Bijak Memberi ASI dan Susu Formula Bagi Buah Hati

asi

PERCIKANIMAN.ID – – Suatu ketika di Rumah Sakit. Terlahir bayi kuning. Tiba-tiba seseorang menghampiri Ayah-Bunda bersangkutan.

“Wah, bayinya kuning ya Bu? Harus dikasih ‘nutrisi pelengkap’. Biar lekas sehat,” belum juga ditanggapi, dia sudah ngomong lagi. “Sinarnya panas banget, Bu.. biar gak kehausan dede-nya dikasih susu formula. Soalnya ASI ibu yang keluar cuma sedikit, takutnya gak cukup.”

alquran muasir

Beberapa mungkin pernah mengalami kejadian diatas. Saat kita selaku orang tua ‘didesak’ untuk menggunakan susu formula (sufor), alih-alih Air Susu Ibu (ASI). Atau ketika kita ‘ditakut-takuti’ bayi akan mengalami ‘ini dan itu’ bila tidak ditunjang ‘nutrisi pelengkap’. Tentu selaku orang tua, kebanyakan kita akan panik dan langsung ikut saja saran dari perawat. Apalagi bila bayi kita lahir dalam kondisi tidak biasa. Tak ayal, memberi susu formula dan ‘nutrisi pelengkap’ pun kita lakukan.

Tapi tunggu dulu! Susu formula untuk bayi, apa betul-betul perlu? dr. Wiyarni Pambudi, Sp.A, IBCLC lewat twitter-nya (@drOei) menjelaskan tentang bayi kuning dan susu formula (sufor) dengan apik. Kata Wiyarni, persoalan bayi kuning kudu hati-hati menjawabnya, beberapa malah harus dilihat per kasus. Tapi, kuning fisiologis yang terjadi pada 60% bayi sehat adalah wajar.

“Ini merupakan peristiwa alamiah karena tubuh bayi harus beradaptasi setelah lahir,” paparnya dalam ‘kuliah’ twitter (kultwit).

kalender

Kadar hemoglobin (Hb) janin yang tinggi (17-24 g/dL) harus menyesuaikan dengan kebutuhan bayi yang hanya 14-17 g/dL. Hal ini memicu penghancuran sebagian (kira-kira ¼) Hb yang menyebabkan terbentuknya zat sisa bilirubin. Nah, bilirubin inilah yang ‘mewarnai’ selaput mata dan kulit bayi menjadi kuning. Makin cepat bilirubin disingkirkan dari tubuh melalui urin, makin cepat kuning teratasi. “Cara paling efektif dan efisien adalah dengan menyusi lebih intensif agar bayi lancar berkemih,” tutur Wiyarni.

Pemberian sufor, lanjut Wiyarni, justru mengganggu proses produksi ASI. Padahal ASI sangat penting bagi bayi yang baru lahir. Meski begitu, Wiyarni tak menampik beberapa kasus bayi kuning mengalami hiperbilirubinemia. Kondisi ini membuat bilirubin naik terlalu cepat, sehingga beresiko menimbulkan gangguan fungsi otak. Bila sudah begitu, opsi suplemen pendukung ASI mulai dipertimbangkan, tentu saja dengan saran dokter dan tidak menyampingkan penggunaan ASI sebagai asupan utama.

Jangan khawatir bila ternyata ASI yang dihasilkan ibu sedikit. Ternyata memang setelah melahirkan, ASI yang diproduksi tak terlalu banyak. Lagi pula, bayi kecil belum mampu konsumsi ASI banyak-banyak. Ini sekaligus menepis anggapan bahwa ASI saja tak akan cukup. Dalam salah satu kelasnya, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menjelaskan bahwa ASI punya hukum ‘ekonomi’ sendiri. Ketika tak ada permintaan maka ‘stok’ sedikit, tapi bila permintaan banyak maka jumlahnya akan cukup. Sehingga tak perlu khawatir, karena memang sudah dirancang oleh Allah seperti itu. Subhanallah.

Laporkan Oknum Penjual Sufor

Maraknya oknum penjual sufor yang kerap membuat kita ‘ketakutan’ memang sangat mengganggu. Selain tidak etis, menawarkan produk dalam kondisi ‘emosional’ sangat tidak diharapkan. World Health Organization (WHO) bahkan membuat kode etik untuk produsen sufor yang isinya melarang penawaran langsung kepada ibu menyusui. Melalui International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes WHO melarang keras praktek perdagangan sufor terselubung. Idealnya, kode etik jadi acuan baku di lapangan. Tapi pelaksanaannya ternyata masih longgar.

Hal ini sempat terjadi pada Aditia Sudarto dan Yulia Indriati, saat anak pertama mereka harus dirawat inap untuk menghindari ‘kuning’. Aditia (2012) bercerita lewat Catatan Ayah ASI bagaimana oknum suster secara halus menawarkan sufor. Awalnya menjelaskan tentang pentingnya asupan cairan selama proses penyinaran.

“Tapi akhirnya suster malah menyuguhkan kaleng susu formula dari merek terkenal,” tutur Aditia.

Tentu saja hal tiu mereka tolak. ‘Promosi’ seperti ini marak terjadi. Dengan dalih ‘kebutuhan gizi’ buah hati, oknum sufor sengaja menanam ‘nutrisi’ yang tidak semestinya pada anak-anak kita.

Melihat kasus yang makin akut, AIMI siap pasang badan. Salah satu program kerja mereka adalah ‘memerangi’ pemasaran sufor yang tidak etis. Jika kebetulan Ayah dan Bunda pernah mengalami kejadian serupa diatas. Tak usah ragu untuk melapor. Sertakan saja detail pelanggaran, lokasi Rumah Sakit, nama produk susu, alamat, serta umur bayi. Lalu kirim ke : lapor@aimi-asi.org. Jangan takut, mereka sudah pnya tim advokasi hukum bila ternyata diperlukan. Belum lagi Peranturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif juga bisa kita jadikan sebagai kekuatan hukum.

Jangan salah, menawarkan produk sembarangan bisa fatal akibatnya. Apalagi, bila oknum itu langsung memberi sufor tanpa seizin orang tua. Oknum tersebut bisa dipidanakan. [ Diolah dari berbagai sumber]

 

Red: iqbal

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment