Bisa Jadi Pemimpin Itu Gambaran Kondisi Masyarakatnya

pemimpin leader

Oleh: Ridwan M*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Dengan sangat yakin dan tanpa ragu sedikitpun Sayidina Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin menyatakan bahwa baju besi yang berada di tangan orang Yahudi itu adalah miliknya yang hilang ketika hendak berangkat ke sebuah peperangan di Shiffin.

alquran muasir

Beliau tidak ragu lagi sekalipun baju besi seperti itu banyak yang serupa, tetapi sebagaimana lazimnya milik sendiri dan sudah lama dimilikinya, tentu tidak akan keliru lagi, meskipun terasa sulit juga untuk menunjukkan tanda-tanda pengenalnya secara pasti. Beliau mengatakan : Wahai Yahudi ! baju besi ini milikku, aku tidak pernah menjual dan tidak pernah memberikannya !

Orang Yahudi pun tetap dengan pengakuannya bahwa baju besi itu miliknya dan terbukti berada di tangannya, iapun mengatakan dengan yakin : Baju besiku dan berada pada tanganku ! Tidak sampai disitu, bahkan ia mengajak sang Amirul Mukminin untuk menempuh jalur hukum agar jelas siapa pemilik yang sebenarnya. Dengan sebuah keyakinan bahwa Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak ada bedanya dengan rakyat biasa yang awam dihadapan hukum. Yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar sesuai dengan pesan dalam penegakkan keadilan hukum.

Keduanyapun menempuh jalur hukum dan keduanya duduk di depan pengadilan. Hakimpun bertanya kepada Sayyidina Ali yang saat itu jabatan hakim (qadhi) di pegang oleh Syuraih : Apa yang tuan kehendaki ya Amirul Mukminin ? Sayyidina Ali menjawab : Baju besiku jatuh dari untaku, kemudian diambil oleh orang Yahudi ini ! Giliran Hakim Syuraih bertanya kepada orang Yahudi itu : Apa yang hendak engkau katakan ? orang Yahudi itu menjawab : Baju besiku dan dalam tanganku ! Kemudian Hakim Syiraih berkata : Amirul Mukminin benar, bahwa itu baju besi tuan. Tapi untuk itu harus ada dua orang saksi yang menyaksikan bahwa itu benar-benar baju besi kepunyaan tuan ! Amirul Mukminin-pun mengajukan dua orang saksi, yaitu Qanbar pembantunya dan Hasan putranya.

kalender

Hakim Syuraih menerima kesaksian Qanbar, tapi ia tidak mau menerima kesaksian Hasan. “Kesaksian Qanbar kami terima, tapi kesaksian Hasan tidak dapat kami terima, karena ia adalah putra tuan !” kata Hakim Syuraih.

Amirul Mukminin pun berkata : Tidakkah tuan dengar, bahwa Umar bin Khattab berkata bahwa Rasulullah saw  telah bersabda : Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda di surge.

Hakim Syuraih menjawab : Allahumma na’am. Ya Allah, memang benar. Dan Amirul Mukminin berkata : Tidakkah dapat diterima kesaksian pemuda di surga ? Namun Hakim tetap tidak menerimanya dan akhirnya Hakim Syuraih-pun memutuskan bahwa baju besi itu milik orang Yahudi.

Amirul Mukminin tidak lagi angkat bicara. Beliau tidak berdaya melawan undang-undang. Beliau terima keputusan Hakim dengan senang hati. Sambil tersenyum beliau berkata : Ashaba Syuraihun Ma-li Bayyinatun ! Sungguh benar Syuraih, saya tidak punya bayyinah (keterangan, bukti).

Demi orang Yahudi melihat dengan mata kepala sendiri, betapa puasnya Amirul Mukminin atas keputusan hakim, serta tunduk terhadap undang-undang, ia-pun berkata : “Sebenarnya baju besi ini benar-benar milik Amirul Mukminin. Aku telah mengambilnya waktu terjatuh dari unta ketika Amirul Mukminin hendak pergi ke Shiffin”…… kemudian penjelasannya diteruskan dengan mengucapkan Asyhadu alla Ilaha Illallah, wa Asyhadu anna Muhammadarrasulullah tanpa ragu orang Yahudi itu langsung menyatakan masuk Islam.

Tatkala Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mendengar ucapan itu, beliaupun menimpalinya : “Kalau begitu, baju besi itu ku hadiahkan kepadamu !”  Kemudian orang Yahudi itupun dihadiahi pula sembilan ratus dirham.

Allahu Akbar ! Betapa menakjubkannya peristiwa ini. Inilah peristiwa yang luar biasa. Dari peristiwa spektakuler ini kita dapat mengambil banyak ibrah (pelajaran), diantaranya :

Pertama, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib meyakini bahwa kekayaan, jabatan, kekeluargaan, kedekatan tidak dapat dijadikan untuk tempat bersembunyi atau tempat menyembunyikan kebenaran (al-haq). Bahkan Rasulullah Saw sendiri pun telah menegaskan dengan sabdanya : “Jika Fatimah mencuri, pasti aku akan memotong tangannya”.

Kedua, jabatan itu merupakan titipan, amanah yang harus ditunaikan sebagaimana mestinya. Jangan mentang-mentang berkuasa dan berwenang lalu  berbuat sewenang-wenang. Ingat ! Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya jabatan itu amanah dan pada hari kiamah akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali mereka yang mendapatkan jabatan itu dengan cara yang haq dan ia menunaikan tugas dan kewajiban yang ada pada jabatan itu.” (HR Muslim)

Ketiga, pemimpin dalam term Islam itu disebut dengan beberapa istilah seperti Imam, Amir, Rais, Ra’in. tentu bukan sekadar istilah hampa makna. Imam itu posisi berdirinya di depan. Coba perhatikan imam dalam shalat. Maka imam dalam arti pemimpin artinya sebagai pigur yang harus menjadi teladan dan memberi contoh kepada yang dipimpinnya termasuk dalam penegakkan hukum. Pemimpin pun disebut Amir, secara bahasa artinya perintah. Berarti pemimpin itu harus berwibawa agar segala perintah, intruksi atau kebijakkannya dapat melahirkan kebajikan bagi yang dierintah atau dipimpinnya.

Pemimpin pun disebut rais yang secara bahasa bisa dari ra’sun artinya kepala karena faktanya dia menempati posisi tertinggi layaknya kepala dalam struktur tubuh manusia. Tanpa kepala habislah riwayatnya. Pemimpin pun disebut ro’in yang artinya menjaga, memelihara dan mengayomi. Begitulah seharusnya pemimpin itu melayani bukan harus dilayani. Setidaknya inilah yang kita temukan dalam pribadi Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Suatu pribadi yang telah memikat hati seorang yahudi dan,

Keempat, pemimpin itu menggambarkan kondisi masyarakat yang dipimpinnya. Dalam an-Nihayah dijelaskan bahwa jika rakyat beriman, beramal saleh, jujur, dan cerdas, maka pemimpin yang akan tampil sebagai pemimpin mereka adalah orang yang punya karakteristik seperti itu. Bagaimanakah para pemimpin kita hari ini ?. Mari berintrospesi dan jujur mengakui. Wallahu’alam.[ ]

 

*Penulis adalah pendidik dan pegiat dakwah.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment