Buruh Dalam Ajaran Islam (Tafsir Q.S. Al-Qaśaś [28]: 26-27)

mudik motor

Oleh : Dr. Aam Amiruddin

“Kemudian, salah seorang dari kedua perempuan itu datang kepada Musa dengan berjalan malu-malu. Ia berkata, ‘Sesungguhnya, ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas kebaikanmu memberi minum ternak kami.’ Ketika Musa mendatangi ayahnya (Syaikh Madyan) dan menceritakan kisah dirinya, Syaikh Madyan berkata, ‘Jangan kamu takut! Sungguh, kamu telah selamat dari orang-orang zalim itu.’ Salah seorang dari kedua perempuan itu berkata, ‘Hai, Ayahku! Jadikan ia pekerja kita. Sesungguhnya, orang yang paling baik untuk dijadikan pekerja adalah orang yang kuat dan dapat dipercaya.’ Syaikh Madyan pun berkata, ‘Sesungguhnya, aku ingin menikahkanmu dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan kamu bekerja kepadaku selama delapan tahun. Jika kamu sempurnakan menjadi sepuluh tahun, itu adalah kebaikanmu dan aku tidak bermaksud memberatkanmu. Insya Allah, kamu akan tahu bahwa aku adalah orang baik.’” (Q.S. Al-Qaśaś [28]: 25-27)

alquran muasir

Kita beberapa kali pernah dikejutkan dengan kasus perbudakan di tanah air . Ironisnya, kasus perbudakan ini selalu muncul dan menjadi gambaran bagimana kaum pekerja (buruh) di tanah air  selalu dalam posisi sulit dan tertindas.  Padahal, mereka selalu memperjuangkan cita-cita utama mereka, yaitu meningkatkan kesejahteraan. Berangkat dari kasus perbudakan dan nasib kaum buruh di Indonesia yang selalu tertindas, kali ini akan diulas bagaimana Islam memberikan tuntunannya dalam memperlakukan pekerja.

Ayat yang saya kutip tersebut menjadi salah satu acuan bagaimana Al-Qur’an memberi gambaran secara global mengenai hubungan antara pemilik atau pelaku usaha dengan para karyawannya, kesepakatan kerja, etika, dan lain sebagainya.

Dalam beberapa ayat sebelumnya, dijelaskan mengenai kisah pelarian Nabi Musa a.s. ke negeri Madyan untuk menghindari ancaman pembunuhan dari Fir’aun. Kala itu, Nabi Musa a.s. berusaha melerai dua pemuda yang berkelahi. Salah satu pemuda berasal dari golongan Bani Israil, sedangkan yang satu lagi dari golongan Fir’aun. Melihat pemuda dari Bani Israil terdesak dan meminta pertolongan, Nabi Musa a.s. yang saat itu masih muda spontan menolong dengan memukul pemuda dari kalangan Fir’aun agar perkelahian tersebut berhenti. Tanpa disangka, pukulan Nabi Musa a.s. rupanya begitu telak dan menyebabkan kematian pemuda dari kalangan Fir’aun tersebut. Nabi Musa a.s. menyesal dan memohon ampun kepada Allah karena semua itu terjadi begitu cepat dan tanpa ada maksud membunuh. Allah mengampuninya, namun orang-orang dari kalangan Fir’aun sangat berang dan hendak membunuh Nabi Musa a.s.

kalender

Kemudian, Nabi Musa a.s. mendapat perintah dari Allah untuk meninggalkan Mesir yang notabene wilayah kekuasaan Fir’aun menuju sebuah tempat bernama Madyan. Saat berada di wilayah di Madyan, Nabi Musa a.s. mendapati dua gadis yang sedang kesulitan mendapatkan air dari sebuah telaga untuk memberi minum ternaknya karena saat itu banyak pria di telaga tersebut yang sedang memberi minum ternaknya. Merasa kasihan, Nabi Musa a.s. kemudian menolong kedua gadis tersebut. Selesai ternaknya diberi minum, kedua gadis itu pun pulang dan menceritakan yang terjadi kepada ayahnya. Berikutnya, …….

 

HALAMAN SELANJUTNYA…>>

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment