Pentingnya Kepemimpinan dalam Islam

pemimpin

Oleh: Yudha SW*

 

PERCIKANIMAN.ID – – Kepemimpinan merupakan salah satu hal yang utama dalam Islam. Memiliki pemimpin adalah suatu hal yang wajib. Tidak ada suatu kaum yang tidak memiliki pemimpin di dalamnya. Bahkan dalam sebuah keluarga pasti dipimpin oleh seorang anggotanya. Apalagi umat Islam yang berada dalam suatu wilayah atau negara. Mereka wajib memiliki pemimpin dalam kehidupan sosialnya.

alquran muasir

Pentingnya kepemimpinan dalam Islam bisa dilihat pada peristiwa setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Umat Islam saat itu baru saja disatukan setelah sekian lama terpecah-pecah. Boleh dibilang mereka adalah kaum terbaik karena telah mengalami berbagai macam cobaan ketika bersama Rasulullah. Namun ketika Beliau meninggal, umat sudah dilanda perpecahan.

Perpecahan ini dimulai ketika ada perbedaan pendapat mengenai siapa pemimpin pengganti Nabi Muhammad saw. Awalnya Kaum Anshor ingin pemimpin berasal dari kaumnya. Dasarnya karena Nabi Muhammad sering diserang kaumnya sendiri dan mendapat perlindungan dari Kaum Anshor. Sedangkan Kaum Muhajirin juga menginginkan pemimpin Islam berasal dari kaumnya. Perselisihan meruncing dan hampir saja memecah umat Islam, karena semuanya ngotot dengan pendiriannya. Untungnya setelah didinginkan oleh tetua masing-masing suku, maka mereka sepakat membaiat Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah pengganti Rasulullah.

Melihat sejarah itu, maka kepemimpinan dalam Islam menjadi penting. Jangan sampai ada kekosongan kepemimpinan dalam umat Islam. Kepemimpinan menjadi penting karena akan membawa suatu umat itu melangkah. Pemimpin yang baik akan membawa umatnya kepada kebaikan. Sedangkan pemimpin yang buruk bisa menjerumuskan umat kepada jurang kehancuran.

kalender

Tanggung jawab yang besar ini sebanding dengan keutamaan pemimpin itu sendiri. Menurut hadits ,bahwa pemimpin yang adil merupakan salah satu golongan dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Rasulullah. Namun sebaliknya, pemimpin yang zalim, maka akan lebih dulu dimasukkan ke neraka.

Melihat tanggung jawab yang besar ini, maka fenomena mengenai banyaknya yang ingin menjadi pemimpin bangsa, bisa dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, bisa jadi dikarenakan kader pemimpin bangsa ini tidak ada habis-habisnya. Namun di sisi lain, bisa berarti banyak yang menganggap remeh peran pemimpin. Pemimpin dianggap sebagai jenjang karir, bukannya amanah. Logikanya, jika mengemban amanah suatu bangsa yang banyak rakyatnya di bawah garis kepemimpinan, tentu akan sangat berat. Jadi alangkah gagahnya jika ada orang yang bersedia mengajukan diri menjadi pemimpin di tengah banyak masalah yang mendera bangsa ini.

Mengingat banyaknya calon pemimpin, maka dituntut kejelian dari kita untuk memilih yang terbaik. Islam sendiri tidak memiliki bentuk cara tertentu untuk memilih pemimpin. Karena itu, pemilihan berdasarkan musyawarah dan pengambilan suara merupakan suatu yang sah-sah saja. Namun dalam sistem demokrasi, suara pemilih yang rasional dan tidak dianggap sama saja, alias hanya dihitung satu suara. Oleh karenanya bahwa memilih pemimpin merupakan suatu hal yang wajib. Jangan sampai pemimpin yang terpilih merupakan pemimpin yang tidak amanah dikarenakan banyak orang baik yang tidak ikut memilih.

Karena itu, pemilih harus mengetahui siapa yang dipilih. Kita bisa melihat dari rekam jejak calon pemimpin itu. Bisa dilihat apakah calon tersebut sesuai dengan syarat-syarat pemimpin yang baik. Semua sepakat dalam mencalonkan memilih ini adalah seiman. Jadi usahakan untuk memilih calon pemimpin yang seiman, karena memiliki dasar dan pijakan yang sama, yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. Hal ini dikarenakan pemimpin umat merupakan Ulil Amri, jadi harus berpijak dari dua sumber hukum Islam terebut.

Sebagian ulama malah  menganjurkan untuk pemilih agar menggunakan hak pilih untuk menentukan pemimpin. Namun sekiranya jika sekiranya tidak ada yang sesuai kriteria dari calon pemilih, maka pilihlah calon yang paling sedikit buruknya. Hal ini dikarenakan kekosongan pemimpin akan jauh lebih berbahaya.

Setelah terpilih, bukan berarti tanggung jawab pemilih selesai. Umat wajib untuk mengontrol kinerja pemimpin. Jika melenceng dari amanah, maka umat juga wajib menyampaikan kritik. Menurut, kritik ini bisa disampaikan dalam berbagai hal. Misalnya lewat mekanisme kenegaraan, misalnya lewat dewan perwakilan rakyat. Namun kritik juga bisa dilakukan lewat hal lain, misalnya lewat media, bahkan lewat demonstrasi. Namun demonstrasi ini harus diwaspadai, jangan sampai ditunggangi pihak tertentu dan jangan sampai berujung pada aksi anarkis.

Kepemimpinan merupakan sesuatu hal yang penting, apalagi bagi umat Islam. Pemimpin yang baik bahkan bisa dikenang sepanjang masa, seperti para Khulafaur Rasyidin , Umar bin Adbul Aziz, atau Salahudin Al Ayubbi. Namun pemimpin yang buruk bisa juga berujung kesengsaraan karena ketidakpeduliannya pada masalah-masalah bangsa. Kebijakan pemimpin yang buruk pasti akan menguntungkan golongannya sendiri, dan merugikan umat. Karena itu, memilih pemimpin merupakan hal yang wajib dan tidak bisa disepelekan. Wallahu’alam .[ ]

*Penulis adalah pendidik, pegiat dakwah dan penulis buku.

 

Editor: iman

Ilustrasi foto: pixabay

 

Bagi pembaca yang  punya hobi menulis dan ingin dimuat di www.percikaniman.id bisa mengirimkan tulisannya  ke email: redaksi@percikaniman.id atau: mapionline2015@gmail.com  . Jadilah pejuang dakwah melalui tulisan-tulisan yang inspiratif,motivatif dan edukatif serta penyebar amal saleh bagi banyak orang. Bergabunglah bersama ribuan pembaca dalam menebar kebaikan.

 

FacebookTwitterGoogle+WhatsAppLineGoogle GmailTelegramPinterestYahoo MessengerYuk, Bagikan agar Menjadi Amal Jariah

Leave a Comment