, karena kompetensinya, Agus Salim sempat dipercaya menjabat menteri dalam beberapa kabinet. Di Kabinet Sjahrir I dan II, Agus Salim adalah menteri muda luar negeri. Sementara itu, di Kabinet Amir Sjarifuddin (1947) dan Kabinet Hatta (1948–1949), ia menjabat menteri luar negeri. Agus Salim meninggal di Jakarta pada 4 November 1954 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

“Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang genius. Ia mampu berbicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam sembilan bahasa. Kelemahannya hanya satu: ia hidup melarat.”

Itulah tulisan Willem Schermerhorn, seorang pejabat Belanda, dalam Het dagboek van Schermerhorn (Buku Harian Schermerhorn) saat mengomentari H. Agus Salim. Faktanya memang demikian. H. Agus Salim selalu bersahaja.

Suatu ketika, di sebuah tempat di dataran Eropa, berkumpullah para diplomat dari pelbagai negara. Di antara mereka terselip seorang pria berjanggut putih.

Keberadaannya sangat mudah dibedakan dari yang lain. Selain lebih pendek, dandanannya pun sungguh kontras. Bila para diplomat lain berpenampilan necis, ia justru mengenakan jas berhiaskan beberapa jahitan di sana-sini. Kesahajaan yang oleh Schermerhorn disebut sebagai kemelaratan itu oleh Mohammad Roem disebut sebagai manifestasi nyata dari prinsip Leiden is Lijden “memimpin adalah menderita” yang pertama kali dipopulerkan oleh Mr. Kasman Singodimejo.

“Saya teringat perkataan Kasman, Leiden is Lijden, memimpin adalah menderita. Penderitaan tidak hanya berupa penjara, tetapi juga kepahitan hidup. Penderitaannya ditunjukkan dalam hidup sederhana yang kadang-kadang mendekati serbakekurangan dan kemiskinan,” tutur Mohammad Roem dalam tulisannya, Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita, pada 1977.

Rumah mewah atau setidaknya salah satu yang terbagus di lingkungannya. Begitulah bayangan awam ketika memperkirakan kediaman seorang pesohor, apalagi pejabat negara yang berpengaruh. Tapi, membayangkan rumah H. Agus Salim seperti itu adalah kekeliruan besar.

Walaupun sempat menduduki jabatan menteri dalam beberapa kabinet pemerintahan di negeri ini, Agus Salim ternyata sempat tak memiliki rumah kediaman tetap. Semasa tinggal di Jakarta, ia berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Agus Salim sempat tinggal di Gang Tanah Tinggi, lalu ke Gang Taopekong, ke Jatinegara, dan beberapa tempat lain.

Kebanyakan rumah yang dikontrak oleh Agus Salim pun tidaklah luas dan nyaman. Tak jarang hanya memiliki satu kamar. Demi mengubah suasana, setiap enam bulan sekali, Agus Salim menyusun ulang tata letak meja-kursi, lemari, hingga tempat tidur. Dengan melakukan itu, ia merasa mengubah lingkungan tanpa perlu pindah ke tempat lain. Tak jarang pula, rumah yang ditempatinya itu bocor di mana-mana.

Meski demikian, keluarga H. Agus Salim tak mengeluh. Mereka selalu mengedepankan syukur. Bagi mereka, rumah yang bocor justru dirasakan sebagai suka cita yang dapat menciptakan keasyikan bersama. Bila hujan tiba dan atap bocor, Zainatun Nahar, istri Agus Salim, bergegas menaruh ember-ember di tempat-tempat yang bocor. Ia lalu mengajak anak-anak mereka yang masih kecil membuat perahu dari kertas, dan asyiklah mereka bermain perahu bersama. Pada akhirnya, Agus Salim memiliki rumah yang lantas bisa diwariskan kepada anakanaknya.

Rumah itu terletak di Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Namun, rumah tersebut juga bukanlah istana megah. “Rumahnya, seperti rumah perkampungan, sama sekali tidak mencerminkan seorang tokoh terkenal seperti kita bayangkan,” kisah Mohammad Roem.

Pertanyaan kita, adakah pemimpin kita saat ini yang memiliki prinsip seperti H. Agus Salim? Semoga pertanyaan ini menjadi renungan kita bersama untuk bersikap jujur dan bekerja lebih baik lagi.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment