Merawat Ukhuwah

miftah faridl

Oleh : KH Miftah Faridl *

BAGI umat Islam, sesuai ajaran yang diyakininya, ukhuwah atau persaudaraan bukan saja mencirikan kualitas ketaatan seseorang terhadap ajaran Allah dan rasul-Nya, tetapi juga sekaligus merupakan salah satu kekuatan perekat sosial untuk memperkokoh kebersamaan. Fenomena kebersamaan ini dalam banyak hal dapat memberikan inspirasi solidaritas sehingga tidak ada lagi jurang yang dapat memisahkan silaturahmi di antara sesamanya. Meskipun demikian, dalam perjalanan sejarahnya, bangunan kebersamaan ini seringkali terganggu oleh godaan-godaan kepentingan yang dapat merusak keutuhan komunikasi dan bahkan mengundang sikap dan perilaku yang saling berseberangan.

alquran muasir

Karena itu, semangat ukhuwah ini secara sederhana dapat terlihat dari ada atau tidak adanya sikap saling memahami untuk menumbuhkan interaksi dan komunikasi. Ukhuwah Islamiyah sendiri menunjukkan jalan yang dapat ditempuh untuk membangun komunikasi di satu sisi, dan di sisi lain, ia juga memberikan semangat baru untuk sekaligus melaksanakan ajaran sesuai dengan petunjuk Alquran serta teladan dari para nabi dan rasul-Nya.

Sekurang-kurangnya ada dua pernyataan Nabi SAW. yang menggambarkan persaudaraan yang Islami. Pertama, persaudaraan Islam itu mengisyaratkan wujud tertentu yang dipersonifikasikan ke dalam sosok jasad yang utuh, yang apabila salah satu dari anggota badan itu sakit, maka anggota lainnya pun turut merasakan sakit. Kedua, persaudaraan Islam itu juga mengilustrasikan wujud bangunan yang kuat, yang antara masing-masing unsur dalam bangunan tersebut saling memberikan fungsi untuk memperkuat dan memperkokoh.

Ilustrasi pertama menunjukkan pentingnya unsur solidaritas dan kepedulian dalam upaya merakit bangunan ukhuwah menurut pandangan Islam. Sebab Islam menempatkan setiap individu dalam posisi yang sama. Masing-masing memiliki kelebihan, lengkap dengan segala kekurangannya. Sehingga untuk menciptakan wujud yang utuh, diperlukan kebersamaan untuk dapat saling melengkapi. Sedangkan ilustrasi berikutnya menunjukkan adanya faktor usaha saling tolong menolong, saling menjaga, saling membela, dan saling melindungi.

kalender

Pernyataan Alquran: Innama al-mu’minuuna ikhwatun (sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara) memberikan kesan bahwa orang Mukmin itu memang mestinya bersaudara. Sehingga jika sewaktu-waktu ditemukan kenyataan yang tidak bersaudara, atau adanya usaha-usaha untuk merusak persaudaraan, atau bahkan mungkin adanya suasana yang membuat orang enggan bersaudara, maka ia berarti bukan lagi seorang Mukmin. Sebab penggunaan kata “innama” dalam bahasa Arab menunjukkan pada pengertian “hanya saja”.

Tuntutan normatif seperti tertuang dalam Alquran di atas memang seringkali tidak menunjukkan kenyataan yang diinginkan. Kesenjangan ini terjadi, antara lain, sebagai akibat dari semakin memudarnya penghayatan terhadap pesan-pesan Tuhan khususnya berkaitan dengan tuntutan membina persaudaraan. Bahkan, lebih celaka lagi apabila umat mulai berani memelihara penyakit ambivalensi sikap: antara pengetahuan yang memadai tentang Alquran di satu sisi, dengan kecenderungan menolak pesan-pesan yang terkandung di dalamnya di sisi lain, hanya karena terdesak tuntutan pragmatis, khususnya menyangkut kepentingan sosial, politik, ataupun ekonomi. Karena itu, bukan hal yang mustahil, jika seorang pemuka agama sekalipun, rela meruntuhkan tatanan ukhuwah hanya karena pertimbangan kepentingan-kepentingan primordial.

Karena tarik menarik antara berbagai kepentingan itulah, sejarah umat Islam selain diwarnai oleh sejumlah prestasi yang cukup membanggakan, juga diwarnai oleh sejumlah konflik yang tidak kurang memprihatinkan. Nilai-nilai ukhuwah tidak lagi menjadi dasar dalam melakukan interaksi sosial dalam bangunan masyarakat tempat hidupnya sehari-hari. Konflik yang bersumber pada masalah-masalah yang tidak prinsip menurut ajaran, dapat membongkar bangunan kebersamaan dalam seluruh tatanan kehidupannya.

Potret suram ukhuwah ini tentu tidak diharapkan masih akan menjadi pemandangan pada tahun mendatang. Nilai-nilai persahabatan yang telah menjadi identitas masyarakat kita seharusnya dihidupkan kembali sesuai jati dirinya. Lebih dari itu, nilai-nilai ukhuwah yang menjadi muatan utama Alquran ini pada dasarnya juga merupakan pesan-pesan kultural yang melekat pada kehidupan masyarakat kita. Dalam konteks pembinaan kebersamaan, tidak ada jarak antara ajaran agama di satu sisi dengan kekuatan kebudayaan lokal di sisi lain.

Inilah di antara perwujudan kearifan lokal dalam membangun tatanan ukhuwah. Potensi kearifan ini esungguhnya dapat menjadi kekuatan penting proses dakwah untuk menghidupkan jati diri kebersamaan di antara sesama manusia. Dan, dengan menghidupkan potensi kearifan lokal ini pula perjalanan bangsa ke depan akan sanggup melakukan “rujuk” dan “ishlah” kolektif secara lebih produktif.

Dari waktu ke waktu tantangan tentu ada, khususnya dalam konteks membangun kebersamaan. Berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi ikut memicu ketegangan. Banyak masalah sepele berujung pada kekerasan yang sering sulit diselesaikan. Terlebih dalam masalah besar menyangkut hajat manusia banyak, ketegangan seolah menjadi teman akrab yang selalu ada membumbui perjalanannya.

Yang menarik lagi, agama hampir selalu menjadi isu sentral yang paling mudah bersentuhan dengan isu apapun. Mungkin karena agama merupakan tata nilai yang berada pada seluruh persoalan kemanusiaan. Mulai dari persoalan kepemimpinan, keumatan, dan hubungan di antara keduanya, hingga persoalan siyasah dan muamalah lainnya, agama senantiasa relevan untuk membicarakannya. Tidak mengherankan jika politik pun akan semakin menarik perhatian massa ketika mulai dikaitkan dengan tema agama.

Sebagai salah satu upaya meminimalisasi persoalan dimakud, spirit ukhuwah diharapkan dapat menjadi kekuatan perekat kebersamaan, sehingga ketegangan, konflik ataupun kekerasan dapat dicairkan. Alih-alih berusaha menyelesaikan masalah lewat pendekatan politik ataupun kekuasaan, melalui semangat kebersamaan ini pula kita akan berusaha menyelesaikan masalah-masalah keumatan yang tampaknya masih akan menjadi ancaman serius kehidupan. Wallahu a’lam.***

 

* Ketua Umum MUI Kota Bandung, Ketua Dewan Pembina Sinergi Foundation.

Sumber : Pikiran Rakyat

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment