Bela Al-Quran Agar Kini dan Kelak Al-Quran Membela Kita

penista agama

Oleh: Tate Qomaruddin*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Bagi sebagian orang mungkin ada yang terkejut atau setidaknya heran ketika ada seseorang yang mengaku muslim kemudian menulis ungkapan bahwa ‘Tuhan dan kitab suci tidak perlu di bela’. Jika ungkapan tersebut dimaksudkan keberadaan Tuhan tetap Maha Mulia meski ada yang orang yang menghinakan dan kitab suci tetap suci meski ada yang menistakan, bisa kita terima. Namun sesungguhnya apa yang kita lakukan tentang pembelaan Allah dan Al Quran atas perbuatan orang yang menistakannya pada hakikatnya juga atas perintah Allah yang tertuang dalam Al Quran. Hal ini kiranya dapat dikita pahami apa yang telah Rasulullah Saw sabdakan,
« إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ ».(مسلم)

alquran muasir

Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini (yakni Al-Qur’an) kaum-kaum dan merendahkan kaum-kaum yang lain.” (H.R. Muslim)

Kita sudah tahu dan pahami bagaimana sikap mental para sahabat saat berinterkasi dengan Al-Qur’an. Dan, buahnya adalah generasi perdana umat Rasulullah Saw. Yang tediri dari manusia yang berwibawa, disegani, dan menorehkan banyak prestasi yang disumbangkan untuk peradaban.

Tentu kita, kaum muslim yang hidup saat ini, pun sangat mendambakan kondisi seperti itu ketika umat Islam menjadi umat yang berdaya dan berjaya, berwibawa tapi tidak jumawa, dan memiliki kekuatan untuk menaungi orang-orang yang lemah.

kalender

Begitulah hubungan para sahabat Nabi dengan Al-Qur’an dan begitulah buahnya. Lalu, bagaimana hubungan umat Islam saat ini dan bagaimana pula buahnya?

Dr. Umar Ubaid Hasanah, saat memberikan kata pengantar untuk buku Kaifa Nata’amalu Ma’al Qur’an karya Syaikh Muhammad Al-Ghazali menyampaikan keprihatinannya tentang hubungan umat Islam dengan kitab suci mereka. “Kita khawatir penyakit-penyakit umat-umat terdahulu menjangkiti akal umat Islam dewasa ini. Allah Swt. menerangkan tentang orang-orang Ahlul-Kitab. ‘Di antara mereka ada yang buta huruf (ummy), tidak memahami Kitab (Taurat). Mereka hanya berangan-angan dan menduga-duga.’” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 78)
Arti asal kata ummy adalah butu huruf alias tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi, dalam ayat tersebut dimaksudkan pada manusia yang tidak mengenal kitab selain bacaannya belaka. Bukan tanpa dalil pernyataan Dr. Umar tersebut. Imam Ibnu Taimiyyah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Qatadah –semoga Allah meridoi keduanya- tentang tafsiran ayat tersebut. Katanya, “waminhum ummiyyuna” artinya tidak memahami kitab. Mereka hanya mengenal bacaan dan hafalannya saja tanpa pemahaman. “Illa amaniyya” (hanya berangan-angan) maksudnya hanya bacaan saja.
Kondisi inilah yang kemudian oleh Ustad Umar Ubaid disebut sebagai ummiyyah ‘aqliyyah (kebutaan akal), bukan buta huruf dalam arti tidak dapat baca tulis Al-Qur’an. Tentang bencana itu, Rasulullah Saw. pernah mensinyalirnya saat menyebutkan satu kejadian yang sangat menyedihkan dan beliau mengakhiri penjelasannya dengan kalimat,
« وَذَاكَ عِنْدَ أَوَانِ ذَهَابِ الْعِلْمِ ».
“Dan itu terjadi manakala ilmu itu hilang.”

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِى الْجَعْدِ عَنْ زِيَادِ بْنِ لَبِيدٍ قَالَ ذَكَرَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- شَيْئاً فَقَالَ « وَذَاكَ عِنْدَ أَوَانِ ذَهَابِ الْعِلْمِ ». قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ وَنَحْنُ نَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَنُقْرِئُهُ أَبْنَاءَنَا وَيُقْرِئُهُ أَبْنَاؤُنَا أَبْنَاءَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ « ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا ابْنَ أُمِّ لَبِيدٍ إِنْ كُنْتُ لأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ أَوَلَيْسَ هَذَهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيلَ لاَ يَنْتَفِعُونَ مِمَّا فِيهَا بِشَىْءٍ »(أحمد). تحفة 3655 معتلى 2397

 

Seorang sahabat Nabi Saw. yang bernama Ibnu Lubaid bertanya,
يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ وَنَحْنُ نَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَنُقْرِئُهُ أَبْنَاءَنَا وَيُقْرِئُهُ أَبْنَاؤُنَا أَبْنَاءَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Wahai Rasulullah, Bagaimana ilmu bisa hilang padahal kami membaca Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada anak kami, lalu anak kami mengajarkannya pula kepada anak-anak mereka?”
Rasulullah Saw. menjawab,
ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا ابْنَ أُمِّ لَبِيدٍ إِنْ كُنْتُ لأَرَاكَ مِنْ أَفْقَهِ رَجُلٍ بِالْمَدِينَةِ أَوَلَيْسَ هَذَهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيلَ لاَ يَنْتَفِعُونَ مِمَّا فِيهَا بِشَىْءٍ »(أحمد)
Wahai Ibnu Lubaid, saya semula menduga kamu adalah orang yang paling faqih (mengerti) di Madinah. Bukankah Yahudi dan Nasrani pun memegang kitab Taurat dan Injil? Akan tetapi mereka tidak mengambil manfaat sedikitpun dari kitab itu?” (H.R. Ahmad)
Penjelasan Rasulullah Saw. itu menegaskan tentang kemungkinan munculnya sikap umat Islam yang akan merasa cukup hanya dengan membaca Al-Qur’an, tidak lebih. Boleh jadi, sikap itu merupakan buah penerapan yang amat kaku dari definisi Al-Qur’an itu sendiri, yakni, “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berangsur-angsur melalui malaikat Jibril dan membacanya adalah bernilai pahala” seperti yang di ajarkan di sekolah-sekolah kita.
Memang kalimat terakhir dari definisi tersebut berpotensi menjebak orang yang memiliki “semangat ibadah” tinggi untuk merasa cukup dengan hanya membaca. “Karena mengejar pahala, maka tidak ada yang menjadi perhatiannya selain membaca dan membaguskan bacaannya,” kata Yusuf Qardhawi dalam bukunya yang berjudul Kaifa Nata’alamul Ma’al Quran.
Benar bahwa setiap huruf Al-Qur’an mendatangkan pahala bagi pembacanya. Bahkan, pembaca Al-Qur’an yang masih terbata-bata, kata Rasulullah Saw. mendapatkan dua pahala. Pertama adalah pahala dari membacanya dan kedua adalah pahala dari semangat perjuangannya untuk membaca meskipun dalam keadaan terbata-bata. Yang bacaanya lancar tentunya lebih baik lagi nilainya di sisi Allah, yaitu mendapatkan tempat yang sejajar dengan kiramin bararah (para malaikat yang senantiasa benar). Akan tetapi, yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa fungsi Al-Qur’an bukanlah semata-mata sebagai kran pahala bagi pembaca dengan bacaannya. Dan, fungsi-fungsi Al-Qur’an sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayatnya, menuntut interaksi dalam bentuk lain yang lebih dari sekadar membaca, yakni memahami dan mengamalkannya.
Fungsi-fungsi Al-Qur’an dan sekaligus menunjukkan nama-namanya itu antara lain dzikr (peringatan), nuur (cahaya), furqan (pemisah), burhan (bukti nyata), mau’izhah (nasihat), syifaa (obat), hudaa (petunjuk), rahmah (kasih sayang), dan bashair (pandangan mata hati). Nah, akankah seluruh fungsi Al-Qur’an itu efektif dan memiliki pengaruh dalam kehidupan jika hanya sebatas dibaca?
Jika ummiyyah ‘aqliyyah itu terjadi, maka boleh jadi keberadaan Al-Quran sama dengan ketiadaannya (wujuduhu ka’adamihi). Bukan berarti lembaran-lembaran mushaf tidak lagi dapat ditemukan dan bukan pula tidak ada orang yang membaca Al-Qur’an. Tetapi yang terjadi ialah ajaran Allah, Tuhan pencipta alam semesta, yang termaktub dalam Al-Qur’an itu disingkirkan dan sebagai penggantinya adalah aturan-aturan yang merupakan produk hawa nafsu manusia.
Jika dulu Rasulullah Saw. pernah mengadu tentang kaumnya yang kafir dalam mensikapi Al-Quran, kemudian mengadu kepada Allah, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mengabaikan Al-Qur’an ini.” (Q.S. Al-Furqān [25]: 30). Rasanya, pengaduan itu masih harus kita dilantunkan kepada Allah Swt. Hanya saja, yang diadukan saat ini adalah tentang perilaku sebagaian umat Al-Quran itu sendiri, yaitu kita! Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Meninggalkan Al-Qur`an itu ada beberapa macam:
1. Meninggalkan mendengar dan beriman dengannya.
2. Meninggalkan beramal dengannya, meskipun dia membaca dan mengimaninya.
3. Meninggalkan berhukum dengannya dan mencari keputusan hukum darinya.
4. Meninggalkan mentadabburi dan memahami makna-maknanya.
5. Meninggalkan berobat dengannya dari segala penyakit hati.

Oleh karena itu apabila ada gerakan yang dianggap paling terkait dengan membumikan Al-Quran, maka gerakan itu adalah gerakan pengkajian Al-Qur’an secara intensif, kontinyu, dan integral sehingga mampu mengusir ummiyyah ‘aqliyyah (kebutaan akal) umat terhadap Al-Qur’an.
Ketika tuntunan Al-Qur’an tersingkirkan dari pentas kehidupan, akankah janji segala kehebatan Al-Qur’an dirasakan oleh umat manusia? Dan, dalam keadaan umat Islam tidak mengenal Al-Quran secara memadai, apalah makna segala pujian dan sanjungan terhadap kehebatan Al-Quran? Sungguh ironis, bila umat lain memuji kehebatan Al-Quran, sementara umat Islam sendiri menjauh. Wallahu’alam. [ ]

 

*Penulis adalah pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: muslik

Ilustrasi foto: iman

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment